Home Mimbar Ide Sang Mata yang Tidak Terbayangkan

Sang Mata yang Tidak Terbayangkan

374
0
SHARE
Kondisi gempa palu (Sumber foto : sanovra_jr)

(Refleksi atas Gempa-Tsunami di Donggala/Palu)

Oleh: Ermansyah R. Hindi *

Pada saat dan setelah terjadi gempa dan Tsunami, 28 September 2018 di Donggala dan Palu, kamera dari telepon genggam seseorang telah memainkan alur, celah, retakan, dan patahan tatapan melawan tontonan di sekitarnya. Rekaman video, selanjutnya berkembang-biak dan merambat keluar melewati batas-batasnya melalui citra-tubuh-teks visual; ia menyebar dari layar yang satu ke layar yang lain sebagai tele-media. Kini, disini atau disana, lensa kamera mengambil-alih tempat lensa mata manusia, titik dimana kameralah menjadi mata, tetapi tersembunyi dibalik rahasia yang digandakan. Dalam tatapan, mereka membentuk pelbagai interval yang rapuh: citra posting, potret, fotografis, dan gambar stereoskopis yang kosong, tetapi tetap padat dan nyata. Melalui rahasianya terjaga, tatkala kilatan cahaya dari kamera acapkali membuyarkan tatapan kosong. Lensa mata fisik menyimpan kisah tersendiri yang tidak terbayangkan terutama dari orang-orang yang terlibat atau tertimpa dan selamat dari musibah bencana menegaskan. Tele-media berbicara tentang gempa bumi dan Tsunami pada kita melalui matanya sendiri, sebuah mata yang melampui mata telanjang sebagai titik awal dalam melihat dunia.

Tatapannya merupakan produk retakan, turunan tajam, dan kontur yang patah; bahasa yang tidak serasi dan obyeknya mirip tebing terjal menggambarkan sebuah lingkaran. Ia direngkuh oleh sang Mata, tatapan sang Mata atas sang Mata, yaitu sang Mata Gempa dari Bumi-Tsunami ke “sang Mata kamera” yang saling memadatkan satu sama lainnya dengan sang Mata fisik. Ia merujuk dirinya sendiri dan berbalik pada pertanyaan mengenai batas-batasnya, seakan-akan ia tidak lebih dari sebuah lentera malam yang memendarkan cahaya ganjil, menandakan kehampaan asal-usul kemunculannya dan arah kemana ia menyoroti segala sesuatu yang diterangi dan disentuhnya. Seluruh perpaduan sang Mata menghimpun suatu obyek yang tidak terbayangkan. Dari saksi langsung: “Ketika terjadi gempa-Tsunami di Palu. Ia berkata “Saya sulit percaya, ilmu alam saya tidak sampai di tingkat ini. Ini fenomena alam langka bagi saya … Tanah terbelah dan ambruk luamaya lebar, sekitar 10 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter. Setelah gempa susulan lagi, tertimbun lagi menjadi rata … Rumah paman saya di sekitar Islamic Center Kelurahan Petobo hilang tak berbekas. Paman saya masih melihat rumahnya berjalan sendiri. Yang mengherankan, tiba-tiba paman saya sudah berada di dekat Terminal Petobo yang jaraknya hampir 1 kilometer. Padahal dia hanya tiarap”. Tidak sedikit kisah nyata begitu memilukan dan menegangkan bahkan tidak terbayangkan, tidak terpikirkan, seperti kisah nyata mengenai seorang dengan rumahnya berjarak dari pantai sekitar 100 meter di Palu, dia, keluarga dan rumahnya masih utuh, tidak berkekurangan. Ada lagi orang dan keluarganya sedang berada dalam rumahnya dengan gelombang air-Tsunami hanya melewati rumahnya dan dia sempat melihat orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Tetapi, dia dan keluarga yang berada dalam rumahnya selamat, tidak ada kekurangan apa-apa. Ini karena sang Mata, sebuah bulatan putih kecil yang mengitari kegelapannya, melacak sebuah lingkaran pembatas yang hanya dapat dilintasi oleh pandangan. Kegelapan yang ada di dalamnya menjadi inti kelam sang Mata, mengalir ke dunia seperti sebuah sumber yang melihat, yang menerangi dunia. Tetapi, sang Mata juga menghimpun semua cahaya dunia dalam iris, titik hitam kecil itu, dimana cahaya diubah menjadi malam benderang sebuah citra. Sang Mata adalah cermin dan lentera; ia memancarkan cahaya ke dunia (khalayak ramai terutama dari sekian ratus orang bergulat hingga selamat dari bencana gempa-Tsunami melalui mata mereka), mengendapkan cahaya kedalam ketembus-pandangan sumbernya. Bulatannya dari sang Mata orang-orang yang menerima citra layar gempa-Tsunami melalui penyebaran rekaman gambar begitu berbeda dengan sang Mata orang-orang yang terlibat langsung sebagai korban yang selamat dalam peristiwa memiliki sifat ekspansif layaknya sebuah jeritan yang meledak ke arah pusat malam dan cahaya yang ekstrim, yang adalah dirinya dan baru saja berhenti menjadi dirinya. Ia adalah gambaran “ada” (being) sekaligus “menjadi” (becoming) dalam tindakan melanggar batas-batas sendiri. Kamera dan gempa bumi-Tsunami menjadi sang Mata yang menegaskan kembali sang Mata fisik. Gabungan sang Mata mengakhiri “Hari Pembalasan” dari setiap bentuk penafsiran tentangnya. Lewat sang Mata yang dimilikinya, gempa bumi dan Tsunami adalah “Guru” kita.

