Beranda Mimbar Ide Pelecehan Seksual Di Dunia Kampus Ibarat Fenomena Gunung Es

Pelecehan Seksual Di Dunia Kampus Ibarat Fenomena Gunung Es

0
Muhammad Faridnan
ADVERTISEMENT

*Oleh : Muhammad Faridnan

Sampai kapanpun tindakan atau perilaku pelecehan dan kekerasan seksual adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan. Seperti yang terjadi belakangan ini kasus Pelecehan dan kekerasan seksual di dunia pendidikan kembali menjadi sorotan, pasalnya angka pelecehan seksual khususnya di lingkungan perguruan tinggi semakin meningkat selama masa pandemi. Atas dasar itu belum lama ini Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim telah mengeluarkan Peraturan Nomor 30 Tahun 2021 atau Permendikbud 30, tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Aturan ini diteken oleh Nadiem Makarim pada 31 Agustus 2021 dan mulai berlaku pada tanggal 3 September 2021.

Kasus Pelecehan seksual di kampus ibarat sebuah fenomena gunung es. Diibaratkan bagai fenomena gunung es karena angka kasus yang terjadi terbilang sudah sangat masif namun masih lebih banyak korban yang memilih untuk tidak melaporkan. Entah karena alasan takut karena diancam oleh pelaku atau memang karena korban sendiri yang memilih untuk bungkam karena malu dengan hal tersebut, namun apapun alasannya tindakan seperti ini seharusnya dilaporkan dan diusut hingga tuntas. Dunia kampus yang memiliki kesan aman-aman saja dari kemungkinan terjadinya tindak pelecehan, ternyata menyembunyikan banyak kasus yang bahkan tidak terjadi sekali dua kali saja. Pelecehan kerap kali dialami oleh mahasiswa serta insan kampus, pelakunya pun bukanlah orang luar kampus melainkan orang-orang yang memang menjadi bagian dari lingkungan kampus, seperti para dosen ataupun pejabat kampus.

Sebagian besar orang beranggapan bahwa korban dari kasus pelecehan dan kekerasan seksual hanya menimpa mahasiswi perempuan saja, namun pada kenyataannya mahasiswa laki-laki pun kerap menjadi korban dari pelecehan seksual. Laki-laki juga kerap menjadi yang dilecehkan dan wanita yang bisa menjadi pelaku pelecehan. Selain itu pelecehan seksual tidak hanya terjadi sebatas pada hubungan heteroseksual saja, namun kerap kali kekerasanpun terjadi pada hubungan sesama jenis.

Pelecehan seksual tidak hanya tentang penetrasi kelamin dan tidak hanya terbatas pada pemerkosaan dan pemaksaan korban untuk menuruti kemauan pelaku namun perbuatan dan pernyataan seperti menghina dan merendahkan seseorang serta melakukan perilaku diskriminatif gender atau seksis dapat dianggap sebagai pelecehan seksual, sebagai contoh misalnya seseorang mengupload foto mereka di jejaring sosial, lalu kemudian dikomentari oleh orang lain dengan kata-kata yang vulgar dan berbau seks, dan orang yang mengupload foto tersebut merasa risih dan terganggu maka itu juga dapat digolongkan kedalam pelecehan seksual. Pelecehan seksual ini merupakan sesuatu yang terjadi disaat seseorang menganggap orang lain sebagai obyek baik itu secara fisik, verbal maupun finansial dan orang tersebut merasa dirugikan.

Sebagian kalangan masyarakat menyalahkan korban pelecehan seksual dikarenakan menurut mereka korbanlah yang secara tidak langsung mengundang pelaku untuk melakukan tindak pelecehan karena dari cara berpakaian korban yang terbuka dan kebiasaan keluar saat malam hari. Namun hal tersebut terbantahkan dengan hasil survei yang terangkum pada artikel BBC News Indonesia bahwa dalam temuan survei, mayoritas korban yang mengalami pelecehan seksual di ruang publik justru tidak menggunakan baju terbuka yang mengundang syahwat lawan jenis, malah kebanyakan korban adalah orang yang menggunakan celana atau rok panjang (18%), mengenakan hijab (17%) dan memakai baju lengan panjang (16%). Selain itu hasil survei juga menunjukkan bahwa tindakan pelecehan dan kekerasan seksual justu kebanyakan terjadi pada siang hari (35%) dan sore hari (25%).

Bahkan didalam perguruan tinggi islam yang notabene semua mahasiswinya menggunakan hijab dan pakaian tertutup masih seringkali terjadi tindak pelecehan seksual. Hal tersebut setidaknya menjelaskan bahwa anggapan masyarakat selama ini salah dan keliru. Bahwa tidak ada korban yang mengundang untuk dilecehkan dan tidak sepantasnya korban disalahkan atas perilaku kejahatan yang dilakukan oleh orang lain. Perlu dipahami bahwa pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi murni karena niat dari pelaku yang juga tidak bisa mengontrol cara berpikir atau persepsi mereka.

Di dalam kampus sendiri faktor penyebab pelecehan seksual biasanya terjadi antara mahasiswa sebagai korban dan dosen sebagai pelaku, dimana karena adanya posisi tidak setara diantara keduanya sehingga pelaku dalam hal ini dosen atau pejabat kampus yang merasa bahwa dirinya memiliki posisi cukup superior dan mendominasi akan terus menerus memberikan tekanan pada korban yaitu mahasiswa sehingga korban menjadi tertekan dan akhirnya takut dan memilih untuk bungkam.

Tiap pribadi memiliki reaksi yang berbeda-beda, ada yang saat mendapatkan perlakuan tidak enak atau kurang ajar dari seseorang akan langsung menyuarakan dan melapor, ada pula yang memiliki reaksi freeze, diam dan tidak tahu harus berbuat apa, mereka umumnya merasa tidak berdaya dan lemah ketika berhadapan dengan ulah sebagian oknum dosen yang mesum dan cabul. Sebagai masyarakat, tidak sepantasnya juga kita memberikan stigma negatif dan penghakiman terhadap korban yang tidak bisa menyuarakan apa yang telah terjadi pada mereka. Hal itu dikarenakan selain reaksi orang yang berbeda-beda, seseorang yang mendapatkan perlakuan tidak senonoh seperti itu akan memiliki perasaan trauma dan menimbulkan rasa tidak nyaman dan penderitaan. Jika korban diam, maka tidak berarti korban menyetujui tindakan yang telah dilakukan pelaku.

Perlu kita sadari bersama bahwa hal ini adalah sesuatu yang sangat serius, pemberitaan tentang pelecehan seksual di dunia kampus membuat kita merasa miris. fenomena gunung es pada tindakan pelecehan seksual di kampus dimana angka korban yang melapor tidak sebanyak korban yang memilih bungkam, ini setidaknya dapat menyadarkan kita bahwa ada banyak korban bungkam yang memiliki rasa trauma dan penderitaan, sungguh tidak terbayangkan bila yang menjadi korban adalah orang terkasih dan terdekat kita.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan, misalnya melakukan pendekatan dan pengobatan traumatis demi pemulihan korban. Selain itu pelaku perlu ditindak dengan pemberian sanksi. Pembekalan terhadap semua civitas akademika kampus juga dibutuhkan. Misal, bagaimana menghadapi tindak pelecehan dan kekerasan seksual, serta mengubah cara pandang bahwa kekerasan seksual adalah sebuah masalah bersama. Korban tentunya mengalami kerugian material dan non-material sehingga korban perlu diberikan kompensasi atas perbuatan tidak menyenangkan yang telah dialami.

*)Penulis adalah Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Facebook Comments
ADVERTISEMENT