Home Mimbar Ide Tamatnya Ekonomi/Filsafat (2)

Tamatnya Ekonomi/Filsafat (2)

0
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Seperti halnya kelenyapan realitas atau keruntuhan ekonomi nampak tidak berlangsung lama dalam energi bumi, melainkan tanda kasih sayang ibu, berlawanan dengan tampilan luar dari hasil bedah plastik, kloning dan ideologi seksual akan kembali kepada perjalanan panjang menuju titik akhir, yaitu titik akhir dari titik akhir: ilusi, fiksi dan khayalan (lelucon dari Fiksi Rocky Gerung). Kita juga tidak akan serta merta mengatakan permukaan sebagai tubuh yang memikat sebagai sumber terjadinya peristiwa retakan dan patahan realitas yang menunda kelenyapannya. Mungkin sudah saatnya manusia berada dalam fase pengendalian tubuh. Tubuh seksual berbicara dengan bahasanya sendiri melalui ledakan keluar. Ia tidak lagi mempertontonkan sesuatu yang disenangi orang; tidak juga dikekang, tetapi dilepaskan sebagaimana hasrat diledakkan. Karena itu, jika hasrat atau tubuh seksual tidak dilepaskan dan disalurkan, maka ia akan berbahaya. Tetapi, jejak kesenangan tidak muncul dari wujud seksual. Berkat kesenangan-pemujaaan terhadap uang, maka uanglah yang menggoda kita, bukan sebaliknya. Lebih dari itu, revolusi hasrat melalui tulisan konsumsi dan pemusnahan dunia nyata lebih merangsang dan memiliki kekerasan bahasa dibandingkan seorang guru sama sekali tidak memainkan suatu mekanisme perlawanan melalui permainan sederhana diantara siswa yang hanya senang menggumuli buku geometri di dalam kelas. Selain itu, minyak bumi, terorisme, surat berharga, perang, dan buku revolusioner yang bergerak diantara kesenangan yang nyaris terlupakan ditengah penderitaan massal yang hebat. Dari sini, tidak ada kesenangan seksual, kecuali keruntuhan nilai dan tamatnya teori ekonomi. Atas nama citra sosial tidak lebih kematian sosial (bermain di warung internet sendirian, belanja online, dan sebagainya). Tetapi ada kelainan: “Anda menyumbang dana sosial dari hasil korupsi”. Kematian memiliki “mesin mistik”. Mesin mistik dari konsumsi sejalan dengan mesin abstrak (Deleuzean-Guattarian). Mesin mistik tidak memiliki anatomi, tanpa titik awal dan akhir berdasarkan kalender. Mesin mistik akan melengkapi kenampakan dan kelenyapan realitas. Mesin mistik melampaui mesin: “mesin dalam mesin”. Pergerakan mesin mistik muncul demi terjalinnya mesin kertas atau tulisan otomatis. Mesin mistik konsumsi merupakan takdir bagi kelahiran mesin uang dan mesin tulisan. Mesin uang sebanyak mesin tulisan di bawah sistem kode yang disebut mesin kapitalis. Mesin kapitalis dengan kecerdasan tubuh modalnya memainkan permainan pasar, termasuk depresiasi mata uang yang ditopang oleh teks tertulis. Teks konsumsi datang dari “mesin ganda nan erotis”: “libido-kredit modal”. Logika-hasrat menciptakan kenikmatan sebagai motif dari ekonomi-konsumsi secara imanen. Memang, belum cukup dijadikan tahapan kematian yang instan melalui ampas ekonomi yang dibuat mesin uang atau yang lainnya.

Kita melihat ada perubahan dari citra mental ke citra mekanis. Penampakan kulit wajah dalam keadaan alamiah yang meruang, bukan hanya realitas yang lenyap diperankan terjadi pembingkaian, tetapi juga penanaman dan pelepasan hasrat dan kesenangan akan ekonomi. Tanda ekonomi hasrat meliputi kesenangan melalui wajah cantik tetapi polesan. Kulitnya bukan berupa ilusi dan artifisial. Setiap kecantikan yang dipoles tidak lebih dari kekuatan bahasa dan logika, bukan suatu aura kekerasan, dari kekerasan cahaya yang dimaterialisasi dalam tubuh melalui teknik pencahayaan dan cahaya kamera. Setelah hasrat, tanda kesenangan akan ekonomi akan ilusi bukan lagi sesuatu yang konyol untuk merekayasa, menyebar dan membebaskan dunia seksual. Suatu keanehan, semakin dibebaskan dunia seksual semakin sulit dikekang, sebaliknya ia berkembang-biak melalui citra atau tubuh. Kecantikan yang dipoles dan dimaterialisasi melalui tubuh ekonomi akan menghadapi instannya kematian. Citra keindahan menghilang dalam realitas menjadi ilusi pertumbuhan produksi pabrik (a.l. sabun, sampo, parfum, kosmetik) yang menciptakan kembali selera, hasrat, dan kenikmatan melalui sarana ekonomi-konsumsi. Karena itulah, realitas konsumsi yang melimpah-ruah tidak lebih dari ilusi.

