MataKita.co, Makassar – Krisis gagal panen yang melanda Desa Kajaolallidong pada 2025 menjadi peringatan serius terhadap kerentanan sektor pertanian di wilayah tersebut. Serangan hama dan penyakit jamur menyebabkan penurunan produktivitas padi secara signifikan, sehingga menggerus pendapatan petani sekaligus mengancam ketahanan pangan masyarakat yang selama ini bergantung pada hasil pertanian.
Dalam satu musim tanam, hamparan sawah yang biasanya menghasilkan panen melimpah berubah menjadi lahan dengan tanaman mengering dan malai yang gagal terbentuk. Kondisi itu diperburuk oleh serangan hama tikus yang merusak tanaman sejak fase awal pertumbuhan sehingga memperbesar risiko kerugian petani.
Hasil identifikasi di Gedung Genomik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa persoalan tersebut bukan sekadar serangan hama musiman. Analisis laboratorium menunjukkan keberadaan Scirpophaga innotata atau penggerek batang padi serta jamur Curvularia sp. penyebab bercak daun dan busuk bulir sebagai organisme endemik di Desa Kajaolallidong. Keberadaan organisme tersebut menyebabkan gangguan terhadap tanaman padi terus berulang dan sulit dikendalikan melalui metode budidaya konvensional.
Selain itu, tingginya populasi tikus memperparah tingkat kerusakan di lahan pertanian. Penggerek batang menghambat pembentukan malai, sementara infeksi jamur berkembang cepat pada kondisi lahan yang lembap hingga memicu pembusukan bulir menjelang panen. Kombinasi ketiga ancaman tersebut berdampak pada penurunan hasil produksi secara drastis.
Merespons kondisi tersebut, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UKM Kelompok Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin bersama Pemerintah Desa Kajaolallidong dan masyarakat mengembangkan program Mannennungeng sebagai strategi pemulihan pertanian berbasis sains dan teknologi.
Program tersebut mengusung inovasi Smart Hydro Loop, yakni sistem yang mengintegrasikan Integrated Crop-Livestock Systems (ICLS) dengan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT). Melalui pendekatan ini, limbah organik dari peternakan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas tanah, sementara sistem pengairan AWD mengatur kelembapan lahan secara lebih presisi sehingga mampu menekan perkembangan organisme pengganggu tanaman.
Sebagai bagian dari strategi adaptasi, petani juga didorong menggunakan benih padi Gamagora 7 yang memiliki kemampuan beradaptasi lebih baik terhadap cekaman lingkungan serta ketahanan terhadap serangan penyakit tanaman. Varietas unggul tersebut dipilih karena dinilai sesuai dengan karakteristik lahan di Desa Kajaolallidong yang selama ini menghadapi serangan hama dan penyakit secara berulang.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, program Mannennungeng diharapkan menjadi model pemulihan pertanian berbasis inovasi yang dapat diterapkan di daerah lain dengan permasalahan serupa. Integrasi varietas padi tangguh, pengelolaan tanah, serta sistem pengairan yang adaptif diharapkan mampu memutus siklus gagal panen, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat secara berkelanjutan.








































