Home Mimbar Ide Melihat Desa Lebih Dekat – Potret Nurhady Sirimorok

Melihat Desa Lebih Dekat – Potret Nurhady Sirimorok

89
0
SHARE

Oleh : Idham Malik*

Nurhady Sirimorok, atau biasa disapa Dandi datang ke tepi gunung, Tudo Aog, Pucuk Bambu, Kota Mobagu, tahun 1996. Dengan membawa peralatan di tentengannya dan gagasan di kepalanya. Ia ingin mendata, lalu mengoreksi dalam tempo singkat.

Dengan ringkas Dandi mengerti persoalan, dan menerapkan teknik untuk menolong desa itu. Sementara warga desa, yang dikiranya tertinggal itu hanya senyum – senyum. Dandi membangun toilet, dengan tangan sendiri dan tangan teman – temannya. Dandi mengecet mesjid. Tapi, pada dini hari, kamar tidurnya terguncang, ia jatuh dari kasur. Orang – orang sudah berkumpul di luar. Ternyata gempa.

Peristiwa dini hari itu telah membuka wawasan salah satu pemerhati desa dan anak muda, yang tumbuh dan besar di Selatan Pulau Sulawesi. Gempa itu membekas, dan menjadi pandu baginya untuk lebih memahami desa. Ia seakan – akan dibaptis oleh alam, untuk melepas corak pikir bias kota, dalam menguliti desa.

Kemudian, Dandi, dalam buku “Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa – Melihat Desa Lebih Dekat”, memotret kondisi desa, akar persoalan, dan kegelisahan – kegelisahan warganya. Ia, kemudian keranjingan, mungkin karena rasa penasaran, passion, gairah yang mendorongnya untuk hidup bersama, bergaul, lebih banyak mendengar warga desa berbicara. Dengan nada marah maupun sinis.

Dandi menangkap pesan bahwa tindakan atau intervensi yang telah diterapkan, yang direncanakan dari jarak jauh, dengan gaya memaksa dan mengalir dari atas itu tidak semuanya menghasilkan kegembiraan dan kepuasan bagi warga desa, yang menjadi objek perubahan.

Dandi memaparkan, bahwa program – program itu banyak yang berakhir tragis. Seperti program penanaman pohon Pinus sejak tahun 1980 an di lereng – lereng gunung Sulawesi Selatan, yang Dandi pantau di Desa Kompang dan Gantarang, Kab. Sinjai, pohon – pohon itu dicibir warga, sebab pohon yang adaptif, yang mudah tumbuh itu, justru menguras air tanah, dan hanya menyisakan sedikit saja bagi warga setempat.

Dandi mengkritik program pemerintah untuk desa pertanian, khususnya kakao. Menurutnya pemerintah dengan segala eksponennya, hanya datang memperkenalkan kakao, dengan otoritatif mengajarkan, membina, menyuluh, namun tak dapat memetakan masa depan. Ia menyampaikan nasib petani kakao yang akhirnya hidup susah di masa tuanya, meski pernah beberapa tahun menikmati surplus. Kebun – kebun Kakao, hanya dapat bertahan atau usia produktif sekitar 10 – 15 tahun. Setelahnya, lahan – lahan menjadi aus, tanah – tanah menjadi miskin unsur hara. Lalu, apa setelahnya? warga pun mencari jalan sendiri – sendiri, walau harus menjadi buruh tani.

Saya tiba – tiba membayangkan udang windu, yang dahulu terlalu dipaksa, dengan sistem intensifikasi. Pada akhirnya air rusak, tanah pun rusak, tentu produksi anjlok. Sayangnya, demi memastikan jalannya industri udang, bertahannya modal – modal besar yang telah terlanjur diinvestasikan. Didatangkanlah udang vannamei dari jauh, mengembalikan semangat produksi lagi. Tapi, dengan limbah yang lagi – lagi tidak diurus. Limbah itu pun masuk ke dalam tambak – tambak tradisional, yang masih setia memelihara windu, dengan paduan bandeng ataupun rumput laut/sango – sango. Cuaca agak lain. kualitas bibit menurun. Produksi petambak – petambak kecil pun akhirnya jatuh. Dan tak ada yang dapat disesalkan dari kasus ini.