Kita kembali, kesenangan dibuat oleh simulasi. Dari kelimpahruahan dan penumpukan obyek yang dikonsumsi itulah dunia tidak perlu diteror. Terdapat sebagian terlempar ke ruang hampa dan sebagian yang lain terjatuh dalam kelenyapan realitas (simulasi, internet, virtualitas). Sebaliknya, dalam ekonomi-hasrat, membuat ilusi berarti membuat dunia lebih nyata. Orang-orang tidak akan merasa sakit mata hanya karena menonton berjam-jam acara kesenangannya di televisi. Disamping manusia ekonomi menjadi layar, layar dari citra medialah yang mengoperasikan kesenangan jenis apa yang membuat kita dapat mengurangi dan bahkan menghilangkan rasa sakit. Manusia sebagai layar ditonton sesuatu obyek yang melampaui ramalan dan diagnosis dengan runtuhnya teori melalui ‘mesin pencuci uang’ seiring ‘mesin pencuci otak’ sebagai proses penghancuran nilai sekaligus penghancuran dunia nyata. Dalam persfektif Foucaldian, bahwa tindakan ‘pencucian uang’ dan ‘pencucian otak’ menjadi permasalahan yang melibatkan kriminologi, psikoanalisis, sosiologi dan ahli hukum.

Kehidupan kita ditandai dengan berakhirnya logika transendental yang diambil-alih oleh prinsip dan logika hasrat, libido dan pasar. Bujuk rayu muncul tatkala kehidupan yang kehilangan maknanya diganti oleh instannya kematian-nalar ekonomi. Sejauh informasi mengenai ‘obyek belanja-konsumsi’ senyata-nyatanya kita senangi dengan menyampaikan harapannya agar berapapun jumlah biaya belanja, sekalipun menghambur-hamburkan uang, anda akan berada dalam ketidakpuasan akibat konsumsi yang memberi mimpi dan ilusi. Dewasa ini, memperhatikan jumlah belanja dan indeks biaya hidup tidak berarti apa-apa, kecuali nilai tanda (konsumsi, kekayaan dan kemakmuran) yang mengontrol anda. Obyek belanja-konsumsi berkembang-biak menjadi teror dan ilusi begitu halus. Mungkin terdapat gejala yang muncul dari “cogito” ke “libido-Cartesianomic”-Barat- “Mulyaninomic”¬-Indonesia (mengingatkan kembali pada “Widjojonomic”-Orde Baru dan “Habibienomic”¬¬- Orde Reformasi).

Perkembangbiakan dan penularan citra ekonomi: pertumbuhan ekonomi (berlangsung di televisi, video, internet, film, dan supermall/hipermarket) menjadi sesuatu melampaui analisis. Tetapi, kesenangan dan hasrat birahi yang represif telah direnggut kekuatannya melalui kekebalan dirinya sendiri sejauh penularan virus-ilusi pertumbuhan, sebagaimana manusia telah kehilangan antibodi dan bumi yang dilanda pemanasan global. Tidak ada miniaturisasi dalam kemassalan ledakan konsumsi menjadi keruntuhan di luar malapetaka murni: cogito-Cartesian akan dilawan oleh kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan, dan bencana alam. Hiperealisme konsumsi menarik diri dari malapetaka alam (murni) di bumi, karena manusia dan bumi dengan tampilan yang berbeda mengironikan. Manusia berada dalam kelenyapan realitas menjadi mayat hidup, makhluk bernyawa yang mati. Strategi pertahanan runtuh; energi kehidupan akan mendekati sumber berbiaknya virus berbahaya, dimana manusia menetralisirnya melalui dunia nyata. Di zaman ini, kita masih menemukan ruang bebas, dalam kesenangan untuk menghadapi virus yang mematikan seluas ruang bebas itu sendiri. Kini, penularan citra berkembang tidak hanya melalui ruang hampa udara dan gravitasi artifisial, tetapi melalui ruang bebas setelah kita tidak mampu tergiur apa-apa lagi. Sampai pada titik terjauh tidak ada kehidupan lain, kecuali dimulai segalanya apa-apa menampakkan titik akhir.

*) Penulis adalah ASN Bappeda Kabupaten Jeneponto/ Sekretaris PD Muhammadiyah Turatea Jeneponto

Facebook Comments