Home Mimbar Ide Banjir

Banjir

53
0
SHARE
Kondisi pegunungan yang terkena longsor, di Desa Manuju, Kabupaten Gowa.

Oleh : Idham Malik*

Sedikit lagi sebulan, peristiwa banjir Sulsel berlalu. Namun, tak lagi ada riak – riak. Serak pun tidak. Mungkin hanya sengau. Kita pun tiba – tiba mengingat air bah itu, ketika melihat bekas batas air di dinding – dinding rumah atau kantor kita.

Lantai rumah sudah seperti semula. Lumpur sudah menyatu dengan tanah. Mungkin, yang masih tampak adalah kertas – kertas penting yang sudah kresek, yang jadi lusuh. diletakkan di atas meja, di tepi – tepi ruangan.

Kita pun mulai disibukkan dengan kerja. Oleh rutinitas sehari – hari. Lalu, kadang – kadang kita mengingatnya, ketika di keramaian, terdengar pertukaran cakap antar dua orang, sambil ketawa ketiwi menceritakan tinggi air di dalam rumahnya.

“Sampai pinggang saya Pak. Bapak sampai mana?” tanya seseorang.

“Oh, saya sampai leher”. jawab partner bicara, dengan nada jumawa.

Habis itu kita pun memikirkan hal – hal lain.

Banjir pun hanya jadi kenangan. Bukan menjadi agenda kritis untuk didiskusikan secara serius. Sampai saat ini, mungkin, banyak dari kita yang tidak tahu penyebab banjir tersebut.

Rata- rata dari kita hanya terperangah dengan dahsyatnya banjir. Terkejut sekaligus terkesima. Namun, tak mencoba untuk menggali lebih dalam penyebab banjir.

Kita pun berhenti oleh asumsi – asumsi umum : banjir karena kurangnya resapan air. Banjir lantaran rob. Banjir karena hujan lebat berhari – hari. Namun kita tidak menggali lagi. Seperti apa kondisi resapan air di hutan – hutan di Gowa, Maros dan Jeneponto?

Mungkin ada yang tahu kondisi di sana. Tapi, tak punya daya untuk menularkan pemahaman. Jangkauan informasi hanya terputar di antara mereka saja. Warga dekat hutan dan gunung.

Baca Juga  PKPI Resmi Usung NH-Aziz

Selanjutnya. Kita pun tak mencoba mendiskusikan solusi dari akar persoalan banjir ini. Seperti apa hutan akan dikelola? Solusi seperti apa bagi masyarakat yang hidup bergantung pada hutan sumber resapan air? Dan bagaimana kita mengatur perusahaan – perusahaan kehutanan, yang beroperasi di area hutan produksi Gowa – Maros, yang tiba – tiba saja melakukan pemanenan secara serentak, terhadap tegakan – tegakan pohonnya.

Banyak diantara kita yang heran. Kenapa banjirnya bisa sebesar ini? padahal curah hujan sama dengan tahun lalu. Apa yang telah berubah?

Saya percaya, banyak yang berubah. Perubahan ini disebabkan oleh aksi – aksi ratusan hingga ribuan manusia yang bergerak sesuai orientasinya sendiri. Ada yang membuka lahan, ada yang menebang pohon, ada yang membuang sampah sembarangan, dan ada juga yang mengoperasionalkan perubahan lahan secara terorganisir dalam luasan yang luar biasa.

Hal – hal kecil, yang sepele, dilakukan secara perlahan, dari waktu ke waktu, di banyak tempat, terakumulasi pelan – pelan, dan akhirnya menemukan momentumnya saat hujan berhari – hari.

Sayangnya, bencana yang memacetkan ekonomi selama berhari – hari itu, yang melumpuhkan aliran kendaraan di beberapa daerah, menghancurkan lahan – lahan sawah beribu-ribu hektar itu, tampaknya hanya berlalu, seperti genangan – genangan kemarin sore.

*) Penulis adalah pemerhati lingkungan

Facebook Comments