Home Mimbar Ide Pilpres di Tengah Ancaman Isu Primordial

Pilpres di Tengah Ancaman Isu Primordial

169
0
SHARE
Kaslan

Oleh : Kaslan*

Pemilihan Presiden yang akan berlangsung pada 2019 mendatang masih menyisakan kurang lebih setahun lamanya. Pasangan Capres dan Cawapres pun belum terlihat mengerucut pada pasangan tertentu. Hingga saat ini baru nama Jokowi sebagai petahana yang menyatakan siap untuk maju walaupun pasangan cawapresnya belum dimunculkan.

Para penantang Jokowi pun kelihatan masih ‘malu-malu’ muncul secara jantang. Meski nama yang digadang-gadang, sebut saja Prabowo sebagai lawan berat petahana sepertinya masih mengumpulkan kekuatan pengusung partai politik sebagai tiket maju sebagai calon presiden. Adapun pernyataan kesiapan pada rapimnas gerindra di Bukit Hambalang Bogor Jawa Barat, Rabu (11/4/18)  masih dianggap sebagai pernyataan politis, mengingat belum adanya pernyataan deklarasi secara resmi yang dilakukan oleh Prabowo.

Keduanya, baik Jokowi dan Prabowo jika diamati untuk sementara, akan menjadi kontestan yang bersaing berat pada pilpres 2019. Imbasnya, intrik-intrik persaingan politik yang kurang sehat pun mulai dimainkan simpatisan di akar rumput. Kontribusi Media pun kian menyuguhkan beragam informasi dan cara pandang  terhadap partai-partai politik yang mencoba melakukan dikotomi partai dalam perspektif agama dan beberapa pernyataan-pernyataan yang mendiskreditkan agama. Sebut saja misalnya Puisi Sukmawati. Amin Rais, politikus Senior Partai Amanat Nasional mencoba mendikotomikan “Partai Setan dan Partai Allah”. Kemudian Rocky Gerung, dengan penyataannya yang kontroversial tentang “Kitab Suci fiksi”.

Jika kita mencermati hal tersebut, ini berpotensi menjadi isu primordial yang coba ditarik kedalam isu personal dan politik yang panas dan kurang sehat. Meski mereka saat ini bukan salah satu tim dari calon presiden yang digadang-gadang, namun isu-isu yang berkaitan entitas tidak bisa dinafikan karena kita telah memasuki tahun politik, pernyataan-pernyataan berkaitan dengan isu SARA sangat sensitif dan kurang baik menjadi konsumsi publik. Hal demikian merupakan suatu cara untuk memunculkan isu identitas dalam kontestasi politik. Kita berkaca pada pilgub DKI Jakarta, sebagai arena dimana isu primordial menjadi komoditas isu yang  paling laku dimainkan.

Baca Juga  SYL: Karakter Bugis - Makassar Pantang Berbohong

Kondisi ini tidak bisa dibiarkan dalam keberagaman sosial masyarakat indonesia, karena ini mengancam integrasi bangsa dan tentu berdampak buruk bagi masa depan demokrasi kita. Mestinya para politisi negeri ini mampu menciptakan susana politik santun, memberikan pendidikan politik yang baik pada masyarakat demi terciptanya iklim demokrasi yang baik.

*) Penulis adalah Komisi Politik PB HMI (MPO)

Facebook Comments