Home Mimbar Ide Atas Nama Nisan

Atas Nama Nisan

0
Rahmat Mubarak (kanan)
ADVERTISEMENT

 Oleh: Rahmat Mubarak*

Cak Nun pernah bilang, “Saya sudah berkeliling di Jawa dan Sumatra, di Tinambunglah saya ketemu dengan jenis ajaran tasawuf tertua

Tidak ada ziarah massal tahun ini.  Kerumunan orang tidak akan datang mengepung pemakaman setelah salat Asar pada hari Raya di kampung saya, Tala-Tala, Pangkep. Ia merupakan hulu asal seluruh pengusaha Sop-Saudara yang tersebar di seluruh Indonesia.

Advertisemen

Mestinya, mudik kali ini jauh lebih meriah setelah sebelumnya ditiadakan. Ups. Ternyata, yang lalu dan kini sama saja. Sama-sama sunyi. Ini menyusul himbauan pemerintah yang melarang orang untuk bepergian selama 12 hari. Terhitung mulai 6 sampai 17 Mei 2021.

Maka bayangkan, betapa pengusaha Sop-Saudara dan keluarganya di perantauan akan kecewa. Himbauan pemerintah membuat mereka dua tahun berturut-turut tidak bisa menikmati suasana lebaran di kampung. Juga, ziarah ramai-ramai ke makam leluhur mereka.

Pendiri kampung Tala-Tala adalah seorang pangeran kesultanan Gowa yang memilih jalan hidup yang papa. Ia  bekerja sebagai petani sambil mendakwahkan Islam. Sayangnya, sudah tidak ada lagi yang tahu siapa gerangan nama pangeran itu.

Tentang dakwah Islam, sejauh ini masyarakat Sulawesi Selatan juga Barat, umumnya mengisahkan bahwa ketauhidan lokal mereka terhadap Dewataseauae baru mulai tergeser pada 1605. Hal ini ditandai dengan peristiwa saat I Malingkang Daeng Manyonri–Raja Tallo ke-13–resmi masuk Islam atas usaha tiga ulama Minang.

Padahal, 180 tahun sebelumnya, Jumadil al-Kubro–ayah dari Sunan Gresik–sudah tiba di Sulawesi. Beliau menetap, berdakwah, dan meninggal di Wajo pada 1425.  Kontak muslim dan Sulawesi juga ternyata sudah diungkap seorang penjelajah Persia bernama Sulaiman As-Sirafi pada 843 M.

Bukti perjumpaan itu juga bisa dilihat dari nisan kuno bekas panggung peradaban Islam di sebuah desa pesisir di Kabupaten Mamuju.

Atas kenyataan itulah, teman diskusi saya Muhammad Yusran Al-Gifari berpendapat bahwa Sulawesi sudah sejak lama ber-Islam. Begitu saya desak sumbernya,  Yus menghilang.

Di tenda pengungsian, kerumunan orang berdesak-desakan.  Tidak ada jaga jarak; tidak ada Covid-19. Mamuju baru saja diguncang gempa. Meskipun, guncangannya tidak sehebat gempa Palu-Donggala.

Dari luar tenda, Yus muncul dengan menenteng tas.

“Kau tau Cak Nun, Mat?” katanya.

“Cak Nun pernah bilang saya sudah berkeliling di Jawa dan Sumatra, di Tinambunglah saya ketemu dengan jenis tertua ajaran Tasawuf.”

Sebagai catatan, Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun itu memang dekat dengan salah satu tokoh kebudayaan Tinambung, Polewali Mandar. Beliau adalah Ibu Cammana. Orang-Orang membayangkan mereka seperti anak dan ibunya. Sebagaimana hubungan anak dan ibu, Cak Nun seringkali berkunjung ke sana.

Dengan enteng Yus menyimpulkan nisan-nisan di Desa Dungkait itu berasal dari abad pertama Hijriah.

Menggambarkan satu Hijriah, ada baiknya kita ingat tayangan MNC TV pada abad 15 awal di hutan Jawa yang sunyi. Juga, ular, tabib, guru,  ramu-ramuan, bola hitam, dan bola api untuk membidik Kian Santang, putra dari Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang. Tak ada Ovo dan Go-Jek, kesaktian Dek Kian Santang yang setiap saat bisa menghilang, tentu melebihi itu.

Namun jauh sebelumnya, sudah ada Ratu Kalingga yang hendak memenggal kepala anak kandungnya karena telah menyentuh tumbukan emas di tengah Kota Kalingga.

Tumpukan emas itu, konon, menurut Buya Hamka adalah emas yang diam-diam disimpan oleh utusan Muawiyah. Ini dilakukan untuk menguji komitmen Shima sebagai Ratu Kalingga yang dikenal adil itu. Maka, peristiwa ini dipastikan setelah 674 M saat Shima sudah menjadi ratu.

Jika benar tarikh makam di Dungkait berasal dari abad pertama Hijriah, seperti kesimpulan Yus tadi, apakah mereka juga adalah utusan Muawiyah? atau justru garis keturunan Rasulullah yang mencari Jalan lain dari konflik yang masih bergetar di Arab?

Tidak ada yang tahu benar. Sebab, bagi warga lokal saja komplek pemakaman ini masih  misterius.

Namun ternyata, dari profil nisan saya tahu bahwa rupa sebagian nisan yang ada di sini seperti kepakan sayap. Riset dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menyebut profil ini adalah jirat yang populer mulai abad ke-12. Baru pada abad ke-15 tren ini menjalar bahkan menjangkau Thailand.

Tercatat, dari penelitian itu Meurah Silu–sultan pertama Kesultanan Pasai–adalah pengguna awal profil nisan “Sayap-Bucrane-Aceh” ini. Sultan-sultan Pasai berikutnya memberi wadah kepada seniman untuk mengekspresikan kreativitasnya. Bahkan, oleh Sultan, mereka dihadiahi permukiman khusus.

Profil ini adalah lambang penggabungan antara kebudayaan Arab dan kebudayaan Nusantara. Disebut begitu karena kebudayaan Arab dalam hal penisanan hanya menggunakan batu tanpa tulisan dan profil apa-apa, polos saja. Sedangkan, Nusantara yang sudah sejak lama didiami umat Hindu dan Budha punya keterampilan spesial dalam hal seni rupa.

Celakanya, alih-alih mendapat ingatan khusus dari segala penjuru, kompleks permakaman ini justru jauh dari perhatian. Nisan-nisan seolah berebut tempat dengan rumah-rumah penduduk. Meskipun, tulisan Allah tergores jelas pada nisan sebagai simbol tegas identitas Islam. Namun, apa mau dikata, tak mungkin  penduduk memilih berebut tempat dengan kompleks kuburan tanpa alasan yang  kuat.

Garis motif pahatan nisan yang tajam, tegas, dan berbelok-belok seolah menghubungkan kita dengan gambar dan bunyi-bunyian masa silam. Nisan bukan hanya wajah personal. Lebih dari itu, nisan juga menandai sebuah sejarah panjang kebudayaan.

Kini, sudah Maret 2021. Juragan-juragan Sop-Saudara itu beserta anak-anaknya sekaligus tak ubahnya seperti saudagar-saudagar Arab yang datang dan tinggal menetap di perantauan. Jika begini terus, mereka akan mendaku diri tidak lagi sebagai orang Tala-Tala.

*) Penulis adalah mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Facebook Comments
ADVERTISEMENT