Home Mimbar Ide Mitigasi Iklim Penyiaran

Mitigasi Iklim Penyiaran

0
Andi Muhammad Ilham
ADVERTISEMENT

Oleh : Andi Muhammad Ilham*

DR. Edward Norton Lorenz dari Massachusetts Institute of Technology (Amerika) seorang pakar klimatologi, menemukan formula yang disebutnya sebagai “chaos theory” yang juga dikenal dengan istilah “The Butterfly Effect” terinsprasi pada kepakan sayap kupu-kupu di Brasil bisa menyebabkan bencana angin tornado di Texaz ( berjarak sekitar 7240 km). Jauh melebihi jarak Indonesia dari Aceh ke Papua ( ± 5000 km). Disebut juga “chaos theory”, yakni perubahan yang bahkan tak terdeteksi sejak dini, namun mempengaruhi sistem secara sedikit demi sedikit menimbulkan efek yang signifikan pada momentumnya pada terjadinya perubahan (perburukan).

Kondisi kekinian kita terkait iklim penyiaran juga terus bermetamorfosa seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Undang-undang Penyiaran  yang ditetapkan tahun 2002 sebagai inisiatif DPR RI saat itu , sudah saatnya mengalami peninjauan untuk mengimbangi era dgitalisasi hingga konvergensi media dewasa ini. Sehingga efek buruk yang berpotensi hadir ke ruang publik akibat konten siaran penting untuk dicegah sejak awal.

Advertisemen

Terkait upaya tersebut telah pernah digugat pertengahan tahun 2020 yang lalu ke Mahamah Konstitusi oleh RCTI dan iNews TV. Penggugat mengajukan konsesi terkait ruang lingkup penyiaran agar mencakup penyelenggara jasa layanan audio-visual over-the-top (OTT) atau platform digital berbasis internet. Namun permohonan tersebut ditolak oleh Putusan MK Nomor 39/PUU-XVIII/2020, yang dengan sendirinya mereduksi OTT sebagai bagian yang belum diatur dalam UU Penyiaran tahun 2002, sehingga tidak menjadi ranah monitoring dan pengawasan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

UU Penyiaran  sendiri sejak tahun 2010 sudah hendak direvisi bahkan hampir setiap tahun menjadi skala prioritas pada pembahasan program legislasi nasional (Prolegnas) di DPR. Prof. Judharsawan yang juga pernah menjadi ketua KPI Pusat, di beberapa kesempatan menyampaikan kegentingan dan kemendesakan upaya penyesuaian kondisi kekinian pada konstalasi kontekstual kondisi penyiaran yang telah terjerembab pada fakta dan iklim globalisasi penyiaran dewasa ini. Terkhusus pada maraknya media baru (khususnya berbasis internet) telah menampilkan beragam macam konten yang tidak sedikit konten siarannya jauh dari Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).

Demokratisasi penyiaran yang menjadi prinsip pada pemenuhan hak publik sangat penting jadi pegangan bagi segenap pelaku industri pengguna gelombang frekuensi di udara ini. Pemilik radio dan televisi yang telah mendapatkan izin dari negara wajib patuh pada P3SPS yang kemudian diatur oleh KPI sebagai perwakilan kepentingan masyarakat terhadap hak-hak publik pada dunia penyiaran.

Momentum Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) pada tanggal 1 April 2021 akan diusatkan di Kota Solo. Menjadi napak tilas 88 tahun silam sebagai tonggak awal berdirinya radio siaran usaha radio ketimuran (anak bangsa) yaitu Solosche Radio Vereniging (SRV). Dimana radio-radio sebelumnya adalah radio dengan pemberitaan dan siaran mengawal kepentingan penjajah Belanda di bawah kendali Nederlandsch Indische Radio Omrop Masstchapyj (NIROM).

Semangat kebangsaan yang telah berkobar sejak 1908 dan semangat sumpah pemuda 1928 dikatalisasi oleh wakil-wakil radio ketimuran yang kemudian berhimpun dalam Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK).  Menjadi tonggak penyebaran kepakan sayap frekuensi udara oleh PPRK ini yakni Solossche Radio Vereniging (SRV) di Solo, Mataramse Verniging Voor Radio Omroep (MAVRO) di Yogyakarta, Vereniging Oosterse Radio Luisteraars (VORL) di Bandung, Vereniging Voor Oosterse Radio Omroep (VORO) di Yogyaarta dan Chineese en Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oost Java (CIRVO) di Surabaya. Radio telah mengambil momentum mengepakkan sayap ke seluruh negeri untuk menyulut semangat kemerdekaan yang menggemakan frekuensi dengan gegap gempita dengan teriakan “merdeka”.

Media penyiaran lainnya yakni  televisi sebagai siaran melalui layar kaca akan memasuki momentum digitalisasi sesuai amanat UU cipta kerja yang salah satu klusternya terkait penyiaran. Telah mengamanatkan migrasi TV analog menjadi digital (analog swtich off / ASO) sehingga dengan sendirinya diharapkan mampu memberikan layanan berkualitas tidak hanya pada wujud tampaknya yang jernih di layar kaca. Namun juga dapat diterima pada seluruh topografi pada bentang alam Indonesia dengan negara kepulauan dengan gunung dan ngarai. Masih adanya blank spot area sehingga belum menikmati siaran dari stasiun pemancaran lembaga penyiaran.

Perjalanan penyiaran yang dimotori oleh radio dan televisi, sejak era kolonial di bawah kendali NIROM hingga kini di era digitalisasi terus mengalami dialektika pada hubungnnya dengan kepentingan masyarakat. Demikian pula pada siaran televisi menyambut ASO akan mematikan televisi analog menjadi TV digital di bulan November tahun 2022 turut memberi andil pada peluang hadirnya lembaga penyiaran baru (diversity of ownership) dengan dibukanya beberapa kanal secara multipleksing (Mux). Era baru iklim penyiaran dengan hadirnya Mux dapat menampung delapan hingga lebih stasiun TV setiap kanalnya tentu akan melahirkan produktifitas dalam berkompetisi pada hadirnya keberagaman program (diversity of content) untuk segenap aspek baik sosial, ekonomi, pendidikan dan laiinya.

Semoga dengan momentum Harsiarnas tahun 2021 ini kita sinergi bersama sebagai upaya “mitigasi” terhadap perubahan iklim penyiaran.  Segenap komponen bangsa menghadapi tantangan media penyiaran ke depan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menjadi makin bijak memberikan tontonan bagi segenap generasi. Dengan mengedepankan fungsi penyiaran sebagai perekat keutuhan bangsa, penyebaran informasi dan edukasi akurat berkualitas, serta hiburan yang sehat demi kebersamaan dan menggembirakan menghadapi tantangan global terhadap dunia penyiaran.

Selamat Hari Penyiaran Nasional

*) Penulis adalah Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Sulawesi Selatan

Facebook Comments
ADVERTISEMENT