Beranda Lensa Industri Semen Nasional Masih Oversupply, Pengamat Soroti Ekspansi Produk Semen Asal China

Industri Semen Nasional Masih Oversupply, Pengamat Soroti Ekspansi Produk Semen Asal China

0
Ramli Manong

Matakita.co, Barru – Rencana pembangunan pabrik kantong semen di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, yang disebut akan menjadi simpul distribusi produk semen asal China mendapat sorotan dari kalangan pengamat industri. Di tengah kondisi industri semen nasional yang masih mengalami kelebihan pasokan (oversupply), ekspansi distribusi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan tekanan terhadap produsen dalam negeri.

Pemerhati industri semen, Ramli Manong, mengatakan pembangunan fasilitas pengemasan tidak hanya dipandang sebagai investasi manufaktur, tetapi juga bagian dari strategi memperluas jaringan distribusi.

“Yang sedang terjadi sesungguhnya adalah ekspansi jaringan distribusi. Ketika fasilitas pengemasan dibangun di Barru, maka arus masuk produk semen dari luar Sulawesi Selatan akan semakin mudah. Pasar yang diperebutkan bukan pasar baru, melainkan pasar yang selama ini menjadi ruang hidup industri semen nasional,” kata Ramli, Senin (7/7/2026).

Menurut Ramli, dalam beberapa tahun terakhir distribusi produk semen asal China di kawasan Indonesia Timur terus berkembang, mencakup Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Kondisi tersebut, menurut dia, perlu menjadi perhatian pemerintah karena persaingan berlangsung di tengah pasar yang pertumbuhannya relatif terbatas.

Ia menjelaskan, kapasitas produksi industri semen nasional saat ini diperkirakan mencapai hampir 120 juta ton per tahun, sedangkan konsumsi domestik berada pada kisaran 65 juta hingga 70 juta ton. Selisih tersebut menyebabkan tingkat utilisasi pabrik masih rendah.

“Kapasitas terus bertambah, tetapi konsumsi stagnan. Akibatnya terjadi perang harga, laba perusahaan tertekan, utilisasi pabrik menurun, dan kemampuan industri untuk bertahan semakin melemah. Dalam situasi seperti ini, setiap ekspansi distribusi baru harus dihitung secara sangat hati-hati,” ujarnya.

Ramli menilai, apabila kondisi itu berlanjut tanpa kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan industri, perusahaan berpotensi melakukan langkah efisiensi.

“Kalau utilisasi terus turun, maka efisiensi akan menjadi pilihan yang sulit dihindari. Dalam dunia industri, efisiensi sering kali berujung pada pengurangan tenaga kerja. Gelombang PHK menjadi risiko yang perlu diantisipasi apabila keseimbangan industri tidak segera dipulihkan,” katanya.

Senada dengan itu, Direktur Riset PT Pentahelix Indonesia, Asratillah, menilai pemerintah perlu melihat persoalan tersebut sebagai isu strategis yang berkaitan dengan keberlangsungan industri nasional.

Menurut dia, keberadaan PT Semen Tonasa dan Bosowa selama ini telah membentuk ekosistem industri yang melibatkan tenaga kerja, pelaku usaha lokal, perusahaan transportasi, jasa logistik, hingga pelabuhan.

“Persoalan ini bukan sekadar siapa menjual lebih banyak semen. Yang dipertaruhkan adalah keberlangsungan industri strategis nasional. Jika utilisasi pabrik-pabrik nasional terus menurun, maka yang ikut terdampak bukan hanya perusahaan, tetapi juga pekerja, UMKM, kontraktor lokal, hingga penerimaan daerah,” ujar Asratillah.

Ia menambahkan, pemerintah perlu memastikan setiap investasi baru tetap memperhatikan kondisi industri yang sudah mengalami kelebihan kapasitas.

“Indonesia tidak sedang kekurangan semen. Industri justru mengalami kelebihan kapasitas hampir 50 juta ton setiap tahun. Karena itu, orientasi kebijakan tidak hanya mengejar investasi baru, tetapi juga menjaga keberlangsungan industri nasional yang telah menyerap tenaga kerja dan berkontribusi terhadap perekonomian daerah,” kata Asratillah.

Facebook Comments Box