Home Mimbar Ide Mudik, Nietszche dan Kepulangan Abadi

Mudik, Nietszche dan Kepulangan Abadi

0
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Bulan Ramadhan benar-benar telah memasuki hari-hari terakhir. Sesuatu yang kasat mata begitu menawan dan menggoda, tetapi bulan Ramadhan laksana sosok ‘paling nyata’ akan meninggalkan kita di tengah citra artifisial dan ilusi menghingarbingarkan kehidupan. Paling nyata berarti aktualitas Ramadhan menampakkan dirinya dalam kerahmatan, keberkahan dan keampunan yang diharap dapat membekas nan berjejak akibat amalan kebajikan selama bulan Ramadhan. Pada umumnya, sarana umum seperti terminal, bandara, stasiun, dan pelabuhan nampak sesak dipenuhi oleh para pemudik. Memang, fenomena mudik menjadi tradisi masyarakat di Indonesia. Dapat dikatakan, kita melihat dan bahkan terlibat langsung dalam suatu pergerakan dari kota ke kampung halaman sesuai makna tradisionalnya, dari kepengapan menuju kemurnian, dari kejauhan ke kedekatan yang murni dan cair.

Dalam persfektif teologis-Islam, sebagaimana makna Idul Fitri, mudik dapat berarti “sesuatu yang fitrah”, “Kembali ke Asal”, Kembali ke Kesucian”. Karena itu, mudik identik dengan idul fitri. Dari sisi bahasa, kata ‘Id’ memiliki akar kata yang sama dengan ‘awdah’-‘awdatun’ dan ‘istiadatun’ yang berarti “kembali” atau “berulang”. Hal ini menunjukkan, bahwa mudik atau hari raya Idul Fitri dilaksakan sekali setahun dan mengalami ‘pengulangan’. “Fenomena mudik adalah momentum pengulangan agung”. Pengulangan menuju pembentukan kembali jati diri manusia yang asli tanpa permainan topeng, tanpa kelabu dan tanpa tiruan.

Disamping itu, mudik dalam makna kembali ke asal (fitri, suci), ia juga merupakan “pergerakan”; suatu pergerakan beragam dari tatanan paradoks ke tatanan Ilahi, dari kezaliman ke Cahaya, dari lempeng busuk ke Ruh-Suci, dari pikiran picik ke pikiran terbuka, dari nafsu-materi ke gairah-spiritual, dan sebagainya. Disini kita akan mengatakan tanda-tanda mudik (i) pergerakan terus-menerus berlangsung sepanjang hayat dikandung badan. Pergerakan dari satu jejak ke jejak baru, dari satu lompatan ke lompatan baru-“Realitas Tertinggi”. Singkat kata, mudik dan Idul Fitri merupakan gabungan ‘yang sama’ dalam ‘yang berbeda’ dan (ii) karena prinsip pergerakan, mudik dan ‘menjadi’ sebagai proses dibawa bersama-sama dalam cermin tanpa pertentangan antara sosok-gambar dan pantulan bayangan. Apa yang ada dalam cermin, itu pula yang menegaskan diri kita. Cermin ditemukan dalam pandangan filosofis-ilmiah, bahwa ‘cermin’ sebagai cara melihat sesuatu secara ‘obyektif’. Sebagaimana manusia bersifat fitri tidak diciptakan sebagai makhluk kotor dan jahat, melainkan ‘menjadi baik’ atau ‘menjadi benar’. Pergerakan membentuk proses menjadi sebagai sesuatu yang alami. Manusia bebas bergerak menjadi Ilahi yang mampu mengeluarkan dirinya dari lingkaran kejahatan, melepaskan dirinya dari ruang hampa. Melalui model mudik dengan Idul Fitrinya, bagaimana manusia ‘menjadi’ menentang model miniaturisasi kekacauan yang berbiak melalui citra lebih luas dan bergerak kemana-mana. Mudik ditentukan oleh hukum Idul Fitri, bukan pertentangan antara kekacauan dan lingkaran. Setiap sesuatu yang terlempar dalam wilayah kekacauan dan lingkaran kegelapan, maka orang-orang sulit mengenal dirinya sebagai sesuatu fitrah akibat menjauhi pusat gravitasi Ilahi. Dalam kembali ke asal, seseorang berada dalam satelit dan orbit Tuhan. Kemiripan dapat ditemukan dalam diri para pemudik seperti antara ‘satelit’ dan ‘ciptaan’ (makhluk), ‘orbit’ dan ‘Pencipta’ (Khalik). Pergerakan terjadi dalam diri manusia, ‘menjadi penyayang’, menjadi pemberi rezki atau menjadi pencipta seperti santunan pada fakir miskin dan menciptakan rumah yang satu ke rumah baru. Berkat mudik yang fitri, kita akan menemukan diri kita sendiri: “Anakku telah pulang”, seru Ibu. Hasrat, gairah dan gagasan untuk ‘menjadi kembali’ akan menimbulkan ketenteraman batin (QS [13]: 28). Menjadi kembali ke rumah asal kita. Tidak berarti puasa Ramadhan dari orang-orang beriman telah membakar rumah kita yang asli-rumah Tuhan, melainkan membakar sifat-sifat tercela, tabiat buruk atau nafsu jahat kita. Sehingga relasi antara pengetahuan dan agama memerlukan para pemudik yang awas dengan pemikiran baru yang bergerak secara terbuka, menanjak, berliku, dan jujur. Suatu pergerakan kembali ke asal-kampung halaman menjadi ‘tanda kebahagiaan’ tersendiri yang tidak terbayangkan. Disinilah mudik mendapatkan momentum setelah ia ditransformasikan dalam nilai simbolik dari Ibu, Ayah dan Anak. Sekian lama tidak berjumpa, kerinduan anak pada orang tuanya yang sangat dalam ditumpahkan melalui peristiwa mudik. Anak dan para pemudik lainnya ‘menjadi’ ‘pencipta’ suasana keharuan sekaligus kebahagian diantara sanak keluarganya.

