Beranda Mimbar Ide Mestikah Waria Diberi Panggung Di F8 Makassar?

Mestikah Waria Diberi Panggung Di F8 Makassar?

0
adi Taqwa

Oleh : Adi Taqwa*

Pelaksanaan International Eight Festival and Forum atau F8 Makassar patut untuk diapresiasi.
Hal ini merupakan Upaya Pemerintah kota Makassar dalam menarik wisatawan yang tentunya akan menunjang perekonomian kota Makassar. Tercatat puluhan negara yang akan berpartisipasi dan ratusan kabupaten di indonesia seperti pernyataan pak Ramdhan Pomanto di beberapa media.

Event F8 ini merupakan kedua kalinya diadakan. Kegiatan sebelumnya dilaksanakan tahun kemarin (2016), kini dilakasanakan kembali di tahun ini (2017). sudah barang tentu kalau kekurangan yang ada pada tahun kemarin akan diperbaiki. sampai pada hari-hari terakhirnya, event ini mendapatkan kunjungan yang terus meningkat, yang artinya animo masyrakat kota makassar dengan event ini senang. Selain dari itu, masyarakat setempat juga dilibatkan. seperti pembukaan lapak/stand jualan untuk usaha-usaha kreatif masyarakat kota makassar.

Event ini memberi efek dari berbagai sektor. bukan hanya penunjang ekonomi daerah, Budaya kota Makassar turut di tampilkan. selain tujuannya untuk di “pamer” untuk para tetamu, pemerintah kota makassar juga menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pelestari/penjaga budaya tersebut. namun apa jadinya kalau budaya itu terkesan di “coreng”? dengan diperagakan seperti mencederai “kesakralan” dari budaya itu sendiri. sesuai dengan agenda “ The big Event” (event F8) dari tanggal 6 -10 september 2017. hampir disetiap akhir acaranya, penampilan dari guest start dipersilahkan untuk menghibur, yang diperagakan oleh sekelompok waria (bencong) di depan masyarakat kota Makassar dan para tetamu undangan. yang lebih mencengangkannya lagi, beberapa dari waria itu berpakaian adat yang melakukan gerakan-gerakan yang tidak senonoh. hal ini tentunya sudah menggeser kehormatan budaya itu. sekalipun masih dalam ruang polemik, antara menghibur dan mencoreng, pada dasanya kita sepakat kalau budaya harus dipertahankan kesakralannya.

keberadaan waria di kota makassar tentunya tidak bisa dinafikan, dari beragam latar belakang dan tuntutan mereka sehinggah membuat mereka seperti itu. beberapa mungkin karena tuntutan ekonomi, atau karena faktor dorongan feminim yang mendominasi. namun hal itu tentunya harus diperhatikan secara serius agar tidak “menular”. atau dalam arti kata melestarikan waria.

Sering kita dengar, kalau gara-gara “kaum sodom” kaum “aad ditimpahkan musibah sebab perilaku mereka yang menjadi-jadi (waria) dan di “lestarikan” dibiarkan (oleh kaum “aad secara umum). sejalan dengan pernyataan beberapa pakar, kalau sikap feminim juga bisa terjadi karena kebiasaan dimasa kecil yang sering menonton/menyaksikan hal-hal yang feminim. dan begitulah realita di event F8 ditahun ini. yang tidak sedikit masyarakat kota makassar mangajak anak mereka ke event tersebut.

*)Penulis adalah ketua Korkom IMM Unhas

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT