Home Mimbar Ide Prof Farida dan Im(a-u)nitas Corona

Prof Farida dan Im(a-u)nitas Corona

0
M. Nursal
ADVERTISEMENT

Oleh : M.Nursal*

MataKita.co, Di tengah gelombang ketidak percayaan rakyat atas kebijakan Covid 19 semakin meninggi, terserak kabar Prof Farida Patittingi terasuk virus corona. Beliau Dekan FH-UH. Rupanya mikroba ini, semakin mendekati orang-orang terdekat. Gonta-Ganti tindakan pemerintah tak juga mengenyahkannya. Penyakit ini terus menjangkiti ruang-ruang terbuka di saat pemerintah menutup pintu informasi wilayah penyebarannya.

Saya tak tersentak, ketika ihwal virus ini menjalari tubuhnya. Karena Dia wanita yang membakti dermakan hidupnya untuk kebaikan. Lalu-lintas pengabdian itulah yang berpotensi mengkontaminasi jasadnya. Apatah lagi, tiba-tiba WHO mengumumkan si corona bisa menular lewat udara. Potensi berjangkitnya semakin besar. kepada siapa pun. Rasa-rasanya virus ini semakin kuat saja, di kala limpahan anggaran memorsikan dirinya.

ADVERTISEMENT

Kepastian status positif corona di sandangnya setelah menjalani serangkaian pemeriksaan. Rapid Test maupun swab. Prosedur yang akhir-akhir ini dihujat oleh Netizen. Menyusahkan dan sia-sia. Terutama rapid tes yang hanya menghasilkan output, reaktif atau tidak reaktif. Bukan positif atau negatif. Konon, bahkan manusia yang influenza pun bisa reaktif jika dirapid test.

Prof Farida memang positif corona. Tetapi pemikiran hukumnya tak selegisme virus itu. Di hukum agraria, ia selalu menyerukan perlindungan hukum bagi masyarakat yang telah lama menguasai bidang tanah. Ia menepis pandangan bahwa masyarakat yang tak memiliki sertifikat tidak bisa dilindungi oleh hukum. Justru penguasaan tanah/wilayah pesisir secara terus-menerus adalah alas pijakan menerbitkan sertifikat.

Pemikiran hukumnya pasti terus menggaung. Walau Positifisme corona ini membuat ia berdiam mengisolasi diri. Setelah tumpukan kesibukan mendakunya. Mulai Dari Dekan, kordinator dekan FH se-Indonesia, guru besar, aktifis perempuan, sosial ke-agamaan. Sepertinya beliau memang butuh istrahat. Dan virus ini, cara Allah SWT merehatkan sejenak tubuh dari gumulan kebajikannya.

Sembari beristirahat, mungkin ada baiknya memutar memori yang lalu. Masa ketika Jauh tahun sebelum corona datang. Saat itu, beliau berniat meneruskan kemajuan pendahulunya. Menominasikan diri menjadi Dekan. Ia meminta saran alumni muda yang pernah berprestasi akademik, juga pada fungsionaris lembaga mahasiswa. Sebenarnya, inilah bentuk ketawadhuan beliau. Mendengar saran dari semua pihak. Meskipun dari alumni muda yang masih cecunguk dan bau kencur dalam kepemimpinan. Pemimpin memang harus banyak mendengar, bukan banyak bacot.

Ia sempat pesimis. Kedudukannya sebagai perempuan membuat jalan pendakiannya sempit. Tak seperti lelaki yang kadang jalurnya melebar. Tetapi niat baik selalu menemukan pijakannya. Humblesitas personnya melapangkan jalan ke puncak pimpinan. Ia menjadi Perempuan kedua yang duduk di kursi dekan kampus merah itu.

Meskipun singgasana kekuasaan direngkuhnya selama dua periode, tapi Ia tak mengayuh badik permusuhan. Ia tak menikam hak-hak dan kesempatan mengabdi kepada oposannya. Diberikannya peluang yang sama untuk para dosen. Walau diantaranya, ada yang menentukan sikap untuk tetap berada diluar garis kekuasaan.