Baca Juga  Debat Berjalan Damai, Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar Sampaikan Terima Kasih

Bukan hanya program langsung pemerintah terhadap tanah, Dandi mengoreksi pula hal – hal yang berbau mental. Tentang peran sekolah, yang seakan – akan menjauhkan anak muda dari lumpur sawah. Pendidikan formal, yang justru tidak relevan dengan ruang hidup anak – anak dan pemuda. Mereka diajarkan hal – hal yang sangat teoritis, namun tak mendorong untuk terlibat dalam memahami persoalan – persoalan kehidupan sehari – harinya di desa, dan belajar untuk mencari solusi secara bersama dengan warga desa. Dalam buku tersebut, anak muda lebih banyak diajar untuk menjadi pegawai kantoran. Dan, dalam amatannya, anak muda lebih banyak yang setuju dengan jenis pekerjaan elit itu.

Di desanya, anak – anak muda ini pun tidak banyak memperoleh peran. Dapat dilihat dari pertemuan – pertemuan warga, suara – suara anak muda jarang muncul. Dalam buku tersebut, menurut anak muda, mereka hanya disuruh – suruh.

**
Dandi menyentuh desa, melakukan percakapan, dan memotret percakapan warga desa dengan segala program yang datang dari atas. Memang, dalam setiap persentuhan, pada dasarnya adalah sebuah dialektika. Pertemuan dua arus, ada yang dominan dan ada minor. Di masa Orde Baru, wacana teknokratik sangat dominan, menekan wacana warga desa sendiri.

Buntutnya, banyak warisan kearifan desa yang melempem. Semangat bersama atau kolektivitas menipis. Warga desa bergairah jika ada kegiatan yang berpotensi bantuan. Sedangkan, banyak aset – aset umum desa diprivatisasi oleh warga desa yang punya pengaruh kuat. Di sisi lain, banyak sarana – sarana umum yang mangkrak, lantaran tidak berangkat dari kesadaran bersama. Dan memang, kurang dilibatkan dari awal.

Sepertinya, melalui buku ini Dandi melakukan dekonstruksi hingga ke akar – akarnya. Lalu mencoba membangun lagi dari awal (rekonstruksi), dengan meniti potensi sosial di desa. Melihat kembali semangat gotong royong di desa. Mengajak kita untuk lebih banyak mendengar lalu memetakan secara bersama langkah – langkah yang harus ditempuh desa agar tetap mandiri, dengan masyarakat yang sejahtera. Sehingga ada gagasan baru di tengah benturan – benturan program dan mentalitas.

Tentu, visi kolektivitas Dandi ini sangat baik. Saya pun pernah dengar dari beliau, yang merupakan guru kami di Sekolah Literasi dahulu, bahwa tidak ada yang baru di dunia ini.

Tapi, saya merasa tugas untuk mengungkit desa, menstimulasi desa masih sangat banyak. Dan mungkin tidak akan selesai-selesai. Di tengah gempuran pilihan – pilihan pasar, yang kurang diarahkan secara bijak, masuknya teknologi informasi yang mendorong hasrat – hasrat baru, dengan begitu beragamnya perbandingan dunia, sehingga memacu individualitas. Di samping belum kuatnya kemauan politik para aparat yang mengatur warga desa, meski yang saya dengar sudah ditempuh dengan metode bottom – up (bawah ke atas), serta mulai dicoba dengan pendekatan fasilitasi – fasilitator.

Buku Kak Dandi bagi saya pribadi, mengingatkan saya untuk lebih berhati – hati dalam berfikir, dan lebih banyak mendengar warga desa. Terimakasih. Semoga terbit karya – karya baru dari Kak Dandi yang keren.

*) Penulis adalah Aktivis Muda Muhammadiyah

Facebook Comments