Oleh : Andi Fauzan Mattalitti*
Xiao Hu bukan orang yang lahir dengan pedang di tangan. Ia datang ke Istana Kaisar Feng dengan dua tangan kosong dan satu tekad yang mungkin terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Tidak ada yang menyambutnya dengan upacara. Tapi ia masuk juga.
Bertahun-tahun ia menjadi tameng yang tidak pernah meminta upah di muka. Ketika Kaisar Feng perlu seseorang berdiri di garis terdepan, Xiao Hu ada. Ketika perlu seseorang menelan asap sebelum api sampai ke singgasana, Xiao Hu juga ada. Ia tidak pernah menghitung. Ia pikir itulah artinya setia.
Perang usai. Jarahan dibagi. Xiao Hu menunggu bagiannya dengan sabar, sebagaimana ia menunggu segala hal dalam hidupnya, dengan tenang dan tanpa banyak suara. Tapi bagiannya tidak kunjung datang. Yang datang justru utusan dari Padepokan Kung Fu Cuan Li He, sekumpulan saudara seperjuangan yang sebelum Xiao Hu pergi sempat menepuk bahunya dan berkata, “Tenang saja, Xiao Hu. Bagianmu akan kami jaga. Kami satu padepokan, satu darah.”
Rupanya darah mereka lebih mudah beku ketika berhadapan dengan angin dari arah singgasana.
Bukan hanya jarahan yang tidak sampai. Para saudara dari Cuan Li He itu bahkan datang mengetuk pintu Xiao Hu untuk menagih kembali sebuah kantong perbekalan kecil yang pernah diberikan untuk keperluan misi, misi yang Xiao Hu jalankan atas perintah Kaisar Feng sendiri. Xiao Hu membuka pintu, melihat wajah-wajah yang dulu ia anggap saudara, lalu menutup pintu kembali. Ia perlu waktu sejenak untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi. Sayangnya tidak. Mimpi biasanya lebih masuk akal.
Xiao Hu tidak marah. Atau lebih tepatnya, ia tidak punya cukup waktu untuk marah karena sedang sibuk melanjutkan hidup. Ia pergi dari Istana Kaisar Feng bukan karena kalah, melainkan karena ada istana lain yang lebih layak untuk ditinggali, dan ia sudah cukup lama tinggal di tempat yang atapnya bocor tapi pemiliknya mengaku istana terbesar di kolong langit.
Kini Xiao Hu duduk di beranda yang lebih tenang. Angin lewat, ia biarkan lewat. Ia mengambil gulungan bambu, mencelupkan kuas, dan mulai mencatat.
Siapa yang menepuk bahu tapi membalikkan badan lebih cepat dari angin. Siapa yang berjanji menjaga tapi ternyata menjaga diri sendiri lebih dulu. Siapa yang hadir saat Kaisar Feng butuh saksi tapi menghilang saat Xiao Hu butuh keadilan.
Ia tidak mencatatnya sebagai dendam. Lebih sebagai arsip sejarah.
Sebab Xiao Hu percaya pada satu hal yang tidak pernah berubah meski dinasti berganti: perbuatan, baik maupun buruk, selalu menemukan jalannya kembali. Bisa dalam satu musim, bisa dalam sepuluh tahun, bisa dalam bentuk yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Xiao Hu tidak perlu menunggu dan tidak perlu menagih. Ia hanya perlu terus berjalan.
Dan gulungan bambu itu akan tetap ada.
Beberapa berpihak pada singgasana. Sepersekian diam tapi mendoakan. Sedikit berani bersuara. Langka yang benar-benar turun tangan. Hitungan jari yang tetap setia sampai hari ini. Ambil tempatmu mau di mana, tentu Xiao Hu akan catat. Besok lusa, di gulungan bambu, satu per satu.
Kalau Kaisar Feng membaca ini, anggap saja angin lewat. Xiao Hu juga sudah lama belajar membiarkan angin lewat.
*) Penulis merupakan Mahasiswa Magister Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Kader IMM Korkom UNHAS, Pegiat di Kampus Gagasan dan co-founder gerakan literasi digital @publicchoice_id








































