Matakita.co, Yoygakarta — Kolaborasi antara Maarif Institute dan Kiniko Art menghadirkan pameran seni rupa bertajuk “Suluh Bangsa” di Yogyakarta pada 23 Mei 2026. Pameran ini menjadi ruang refleksi kebangsaan sekaligus upaya merawat nilai kemanusiaan, toleransi, dan pemikiran kritis yang diwariskan tokoh bangsa, Buya Syafii Maarif.
Pameran tersebut digelar dalam rangka memperingati Bulan Buya Syafii Maarif dan disebut sebagai bagian dari ikhtiar merawat kembali suluh kebangsaan melalui karya seni dan gagasan publik.
Direktur Program Maarif Institute, Junaidi Ali, mengatakan bahwa pameran ini tidak hanya menghadirkan karya seni rupa, tetapi juga menjadi medium untuk meneguhkan nilai-nilai kebangsaan di tengah tantangan sosial saat ini.
“Buya Syafii Maarif adalah sosok guru bangsa yang keteladanan moralnya melampaui zaman. Melalui pameran ini, kami ingin menghadirkan kembali semangat pemikiran beliau yang humanis, kritis, dan berpihak pada kemanusiaan,” ujarnya dalam keterangan pers.
Sebanyak 18 perupa turut ambil bagian dalam pameran tersebut. Beragam karya yang ditampilkan mengangkat tema kebangsaan, toleransi, keberagaman, hingga kritik sosial yang merefleksikan kegelisahan publik terhadap situasi sosial-politik kontemporer.
Selain menghadirkan karya seni rupa, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan diskusi kebangsaan yang melibatkan akademisi, budayawan, dan pegiat seni. Diskusi tersebut membahas relevansi pemikiran Buya Syafii Maarif dalam menjaga demokrasi, merawat kebinekaan, dan memperkuat etika publik di Indonesia.
Ketua Panitia Pameran menyebutkan bahwa seni memiliki peran penting sebagai medium dialog sosial dan pendidikan publik. Karena itu, pameran ini diharapkan dapat menjadi ruang perjumpaan antara seni, pemikiran, dan gerakan kebangsaan.
“Pameran ini bukan sekadar ruang apresiasi seni, tetapi juga ruang refleksi bersama untuk menjaga nilai kemanusiaan dan kebangsaan di tengah berbagai tantangan kehidupan berbangsa,” katanya.
Pameran “Suluh Bangsa” dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari dan terbuka untuk umum. Penyelenggara berharap kegiatan tersebut dapat memperluas ruang dialog publik sekaligus menghidupkan kembali semangat kebangsaan yang inklusif dan berkeadaban.








