Mungkin raganya perempuan tetapi ia teguh dalam kebijakannya. Tidak mencla-mencle. Sekali menentukan target, ia tak berhenti sebelum menggapainya. Semisal ketika ia memoles tembok-tembok fakultas dengan kemegahan. Terutama kamar kecil (WC) yang sudah menahun menyengat hidung akademika. Dari hal kecil itu pula ia merambah ke sesuatu yang lebih besar. Membangun infrastruktur dan Suprastruktur. Fisiknya diper-indah agar se-elok kualitasnya.

Sikap Prof Farida itu, Berbanding terbalik dengan langkah pemerintah yang simpang-siur menangani corona. Mulai dari memandang enteng-remeh. Lalu menabuh genderang-perang. Tiba-tiba menaikkan bendera putih perdamaian. Kemudian mendeklarasikan keadaan normal tetapi diam-diam memasang strategi gerilya. Andaikan corona itu manusia, ia mungkin akan mati kebingungan melihat kebijakan pemangku negara yang konsisten dalam ketidak-konsistenannya.

Namun kita tak perlu ikut bingung dan khawatir atas hasil swab prof Farida. Imun beliau setangguh tekadnya. Virus ini tak akan merampas kepercayaan dirinya. Segetir apapun ujiannya, setahu saya, ia selalu mengayuh langkahnya dengan senyum. Tak menaruh beban itu di wajahnya. Seperti lirik lagu “kotak” yang pernah ia dengar di kala sore hari, puluhan tahun silam, :

Tik tik tik
Waktu berdetik
Tak mungkin bisa ku hentikan
Maumu jadi mauku
Pahitpun itu ku tersenyum

Senyumnya itulah yang mengekarkan Imun. Kekuatan tubuhnya bukan hanya dari panganan sehat dan sportifitasnya. Tetapi juga terbentuk dari prasangka-prasangka yang baik. Serta komitmennya meng”adu”kan diri pada Ilahi. Itulah Iman. Ia pasti berlindung dari marabahaya dengan mukenanya yang suci dan sajadahnya yang empuk. Sepintas terlihat kedua benda itu tertata rapi di sudut ruangannya. Selain itu, Imannya tergambar dari tutur katanya yang lunak. Lisan yang Tak akan menyakiti siapapun ketika ia terlontar ke berbagai penjuru telinga.

Beliau sadar, Sesungguhnya iman itu membentuk imun. Tertoreh dalam sebuah konferensi yang dihadiri ratusan dokter. 99% praktisi kesehatan memberikan testimoni ilmiah bahwa pasien yang menghambakan batinnya dalam sholat, akan membentuk lapis-lapis kekebalan tubuhnya. Sholat menciptakan ketenangan hati sehingga menguatkan imun. Sebab Kegelisahan dan gunda gulana ikut menghancurkan imunitas. (Nadia Thayyarah, halaman 54)

Adigium : Iman adalah sumber imun, sebenarnya kebenaran postulat, yaitu kebenaran yang tidak memerlukan bukti empiris. Tak ternalar oleh akal, bagaimana organ-organ tubuh menjadi kuat ketika diajak bertasbih dalam sholat. Mungkin itu rasa syukurnya karena di ajak oleh empunya tubuh untuk bertahmid pada Penciptanya.

Seperti halnya imun, Andai saja kebijakan covid ini ditopang oleh iman, bukan citra popularitas atau politis mungkin virus ini telah lama berpamitan. Kembali menghadap pada Sang Khaliknya. Atau jangan-jangan penyakit ini telah menghilang tapi ada virus lain yang menjangkiti iman kekuaasaan. Yaitu kemunafikan dan keserakahan. Semoga tidak.

Yang patut diyakini dari semua musibah ini, insya Allah Corona hanya menjeda sibuk Prof Farida Patittingi. Beliau orang baik. Sepanjang jalan kariernya, ia banyak menanam budi. Dan Dari benih itulah terpintal banyak doa-doa yang Mengharu-birukan penduduk langit. Lalu mengetuk IradhoNya, agar anugerah keSyifaanNya menghinggapi fisiknya. Cepat sembuh Ibunda. Syafakillah.

*) Penulis adalah alumni Fakultas Hukum Unhas

Facebook Comments
ADVERTISEMENT