Oleh : AM Iqbal Parewangi
(Pendidik & Pegiat Literasi. Alumni Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah Yogya, Fisika UGM, Pascasarjana Manajemen IPB. Ketua Badan Kerjasama Parlemen – Hubungan Internasional DPD RI 2014-2019)
Di era ketika perbedaan kecil mudah dibesarkan menjadi permusuhan, Syawalan Muhammadiyah-‘Aisyiyah justru terasa seperti teguran moral yang halus tetapi tajam: bahwa sesudah Ramadhan, yang diuji bukan hanya benar-salahnya hitungan, melainkan luas-sempitnya hati.
Mungkin ada yang mengira Syawalan hanyalah agenda pasca-Lebaran—sekadar halal-bi-halal, sekadar saling senyum, sekadar seremonial. Padahal, dalam tradisi Muhammadiyah, Syawalan jauh lebih dalam: ia adalah ruang untuk menjahit kembali ikatan sosial, merawat kehangatan organisasi, dan memastikan bahwa ketegasan ilmu tidak berubah menjadi kekerasan jiwa.
Praktik halal-bi-halal telah hidup di Muhammadiyah sejak awal 1920-an. Jejak istilah “Alal bi Alal” dapat ditemukan di Suara Muhammadiyah tahun 1924, lalu muncul bentuk “Halal bi Halal” pada 1926. Artinya, Syawalan bukan budaya tempelan, ia sudah lama menjadi bagian dari kecerdasan kultural Muhammadiyah dalam membumikan Islam modern tanpa kehilangan sentuhan manusiawinya.
Itulah sebabnya, dalam organisasi sebesar Muhammadiyah, Syawalan menjadi mekanisme keadaban sekaligus peradaban. Di usia 111 tahun Muhammadiyah sudah menunjukkan jaringan yang sangat besar: 5.345 sekolah dan madrasah, 20.465 lokasi aset wakaf, luas tanah 214.742.677 meter persegi, 440 pesantren, 1.012 amal usaha sosial, dan 30 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di luar negeri (Muhammadiyah, 2023).
Hal serupa tampak pada ’Aisyiyah. Sampai 2022, ’Aisyiyah—yang lahir 19 Mei 1917 dari embrio Sapa Tresna pada 1914—telah mengembangkan basis digital untuk 458 daerah dan 34 wilayah, sekaligus menumbuhkan kepemimpinan cabang istimewa di luar negeri. Pada 2025, jumlah Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah genap 38 setelah pengukuhan PWA Papua Pegunungan.
Artinya, ketika kita bicara Syawalan, kita sedang bicara tentang sebuah tradisi yang bekerja di dalam tubuh gerakan muslimin dan muslimat berkemajuan dengan skala nasional yang sangat besar.
Organisasi dengan infrastruktur sosial sebesar ini tidak cukup dipertahankan dengan mekanisme formal saja, ia juga perlu dirawat dengan pertemuan yang menghangatkan ruh kolektifnya. Syawalan merupakan salah satu cara Muhammadiyah menjaga agar tubuh gerakannya yang besar tetap memiliki denyut persaudaraan.
BEDA LEBARAN, LEBARKAN ADAB
Pada 1447 H, Syawalan memperoleh bobot lebih besar karena ia datang sesudah perbedaan penetapan 1 Syawal. Muhammadiyah menetapkan Idulfitri pada 20 Maret 2026 berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sementara pemerintah melalui sidang isbat menetapkannya pada 21 Maret 2026.
Perbedaan ini lahir dari dua unsur saintifik yang sangat rasional: standar astronomi dan standar teritori.
Muhammadiyah melalui KHGT memakai prinsip satu matlak global, dengan kriteria terpenuhinya elongasi 8° dan tinggi hilal 5° sebelum pukul 24.00 UTC. Data resmi Muhammadiyah menyebut parameter itu telah terpenuhi, termasuk di Makkah—dimana pada 19 Maret 2026 matahari terbenam pukul 15:34:04 UTC, dengan tinggi bulan geosentrik +06° 09′ 09″ dan elongasi geosentrik 08° 05′ 24″—sehingga 1 Syawal 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026.
Sementara pemerintah menetapkan 21 Maret 2026 karena berdasarkan hisab nasional tinggi hilal di Indonesia berada pada kisaran 0,91° sampai 3,13°, dengan elongasi 4,54° sampai 6,1°, dan disebut tidak ada laporan rukyat hilal yang berhasil.
Fenomena serupa tampak di tingkat internasional. Aidilfitri di Malaysia jatuh pada 21 Maret 2026, begitupun Hari Raya Puasa di Singapura karena bulan Syawal terlalu rendah di atas horizon Singapura menurut kriteria imkanur rukyah MABIMS. Sementara Mahkamah Agung Saudi dan European Council for Fatwa and Research menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026.
Jadi, perbedaan yang kita saksikan pada 1447 H bukanlah anomali Indonesia, melainkan cermin dari kenyataan global bahwa kalender Islam masih berada dalam persilangan metodologis. Penting digaris-bawahi bahwa beda Lebaran Ied Fitri 2026 pada dasarnya adalah beda metodologi, bukan perang iman.
Dalam konteks seperti itu, Syawalan justru makin penting, sebab ia mengajarkan untuk tetap bersaudara meski berbeda tanggal raya. Tetapi justru di sini jugalah kelas sebuah gerakan diuji: apakah sesudah berbeda ia makin gaduh, atau justru makin teduh?
