Home Mimbar Ide Membela Gagasan Anies Baswedan

Membela Gagasan Anies Baswedan

0

Oleh : Wahyudi Akmaliah*

Tidak sedikit yang nyinyir terkait dengan rencana APBD yang dibuat oleh pemda DKI di bawah kepemimpinan Anies Baswedan, salah satunya terkait dengan rencana penganggaran pembelian lem aibon dengan jumlah 82 miliar. Ketika dikritik dan sampai di publik informasinya, Dinas Pendidikan DKI mengaku kalau itu salah ketik. Namun, banyak publik yang tidak percaya kalau itu salah ketik.
.
.
Saya pribadi sangat percaya. Ini karena Anies Baswedan didukung oleh sejumlah ahli dibidangnya dalam Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) berasal dari orang-orang ahli dibidangnya. Misalnya, ada Bambang Widjojanto mantan ketua KPK, Marco Kusuma mantan Direktur Rujak yang mendalami isu urban dan perkotaan, dan ada aktivis HAM Nursyahbani katjasungkana. Selain itu mereka juga didukung dengan dana yang besar yaitu 18, 9 milliar.
.
.
Dengan gaji yang cukup besar dan orang yang pengalaman dibidangnya, kerja-kerja mereka pasti sungguh serius dan benar-benar. Dengan demikian kesalahan ketik dengan uang sebesar itu sudah pasti karena kelalaian orang yang mengetiknya di tengah kerja-kerja serius mereka membangun Jakarta untuk memajukan kotanya dan membahagiakan warganya. Selain itu, kerja-kerja mereka tidak bisa dibandingkan dengan era gubernur jokowi dan Ahok sebelumnya. Ini karena, orang-orang Jakarta yang telah memilih Anies-Sandi bukan karena rekam jejaknya melainkan karena agamanya. Nilai ini yang harus dilihat dan diperhatikan.
.
.
Persis di sini orang-orang masih berharap bahwasanya Anies bisa membereskan Jakarta. Padahal, kalau melihat proses pilkada DKI kemarin kita tahu bahwasanya yang terpenting dari membangun Jakarta adalah bukan kerja, kerja dan kerja, melainkan juga harus memiliki gagasan. Salah ketik adalah salah satu gagasan yang memungkinkan orang kemudian berpikir dan mempertanyakan untuk apa uang 82 milliar untuk membeli lem aibon.
.
.
Melalui proses berpikir dan mempertanyakan inilah memungkinkan Anies memiliki gagasan yang bisa diperbincangkan; sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Jokowi sekalipun. Selain itu, dengan adanya gagasan yang diperbincangkan ini, kita semua memiliki bahan obrolan di media sosial sekaligus bahan hiburan di tengah realitas kehidupan yang membuat kita pahit. Jadi bersyukurlah, karena memiliki pemimpin yang membuat kita memiliki kekayaan gagasan. Sebab, daripada kerja membuatmu melakukan kesalahan, lebih baik tidak melakukan apa-apa. Ingat juga kata pepatah, “ketika ada orang lain bisa melakukannya, mengapa mesti kita? “.

*) Penulis adalah peneliti LIPI

Facebook Comments