Home Mimbar Ide Pilpres, Kekecewaan, dan Sikap Kesatria

Pilpres, Kekecewaan, dan Sikap Kesatria

182
0
Ilustrasi gambar : cebong (short for kecebong or tadpole) and kampret (small bat) (Jakarta Post, 30/3/2019)

(Sebuah catatan pasca pertemuan saya dengan seorang teman yang merasa bodo amat dengan Pilpres*

Oleh : Syahrul Al Farabi*

Pesta demokrasi 17 April 2019 telah usai. Apa yang tersisa adalah harapan dan do’a – do’a bagi kebaikan untuk Indonesia dan rakyat kedepannya. Proses – proses rekonsiliasi harus segera dibangun demi kebaikan bersama. Bukannya memendam rasa kecewa, menyulut amarah, ataupun menebar benci satu sama lain hanya karena perbedaan pilihan politik. Menerima segala sesuatu dengan tangan terbuka adalah berkah tersendiri di alam demokrasi.

Penerimaan ini juga sebagai simbol penghargaan dan kepercayaan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai lembaga penyelenggara Pemilihan Umum (pemilu) atas segala usaha dan kerja kerasnya dalam menyukseskan pemilu serentak yang dilaksanakan lima tahun sekali ini. Atas segala waktu dan lelah yang mereka hibahkan untuk semua proses- proses yang jujur, adil, dan terbuka,  harus diapresiasi dengan menerima keputusan dan hasil yang akan ditetapkan nantinya. Bukan malah memberikan sentimen negatif dengan membangun ketidakpercayaan pada pihak penyelenggara.

Perasaan kecewa dan tidak adil mungkin saja hadir pada setiap proses – proses berdemokrasi. Hal ini dengan sangat jelas dengan adanya ribuan laporan ke Badan Pengawas Pemilu (bawaslu) terkait proses pemilihan umum. Beberapa diantaranya adalah persoalan distribusi surat suara, banyaknya surat suara yang rusak, serta kurang efektifnya para petugas pemungutan suara dalam mengakomodir para pemilih. Tetapi bukankah rasa kecewa, masalah teknis dan perasaan tidak adil itu adalah sesuatu yang wajar untuk menunjukkan keseriusan eksistensial kita dalam pertarungan politik?

Namun rasa kecewa dan amarah yang berlebihan,  yang kemudian hendak melahirkan ‘people power’ dalam istilah Pak Amin Rais ataupun ketidakpercayaan pada institusi negara justru hanya akan melahirkan absurditas, konflik, hingga kekerasan psikis yang berkepanjangan. Itu sama saja ‘perang’ yang memperebutkan sesuatu yang profan dan duniawi. Semacam pragmatisme politik tanpa makna yang mistis.

Teologi Politik Carl Schmitt

Carl Schmitt, seorang filsuf abad 20, menyarankan sesuatu yang lebih tendesius dalam bukunya ‘Teologi Politik’ yang terbit tahun 1992. Schmitt bersikap skeptis perihal politik yang mengejar kepentingan duniawi. Orang-orang memuja pemimpin – pemimpin politik dengan harapan perubahan yang lebih baik. Padahal, segala tindakan politik mereka telah terpola secara konsisten dalam wajah mekanisme birokratis negara. Dalam bahasa F. Budi Hardiman, apa yang nampak dari sebuah tatanan politik adalah sesuatu yang seragam dan homogen.

Jika seorang pendukung salah satu paslon memimpikan sebuah perubahan,  maka dia akan terbentur dengan pengulangan mekanisme sistem negara hukum yang tandus dan tanpa makna. Siapapun yang menang akan mengulangi hal yang sama, yakni tunduk pada segala keputusan perundang-undangan yang berlaku. Mereka, para pemimpin yang terpilih cukup menjalankan pemerintahan sebagaimana aturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

Hal inilah yang menjadi diktum politik Schmitt jika orang-orang merasa kecewa terhadap situasi politik yang ada. Menurutnya, ada hal yang lebih luhur yang menjadi kritik masyarakat. Sesuatu yang sifatnya religius dan punya makna. Pada tahap itulah sasaran kritik harusnya dialamatkan.

Sikap Masa Bodo Manson

Berbeda dari Schmitt, Mark Manson justru memilih bersikap lebih dewasa jika diperhadapkan pada situasi yang negatif semacam kekalahan atau rasa frustasi. Penulis buku bestseller ‘Seni Bersikap Bodo Amat’ ini melihat sebuah masalah sebagai sesuatu yang harus diterima secara wajar tanpa tendesi apapun. Hidup adalah rentetan jutaan persoalan yang harus dihadapi dengan jiwa kesatria. Sebagai manusia biasa, kita harus menerima bahwa kadang-kadang ada hal yang tidak menyenangkan dalam hidup ini.

Lebih lanjut, kita harus sadar bahwa ada batasan – batasan diri dan kuasa yang harus kita terima dengan lapang dada. Bagi Manson, itulah sumber kekuatan sesungguhnya dari manusia. Tepat saat kita mampu mengakrabi ketakutan, kegagalan, kekalahan,  dan ketidakpastian- tepat saat kita berhenti melarikan diri dan mengelak, dan mulai menghadapi kenyataan – kenyataan yang menyakitkan- saat itulah kita mulai menemukan keberanian dan kepercayaan diri yang selama ini kita cari dengan sekuat tenaga.

Pemilu telah usai. Dan segala proses dan perjuangan semua pihak harus diberi makna secara luas dan baik. Kalah dan menang bukanlah ukuran mutlak dari sebuah proses berdemokrasi. Tetapi perjuangan untuk sampai pada tahap terakhir adalah cerminan dari cita dan jiwa kesatria yang harus dikenang sebagai sebuah sejarah. Bukankah setiap kita tak mau dilupakan begitu saja?

*) Penulis adalah Koordinator JIMM Takalar, Alumni Pascasarjana UNM

Facebook Comments