Baca Juga  Workshop Bedah Buku "Guru Malaikat", Guru Yang Hebat Melahirkan Siswa Yang Hebat

Tatapan yang melintasi batas bulatan sang Mata, membentuk mata-mata lainnya dalam keberadaannya yang seketika. Tatapan membawanya menjauh dalam arus bercahaya (suatu sumber yang memuncrat keluar, memancarkan dan mengalirkan air mata seperti darah), melemparkan sang Mata keluar dari dirinya, mengantarnya kepada “sang Batas” dimana ia meledak dalam kilas keberadaannya yang segera menghilang. Hanya sebuah bola putih kecil, berjaringan syaraf, berurat darah yang tersisa; hanya sebuah mata yang eksesif yang semua tatapan kini dimusnahkan baginya. Di tempat (Donggala, Palu dan sekitarnya) dari mana tatapan pernah melintas, hanya tersisa rongga tengkorak, hanya bulatan hitam yang oleh mata tercerabut (Laporan Harian Penanganan Gempa Bumi dan Tsunami Palu dan Donggala, BNPB, 3 Oktober 2018, tercatat jumlah korban Meninggal: 1.832 orang, Hilang: 113 orang, dan Tertimbun: 152 orang yang nampaknya akan bertambah jumlahnya) dibuat menutup wilayahnya, menghilangkan penglihatan darinya, tetapi keseluruhannya menawarkan “ketidakhadiran humor-lelucon” menjadi tatapan yang kosong dan mati.

Betapa sang Mata menunaikan aspek terpenting adalah tidak ada lagi permainan dari gempa bumi-Tsunami. Korban-korban tatkala dipaksa dari posisi asalnya hingga ia begitu samar mengetahui asalnya. Mereka dibuat mengarah ke atas dalam suatu gerakan yang mengantarnya kembali kepada malam dan menjadi bintang di bagian dalam tengkorak, dan tatkala ia dibuat menunjukkan kepada kita permukaannya lazimnya disembunyikan, putih dan tidak terlihat. Ia menghalangi siang dalam suatu gerakan yang mewujudkan warna putihnya sendiri (warna putih tidak diragukan lagi, merupakan citra kejelasan, cerminan permukaannya, namun persis karena alasan ini, ia tidak dapat berkomunikasi dengannya atau mengkomunikasikannya). Kamera telepon seluler memiliki pergerakan citra virtual; gempa yang terjadi di Palu dan Donggala memiliki gerakan gerak bumi berubah bentuk, bergerak secara vertikal sepanjang patahan dan sebagian besar bergerak secara horizontal. Sebaliknya, bola yang menengadah menyiratkan mata paling terbuka sekaligus paling tidak tertembus: membuat bulatannya berputar, sembari tetap sepenuhnya sama dan berada di tempat yang sama. Ia menjungkir-balikkan siang dan malam menerobos batasnya, tetapi hanya untuk mendapatinya sekali lagi berada di garis yang sama dan dari sisi yang lain.

Apa yang kita butuhkan untuk melihat tidaklah melibatkan rahasia interior apapun atau penemuan sebuah dunia yang lebih kelam. Kelunglaian dari posisi biasanya dan dibuat bergerak kedalam orbitnya, sang Mata kini memancarkan cahayanya hanya ke sebuah gua tulang-purbakala, hanya ke sebuah kuburan massa tanda: tubuh. Kemunculan bulatannya diperkirakan tampak suatu penghianatan “kematian kecil” (ada juga orang berkata: “Kiamat telah datang dari Gempa-Tsunami”). Tetapi, tepatnya, ia sekedar mengisyaratkan kematian yang dialaminya di tempat alamiahnya, dalam kemunculannya di tempat yang membuat sang Mata berputar dan mawas. Dalam kematian bagi sang Mata (sang Mata fisik dan Kamera), bukanlah garis cakrawala yang selalu berada di ketinggian, melainkan sang Batas yang terus-menerus ia langgar dalam tempat alamiahnya, dalam cekungan dimana semua penglihatan berasal, dan dimana batas ini diangkat ke suatu batas mutlak oleh suatu gerakan yang memungkinkan mata muncul di tempat lain. Cekungan mata fisik memiliki kemiripan dengan cekungan samudera, tempat dimana gempa bumi menggerakkan gelombang besar air. Akhirnya, malapetaka gempa dan Tsunami menjadi percakapan tidak terbatas, menjadi teks tertulis yang tidak diketahui ujung pangkalnya. Ia tidak pernah berhenti berbahasa pada diri dan yang ada di luar dirinya. Pada saat kita menuju sang Batas, tidak ada yang dapat kita lihat, kecuali menemukan diri kita dalam kehampaan, akhirnya dalam pelintasan batas-batas, sang Mata meledak dan secara radikal menentang dirinya dalam gelak tawa dan air mata mengakhirinya. Sang Mata (murni, fisik) meledak keluar dari dirinya, dimana tidak ada lagi bulatan putih dan lingkaran hitam berasal, melainkan linangan air mata. Ia muncul bukanlah karena berkubangan dosa-dosa, melainkan ketidakhadiran subyek untuk mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Ingatkanlah sang Mata, bahwa ada sang Mata Lain yang mengintai dan menyentuhku!

*) Penulis adalah ASN pada BAPPEDA Kabupaten Jeneponto/ Sekretaris PD Muhammadiyah Jeneponto

Facebook Comments