Pada Syawalan PP Muhammadiyah di Yogya, Prof Haedar Nashir menegaskan bahwa dinamika perbedaan itu semestinya membuat warga Muhammadiyah “makin matang dan dewasa”, bukan mudah tersulut. Ia juga menyayangkan adanya beberapa pelarangan shalat Ied pada 20 Maret 2026 dan menegaskan bahwa perbedaan harus disikapi secara dewasa, termasuk oleh aparat.
Pesannya terang-benderang: jangan jadikan perbedaan tanggal sebagai alasan untuk merendahkan sesama Muslim. Sebab yang merusak umat sering kali bukan perbedaannya, melainkan ketidakmampuan mengelola perbedaan itu sendiri.
KETIKA ILMU TEGAS, ADAB HARUS LEBIH TEGAS LAGI
Puncak keindahan Syawalan justru tampak ketika Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah merespons polemik dengan kepala dingin.
Di Sulawesi Selatan, dalam Syawalan pada 28 Maret 2026, Prof Abdul Mu’ti—Sekretaris Umum PP Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah—mengajak umat berhenti dari debat kusir tentang “siapa paling benar” dan menggantinya dengan semangat fastabiqul khairat.
Ia menyebut perbedaan mazhab dan pandangan sebagai keniscayaan, lalu menawarkan tiga kunci kedamaian: menghindari sikap elitis, membersihkan prasangka buruk, dan menghidupkan silaturahim yang substantif. Kalimatnya sederhana, tetapi sebenarnya sangat radikal untuk zaman ini: silaturahim bukan sekadar hadir dan bersalaman, melainkan upaya tulus mengurai kekusutan dan menyambung kembali yang sempat terputus. Itu bukan nasihat lunak, itu strategi sosial yang cerdas.
Nada yang sama ditegaskan Ketua Umum PP ’Aisyiyah, Dr Salmah Orbayinah, pada hari yang sama di Universitas Muhammadiyah Surakarta, bahwa ketakwaan bukan sekadar nilai ibadah yang berhenti di ruang ritual, melainkan sumber kebaikan nyata dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Dengan demikian, Syawalan 1447 H memancarkan satu pesan jernih: Ramadhan tidak selesai pada takbir terakhir, ia harus diterjemahkan menjadi watak sosial—rendah hati, jernih berpikir, luas hati menerima perbedaan, dan siap memperkuat ukhuwah.
Karena itu, ketika muncul narasi bahwa keputusan awal Ramadhan dan Syawal oleh selain pemerintah adalah haram, Muhammadiyah tidak membalas dengan histeria. Prof Haedar Nashir merespons polemik itu secara lebih luas dan visioner: tafsir ulil amri, katanya, berlapis-lapis—bisa merujuk pada kekuasaan, pemimpin kolektif, ahli ilmu, dan ahli fikih—sehingga tidak layak dipakai secara simplistik untuk memukul pihak lain.
Di titik ini Muhammadiyah-’Aisyiyah memberi pelajaran mahal: ilmu boleh tegas, tetapi adab harus lebih tegas lagi. Otoritas boleh kokoh, tetapi jangan berubah menjadi alat membungkam ijtihad.
KEKUATAN BESAR PERLU HATI LEBIH BESAR
Semua ini penting karena Muhammadiyah bukan organisasi kecil yang berbicara dari pinggir. Ia adalah salah satu kekuatan sosial-keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan dalam percakapan publik global sering disebut sebagai salah satu organisasi keagamaan terkaya di dunia.
Situs resmi Muhammadiyah sendiri mencatat ramainya pembicaraan yang menempatkan Muhammadiyah di posisi keempat organisasi keagamaan terkaya di dunia, sementara pada 2025 Majelis Pendayagunaan Wakaf PP Muhammadiyah menerima penghargaan Kementerian Agama sebagai nazhir dengan sertipikat tanah wakaf terluas.
Dan justru di sinilah tantangan etiknya: organisasi besar kerap berhadapan dengan godaan merasa paling mapan, paling benar, dan paling kuat. Bersyukur Muhammadiyah punya tradisi Syawalan, salah satu rem moral yang tak lekang oleh zaman. Ia mengingatkan bahwa kekayaan aset, keluasan jaringan, dan kecanggihan metodologi hanya akan menjadi maslahat bila ditopang oleh kerendahan hati dan keluasan jiwa.
Maka, dalam membaca Syawalan Muhammadiyah 1447 H dengan jernih, kita perlu berani mengatakan: yang membuat Muhammadiyah besar bukan hanya karena ia punya sekolah, rumah sakit, kampus, wakaf, dan jaringan yang luas, tetapi juga karena sesudah beda Lebaran pun ia tetap setia memilih jalan persaudaraan.
Di tengah ruang publik yang makin senang menghakimi, Syawalan hadir sebagai pesan yang nyaris subversif: menang bukanlah ketika orang lain kalah, melainkan ketika ego sendiri berhasil ditaklukkan. KHGT menunjukkan maslahat peradaban saintifik Muhammadiyah, dan Syawalan menunjukkan keluhuran adabnya.
Dan mungkin justru itulah pelajaran Idulfitri yang paling langka hari ini: bahwa sesudah benar menurut hitungan, kita masih harus benar dalam memperlakukan sesama. Wallahu a’lam.









































