Home Mimbar Ide Pembangkang Politik Itu Bernama K-Poppers!

Pembangkang Politik Itu Bernama K-Poppers!

0
Ilustrasi
Advertisement

Oleh : Wahyudi Akmaliah*

Tidak sedikit yang mengejek penggemar K-Pop. Selain dianggap alay, memiliki selera musik rendah mengenai musik, K-Popers ini dianggap terlalu fanatik terhadap girls band yang hanya mengandalkan tarian. Kehadiran Boysband yang memiliki kecenderungan maskulin lunak (soft masculinity), dianggap terlalu feminim untuk sebuah grup band. Tidak hanya itu, penampilannya yang selalu ramai-ramai membuat penggemar musik lain menganggap itu bukan grup musik, melainkan sekadar festival dansa yang mengandalkan kemampuan bernyanyi lipsink.

Namun, dibalik anggapan miring tersebut, K-Popers ini justru memperlihat wajah keterlibatan politik di mana mereka berada. Kemampuan untuk membuat tagar, mengorganisir massa secara online kepada penggemar K-Popers lain di seluruh dunia, segmen usia mereka yang relatif muda, dan melek dunia digital untuk mengakses informasi yang terkait dengan para penggemar k-Pop mereka, membuat kehadiran mereka tidak bisa dikesampingkan sebagai pengemar boysband/girlsband alay. Dalam kampanye perlawanan online, justru kehadiran mereka yang menentukan dengan sangat baik bagaimana perlawanan itu dilakukan.

Ada dua contoh yang bisa saya tunjukkan di sini. Pertama, perlawanan dengan sabotase terhadap kampanye Trump di Tusla Oklahoma. Penggemar K-Poppers di Amerika Serikat membikin video bagaimana memesan tiket gratis itu untuk kampanye Trump untuk mengisi semua kursi, tapi mereka sendiri tidak datang. Video ini kemudian disambut oleh penggemar Tiktok yang kemudian tersebar kepada pengguna k-Poppers lainnya. Hasilnya, saat kampanye Trump pada 20 Juni 2020, banyak kursi kosong. Tindakan ini tentu saja sangat memalukan kampanye untuk Trump sendiri.

Kedua, organisasi massa K-Poppers Indonesia melalui tagar online. Saat 4 Oktober 2020 Omnibus Law dibahas. Tagar mengenai itu isu itu masih sangat sedikit. Di sini, K-Poppers kemudian meramaikan tagar #omnibuslaw pada 5 Oktober 2020. Tagar ini yang kemudian trending secara internasional. Di sini, menurut Ismail Fahmi, tagar itu tidak akan jadi trending tanpa adanya organisasi massa online oleh para K-Poppers. Tagar yang trending ini yang kemudian mempengaruhi dunia online sekaligus maya ketika omnibus law ini benar-benar disahkan.

Di sini, K-Poppers benar-benar memaksimalkan fungsinya sebagai bagian dari warganegara Indonesia untuk bersuara untuk menyatakan sikap politiknya yang didukung oleh pendukung K-Poppers internasional lainnya sebagai bagian dari kosmopolitanisme warga dunia. Di sini, kecintaannya kepada penggemar K-Pop tidak menyurutkan bagaimana kecintaan mereka kepada Indonesia, tempat di mana tumbuh dan besar.

Jika melihat ini, sikap fanatisme K-Poppers ini sebenarnya menunjukkan kesamaan dengan grup musik lainnya, khususnya yang berbau maskulin seperti Rock, Metal, Funk, dan yang lainnya. Meskipun sangat berbau pop dan terlihat anti-politik, justru mereka menunjukkan sikap politik yang sesungguhnya di luar asumsi umum banyak orang. Mereka mengorganisir diri secara online dengan melakukan penterjemahan isu-isu tagar yang terjadi di Indonesia kepada penggemar K-Poppers internasional lainnya agar menjadi bagian dari isu yang mereka suarakan. Kondisi ini yang memungkinkan tagar isu ini terus bertengger dalam dunia maya.

Tidak berhenti di sini, tidak sedikit dari K-Poppers yang juga turut ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka. Harus diakui, jauh sebelumnya, mereka ini sebenarnya sudah mengorganisir diri secara online terhadap isu-isu kemanusiaan. Sikap ini juga bagian dari cerminan dari grup musik K-Pop idola mereka. Tidak hanya mengorganisir melalui sumbangan, melainkan juga menyatakan sikap politik yang ditunjukkan oleh beberapa grup boysband dan girlsband. Dari sini, kesadaran politik mereka dibentuk dan media sosial benar-benar menjadi medium bala tentara mereka untuk terus bersuara menyatakan posisi politiknya kepada kebenaran, yaitu kemanusiaan.

*) Penulis adalah peneliti LIPI

Facebook Comments
ADVERTISEMENT