Home Fajlurrahman Jurdi Revolusi Prancis

Revolusi Prancis

223
0
Fajlurrahman Jurdi

Oleh : Fajlurrahman Jurdi*

Revolusi Prancis meruntuhkan tembok monarki absolut, dan meletakkan monarki itu menjadi konstitusional. Konon, rakyat Prancis yang muak dengan tirani meluber ke jalanan dan membakar semua institusi politik. Mereka meneriakkan tiga slogan, liberte, egalite dan fraternite. Di Prancis kehidupan masyarakat masih terbelah dalam kelas-kelas sosial, dan monarki merupakan ancaman terbesar bagi liberte.

Prancis atau Eropa pada umumnya punya sejarah panjang tentang jatuh bangunnya kekuasaan. Dari Prancis, tepatnya di Bordeaux, kekuasaan mulai dipilah oleh Montesquieu, ia memilahnya menjadi tiga, “La Puissance Legislative, La Puissance Executive dan La Puissance the Juger”. Dasar argumennya sederhana, bahwa kekuasaan yang ditumpuk pada satu tangan akan mereproduksi kejahatan dan cenderung disalahgunakan, sebab tak ada yang bisa mengawasi kekuasaan itu secara eksistensial.

The Spirit of Laws, buku tua Montesqueiu yang sekarang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan mengilhami pembentukan institusi demokrasi diseluruh dunia, merupakan karya maestro yang menakjubkan. Kekuasaan dibagi tiga elemen, dan ketiganya saling mengawasi antara satu dengan yang lainnya.

Belakangan, Prancis mengalami semacam pengulangan sejarah. Massa yang entah bagaimana caranya mereka membentuk kerumunan itu, melawan kekuasaan konstitusional. Di ruas-ruas jalan diseluruh Prancis, tidak saja di Paris, tetapi di semua wilayah, massa berkonsentrasi mengutuki kekuasaan yang mereka anggap tidak becus. Adakah Prancis akan mengalami nasib serupa dengan revolusi yang telah menjadi sejarah agung gerakan sosial ?. Kini, sejarah bisa saja berulang. Tak ada yang tak mungkin.

Makassar, 10 Desember 2018

*) Penulis adalah dosen Fakulfas Hukum Unhas

Facebook Comments