Satu-satunya pemenuhan hasrat dalam momentum mudik adalah hasrat akan kembali ke asal, hasrat menjadi bahagia dan rindu akan kampung halaman-fitrinya. Keuniversalan atas kerinduhan atau kebahagian manusia berarti juga sebagai ‘kelahiran kembali ke asal’ melalui momentum mudik. Nilai simbolik dalam relasi pergerakan keluarga dan sosial mencoba menjadi dirinya sendiri dengan cara membebaskan dirinya dari belenggu ilusi, main-mainan dan tidak nyata. Mudik dengan jiwa Idul Fitri menjadi bentuk pergerakan untuk menentang sesuatu yang palsu dan tidak nyata, sekalipun anak-pemudik-manusia sebagai ciptaan meniru sang Pencipta, seperti obyek ciptaan masakan, rumah, busana, dan kendaraan.

Dalam diskursus pemikiran Islam, titik pergerakan dimulai dari persaksian manusia sebelum mengarungi realitas luar dengan pengakuan bahwa Allah merupakan Maha Mutlak satu-satunya Tuhan yang Maha Esa dan kepada-Nya lah kelak kita kembali (QS [7]: 172). Mudik sebagai pergerakan yang menempatkan para pemudik-peziarah dalam sejauh-jauh perjalanan akan kembali ke asal kejadiannya-Fitrah. Seego-egonya manusia untuk tidak mengakui adanya Tuhan, dalam perhitungan waktu, mereka akan kembali pada Sang Maha Penciptanya. Secara kefitraan diskursif, kerinduan itulah akan mudik-kembali ke asal, kampung halaman menjadi pengendali atas kelenyapan makna, ketidakterkendalian hasrat dan kekusutan pikiran. Jadi, pergerakan para pemudik ke kampung halaman dikonsolidasikan dengan pergerakan aktual dari ‘dalam’ ke ‘luar’, dari rahim Ibu ke petala Bumi dan kembali Ibu atau dari kedalaman (fitra-rumah asal) ke permukaan (rumah murni, kampung halaman-sanak keluarga). Tetapi, mudik-fitri tidak berkaitan dengan jalinan tubuh dan lingkaran nafsu-kebinatangan. Mudik akan hidup dan bergerak dalam dirinya sendiri yang sejalan dengan fitrinya. Kata lain, bahwa mudik dan para pemudiknya hanya mampu merefleksikan dirinya dengan jalan keluar dari seonggokan daging yang membeku dan mati. Ia hanya mampu menempuh pergerakan sejauh mungkin sejauh pergerakan dirinya menuju asalnya. Dari satu titik ke titik lain pergerakan menjadi selalu baru dalam kehidupan. Dimana ia memulai, di situ pula akan memulai membangun “rumah barunya”. Rumahnya adalah mudik-kembali ke asalnya sendiri.

