Home Mimbar Ide Karangan Bunga untuk Bang Iqbal

Karangan Bunga untuk Bang Iqbal

164
0
Iqbal Suaeb dan istri. sumber foto : Idham Ama/Fajar

Oleh : Haidir Fitra Siagian*

Sesuai dengan undangan yang beredar dalam berbagai media sosial, jika tidak ada aral melintang, besok, Isnin, 13 Mei 2019 bertepatan dengan hari ke-8 bulan suci Ramadhan, rakyat Makassar akan memiliki pemimpin baru yang sifatnya sementara. Pemimpin baru yang diangkat oleh Pemerintah Pusat atas usul Gubernur Sulawesi Selatan dalam rangka mengisi kekosongan pemerintahan di Kota Makassar hingga sekitar dua tahun ke depan. Kekosongan pemimpin di Kota Serambi Madinah terjadi karena pada saat pemilihan walikota tahun lalu adalah dimenangkan oleh “kotak kosong”, sehingga ketika berakhir periode walikota sebelumnya, belum dapat diisi oleh walikota yang definitif.

Pemimpin atau pejabat Walikota Makassar yang akan dilantik ini, boleh dikatakan diangkat secara tidak demokratis oleh sebagian kalangan. Selain karena sifat kepemimpinannya adalah sementara atau pejabat walikota saja, ia juga dipilih bukan berdasarkan pemilihan umum yang melibatkan semua warga, pun karena proses penunjukannya adalah karena penuh dengan dinamika politik. Termasuk diantaranya kepentingan elit-elit politik dalam upaya menanamkan atau melanggengkan kekuasaan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kolega serta orang-orang yang berpengaruh terhadapnya.

Kali ini kemujuran akan dilantik sebagai pemimpin dimaksud jatuh ke tangan yang kebetulan sekali adalah kader tulen Muhammadiyah. Dr. H. M. Iqbal Suaeb, M.T., dimana beliau saat ini masih memegang jabatan sebagai Kepala Balitbangda Provinsi Sulawesi Selatan. Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan, menjadi salah satu tolok ukur bahwa ia adalah kader tulen Muhammadiyah.

Saya sendiri pertama kali bertemu beliau adalah dalam acara Taruna Melati III Ikatan Remaja Muhammadiyah di Maros sekitar pertengahan tahun 1990an. Beliau sebagai pemateri dan saya sebagai peserta. Kemudian setelah acara TM III, bersama tim instruktur dari Pimpinan Pusat IRM, kami diajak makan sore di rumahnya, kawasan Jalan Kumala Ujung Pandang. Diantara yang ikut makan sore tersebut, jika tidak keliru, adalah Muh. Izzul Muslimin, Taufiqurrahman, Taufan Agasta dan Pupung Pursita. Sedangkan teman-teman dari Pimpinan Wilayah antara lain adalah Andi Mitro Jayadi, Nurlinda Azis, Irfan AB, Alfiah Firdaus, Nurjannah Nurdin (almh), dan Chaerati Saleh.

Pada awal berita tentang dikirimnya tiga nama sebagai calon pejabat Walikota Makassar oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ke Pemerintah Pusat, filing saya mengatakan besar kemungkinan Pak Iqbal yang akan terpilih. Selain karena beliau merupakan pamong senior, pun tampaknya dia tidak memiliki tendensi apapun. Lihat saja program kerjanya yang dimuat diberbagai media, sangat sederhana dan tidak muluk-muluk. Lagipun mengingat bahwa kedua rivalnya merupakan figur yang hampir memiliki peluang yang sama ditilik dari aspek politik, maka Pak Iqbal akan menjadi alternatif terbaik.

Jabatan sebagai pejabat Walikota memang bukanlah jabatan independen. Walaupun memiliki kewenangan dalam berbagai hal terkait dengan pengaturan roda pemerintahan, tetapi masih ada keterbatasan-keterbatasan yang mengitarinya. Maka jangan heran, meski belum dilantik, Pak Gubernur Nurdin Abdullah, sudah mewanti-wanti bahwa jabatan tersebut dapat dievaluasi setiap saat, dengan berbagai pertimbangan tentunya. Baik atas pertimbangan kinerja, dinamika politik, maupun mungkin sesuatu yang terjadi di luar nalar sehat. Sebab dalam konteks politik, jika pemimpin di atasnya menginginkan sesuatu, satu dua dalih bisa dicari. Objektif atau sebaliknya, itu perkara belakangan yang dapat didiskusikan kembali jika terdesak.

Sebagai kader Muhammadiyah, tentu saya secara pribadi turut bersuka cita atas amanah yang diberikan negara kepada kader terbaik Muhammadiyah menjadi pemimpin. Dalam faham sederhana saya, pemimpin adalah penguasa yang boleh menjalankan kekuasaannya untuk sesuatu yang dipandang baik. Secara sah, dia berhak mengatakan A atau B dalam menjalankan roda pemerintahannya. Patutlah kita berharap kepadanya agar dalam menggunakan kekuasaan yang ada pada beliau, dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip kebaikan untuk kemaslahatan masyarakat, meliputi aspek jasmani dan rohani. Sebab tugas penting bagi seorang pemimpin adalah memastikan jalannya roda pembangunan yang berujung kepada kesejahteraan rakyat. Bahwa pembangunan yang dijalankan tidak hanya berwujud pembangunan fisik. Ia harus seimbang dengan pembangunan mental dan spritual warganya.

Dalam hal ini, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Persyarikatan Muhammadiyah, maka Bang Iqbal sebaiknya memiliki naluri dakwah dalam menunaikan visi dan misinya. Muhammadiyah adalah organisasi dakwah dengan misi amar ma’ruf nahi mungkar. Artinya bahwa dimanapun berada dan dalam posisi apapun, kader Muhammadiyah perlu mengemban visi dan misi tersebut. Dalam pandangan saya, visi dan misi dakwah tidak harus selalu terkait dengan masjid dan ibadah ritual semata, atau dengan berbagai istilah yang kerap dipandang asing oleh pihak tertentu. Justru dakwah dalam pembangunan harus diwujudkan dalam bentuk yang lebih luas dan menyeluruh, adil dan merata. Tentunya yang mencerminkan nilai-nilai luhur yang diperpegangi oleh bangsa ini.

Kepada seluruh warga Persyarikatan Muhammadiyah, khususnya yang ada di Kota Makassar, mestilah mengawal kepemimpinan beliau menjalanan amanah negara. Bentuk pengawalan yang dimasud tentu dengan berbagai ragam, seperti memberi masukan dan kritikan terhadap pembangunan yang dijalankan. Jika baik diapresiasi, bila terdapat kelemahan, tentu harus diingatkan yang cara hikmah dan bijaksana.

Satu lagi yang ingin saya katakan adalah kita warga Muhammadiyah, jangan terlalu banyak berharap kepada beliau. Memberi ekspektasi yang tinggi, yang tidak mampu dilasanakan atau tidak sesuai dengan keinginan kita. Keinginan yang boleh jadi dapat menjadi sesuatu yang melahirkan beban berat. Tulisan ini saya buat sebagai pengganti karangan bungaku atas pelantikan beliau.***

Bakung, Samata Gowa
Ahad, 12 Mei 2019

*) Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar / Sekretaris Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan

Facebook Comments