Home Ekologi Peta Perubahan Lahan Kawasan Mangrove di Dusun Tanroe, Pinrang

Peta Perubahan Lahan Kawasan Mangrove di Dusun Tanroe, Pinrang

0
Advertisement

Oleh : Idham Malik*

Pada tulisan beberapa hari sebelumnya, Saya telah menampilkan bahwa kawasan batas pantai Dusun Tanroe, Desa Bababinanga, Kec. Duampanua, Kab. Pinrang adalah kawasan mangrove, serta kawasan perikanan tangkap-bagian badan air, berdasarkan peta Rancang Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Sulawesi Selatan.

Hanya saja, berdasarkan peta yang kami susun, ternyata kawasan itu sudah terkonversi sejak 2015-2016, dibabat secara terang-terangan, namun dengan kebisuan luar biasa. Bukan saja satu tanah lapang yang terbentuk dari endapan sungai, tapi juga badan-badan tanah lain di sekitar situ, yang barangkali, karena menangkap sedimen dari mana-mana, menjadi begitu subur, dan begitu mudah menumbuhkan beragam jenis mangrove.

Pertanyaannya, lahan yang ditebang jauh sebelumnya antara 2015-2016 itu, kita mengamatinya kemungkinan adalah mangrove jenis Rhizophora. Apalagi terdapat bukti foto yang diambil oleh Andi Awal Campu pada survei awal di lokasi ini pada September-Oktober 2019. Menunjukkan masih adanya sisa-sisa penebangan, menunjukkan batang mangrove yang ditemukan adalah mangrove jenis Rhizophora.

Ketika melihat peta 2014 bersama Om Yusran Nurdin Massa, pakar mangrove dari Blueforest ini memperkirakan bahwa vegetasi mangrove yang ditebang pada 2015-2016 itu adalah jenis bakau/Rhizophora. Ia melihat dari sisi kerapatan, kerimbunan, dan barangkali karena sudah terbiasa melihat peta yang serupa, sehingga terjadi blink. Itu Rhizophora.

Jika Rhizophora, mungkinkah mangrove itu adalah hasil program rehabilitasi? Mempertimbangkan bahwa hingga kini program rehabilitasi masih dominan menggunakan bibit bakau/rhizophora. Juga mengingat luasan vegetasi dan tegakan, yang kurang mungkin dilakukan satu dua orang saja.

Sebab, jika dibiarkan saja sebenarnya, tanpa dilakukan intervensi penanaman, kemungkinan juga akan ditumbuhi mangrove, dalam hal ini adalah jenis Api-Api (Avicennia). Apalagi dengan membandingkan mangrove yang tumbuh alami beberapa tahun terakhir adalah jenis api-api. Bukan Rhizophora. Meski begitu, Rhizophora tetap dapat tumbuh, tapi melalui intervensi manusia, seperti yang dilakukan oleh perkumpulan pemuda Mangrove Brotherhood dalam tiga tahun terakhir, mengedukasi dan melakukan aksi penanaman mangrove di lokasi tersebut.

Hal ini pula yang perlu ditelusuri, jika betul dahulu kala kawasan tersebut merupakan kawasan rehabilitasi, pertanyaannya, siapa yang merehabilitasi? Apakah program pemerintah di jaman dahulu, barangkali tahun 2005-2007, ataukah hanya masyarakat setempat? Ataukah pelaku sendiri yang merehabilitasi, apakah mungkin seperti itu?

Lantas, setelah dilakukan penebangan dari 2015 itu, apakah ada yang memprotes? Setahu saya, isu pelarangan penebangan mangrove sudah cukup populer di Pinrang, sejak saya mulai wara wiri ke sana pada 2013 akhir. Waktu itu, saya mendengar seorang petambak di Suppa Pinrang mendapatkan sangsi sosial berupa pengucilan dan gosip lantaran petambak itu menebang mangrove.

Jika melihat lagi sejarah pertumbuhan mangrove, seperti di Suppa Pinrang, masyarakat maupun mungkin juga di dorong pemerintah, sudah mulai melakukan aksi-aksi rehabilitasi pada 1990-an, dimana pada 1997 rehabilitasi mangrove sempat dilakukan di sempadan pantai dan saluran irigasi sungai di Desa Tasiwalie, Kec. Suppa, Kab. Pinrang.

Hubungan-hubungan ini mengerucutkan asumsi/hipotesa, bahwa terdapat kekuatan/kekuasaan besar yang mampu melakukan  destruksi seperti ini, termasuk dampak psikologi berupa bungkamnya masyarakat. Sebab, logikanya, hanya kekuatan besarlah yang mampu membangun (merehabilitasi secara massif) dan juga yang mampu merusak/menkonversi secara massif.

Relasi-relasi kuasa ini masih mengakar kuat di berbagai daerah pesisir kita, sehingga tampaknya menyulitkan penegakan hukum secara tegas kepada para pelaku perusak ekosistem mangrove. Belum lagi masyarakat kita pada umumnya, masih menyimpan ketakutan-ketakutan sendiri, bahkan untuk sekadar berkata benar, sesuai kenyataan dan kata hatinya.

Meski begitu, Saya masih menyimpan keyakinan bahwa manusia pada dasarnya baik. Masih ada orang-orang, mungkin tersembunyi di balik-balik kekuasaan, yang mau melihat perbaikan, mau memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.

Saya membayangkan kekuatan-kekuatan yang melindungi aksi-aksi perusakan ekosistem pesisir, ataupun perusakan lingkungan sektor lainnya, ibarat sebuah balon yang semakin lama semakin besar, karena cukup banyak pihak yang meniupnya. Tapi, balon ini sebentar lagi kempes, atau mungkin meletus, ketika kita dapat bersama-sama menusuknya dengan jarum, yaitu dengan jarum kebenaran. Maka, kawan-kawan, beranilah berkata dengan benar. Paparkanlah kenyataan sebenar-benarnya.

*) Penulis adalah Aktivis Mangrove Brotherhood dan penggiat Aquaculture Celebes Community

Facebook Comments
ADVERTISEMENT