Menurut Nietszche, pengulangan, pembentukan dan penegasan kembali atas kemungkinan merupakan momentum pertama dari lemparan dadu. Momentum kedua menandakan kelahiran dan kepulangan abadi dari penganut agama tertentu yang menolak untuk merayakan kebahagian di bumi. Mereka yang akan bermudik tidak cukup hanya lemah karena menahan lapar, tetapi juga ingin kembali kepada Tuhannya, ke kampung halaman-rumah barunya. Silih bergantinya pengorbanan dan kebahagian sulit kita mengungkapkan, kecuali suatu kemungkinan. Mudik atau kembali ke asal terdapat pengulangan atas kemungkinan akan bertemu dengan kedua orang tua, sanak keluarga dan tahun berikutnya atau tidak. Boleh jadi, bulan Ramadhan dan mudik-Idul Fitri tidak berjumlah dengan kita atau orang tua sudah meninggal. Para pemudik perlu memiliki kekuatan untuk membangun harapan dari bahaya kehancuran atas kembali ke asal. Mereka menjadi “kepulangan abadi” kembali dari kehancuran (lihat The Will to Power, 1968, Vintage Books, New York, hlm. 543). Seperti bulan Ramadhan, mudik juga melayangkan “undangan” yang tujukan calon pemudik yang akan kembali ke kampung halamannya. Titik pertemuan antara “mudik” dan “kepulangan abadi” terletak pada ‘kemungkinan’. Ada kemungkinan akan mencicipi kua lebaran di kampung halaman, merasakan lezatnya masakan keluarga atau kemungkinan silaturahim sering terjalin dengan tangan terbuka. Dari kemungkinan itulah kita akan menemukan suatu titik dimana pertama kali kita lahir, berproses dan bergerak terus-menerus dalam kehidupan. Dalam Islam, dunia adalah jembatan akhirat. Pergerakan sang pemudik merupakan pergerakan tanpa henti atau tanpa finalitas yang membuatnya tidak ada kekacauan dan kehancuran. Para perindu kembali ke asal memandang dirinya sebagai bagian dari pergerakan terus-menerus tatkala dirinya sementara tidur, sekalipun seluruh tubuh nampak tidak bergerak, tetapi jantung tetap berdetak yang mendistribusikan tanda kehidupan sebagai aliran organik. Mudik tidak lebih dari ‘bio kosmik” yang memancarkan energinya kefitrian sambil memasuki sel-sel kehidupan: sanak keluarga, kerabat di kantor. Sesungguhnya keberkahan yang memuncak ditularkan melalui energi mudik. Pandangan Nietszche terhadap kepulangan abadi berbeda dengan mudik sebagai pergerakan kembali ke asal. Nietszche menilai kepulangan abadi yang bersifat Ilahi sebagai bagian dari perwujudan nihilisme (1968: 10). Itulah mengapa pengulangan dalam seluruh nilai (jika termasuk mudik) berarti juga durasi yang sia-sia pada saat ini nihilisme kembali dipertontonkan, termasuk eksistensi dan makna dalam pengulangan abadi (1968: 35). Akhirnya, pergerakan dengan penciptaan diri kembali ke rumah setelah kekacauan dan pertentangan diri supaya terberkahi, sehingga tidak ada lagi kelimpahan dan bermain atas pertentangan kembali pada kepulangan abadi (1968: 550). Sebaliknya, mudik yang merindukan kefitrian hingga berjumpa dengan Tuhannya menandakan kepulangan abadi dari sisi hari pembalasan dan hari perhitungann atas segala perbuatannya selama di dunia. Mudik sebagai pergerakan terus-menerus atau perjalanan panjang yang diemban oleh manusia menjadi puncak penciptaan karena ketinggian derajat dan kesempurnaan kejadiannya dengan roh-Nya ditiupkan padanya (QS [38]: 72). Menurut Gilles Deleuze, kepulangan abadi adalah ‘ada’ dari ‘menjadi’ (lihat Nietzsche and Philosophy, 1963, Columbia University Press, New York, hlm. 101). Sementara dalam Islam, kepulangan abadi dari mudik adalah ‘ada di sana’. Sebagian ciptaan Tuhan dianugerahkan dan dimanahkan pada manusia (seperti para pemudik) sekali lagi akan mencari jalan, yaitu “jalan kembali ke asal” dan “kembali menjadi fitri” sebagai mode wujud untuk membebaskan dirinya dari belenggu budak dunia. Esensi mudik adalah juga mengembalikan manusia “menjadi” manusia yang fitri.

*) Sekretaris PD Muhammadiyah/ASN Bappeda Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments