Home Mimbar Ide Gadis – Gadis Malam

Gadis – Gadis Malam

0
Furqan Jurdi (tengah)

Oleh : Furqan Jurdi*

Dialah pengkhayal yang rumit, penyanjung gila, provokator murahan. Kalian jangan membacanya, apalagi mendengarkannya. Dia ada bahaya bagi para kaum muda, bahaya bagi kalian yang masih gadis.

Permainan kata-katanya hanya imajinasi, karena itu tinggalkan perkataannya. Kalian akan rusak karena kata-katanya, dan menjerumuskan kalian ke dalam kejahatan.

Pikirannya akan menyisahkan kemalangan, dan kalian akan menjadi berbahaya. Kata-katannya yang keras, memperlihatkan kemarahannya.

Tanggapan gegabah itu muncul dari kepala si malas berpikir. Karena Catatan-catatan ku membahayan indoktrinasi mereka, menghalau nafsu mereka, menantang tradisi perbudakan pikiran yang ingin mereka lestarikan.

Mereka terlalu ambisi menjadi nabi-nabi bagi pikiran remaja-remaja itu, mereka ingin manusia itu menjadi robot, dikendalikan pikirannya oleh mereka.

Aku tidak mau mengutuk mereka, tetapi sejujurnya mereka itu bodoh. Mereka tidak mengerti, kaum malas berpikir.

Orang-orang ini adalah penyumbang dari lemahnya dan kasarnya pikiran hati gadis itu. Mereka menciptakan semacam phobia untuk melestarikan hasrat mereka.

Sudah berapa banyak orang-orang yang kolot yang tercipta dari cara picik yang mereķa sumbangkan selama ini? Sudah ratusan orang yang anti melihat manusia karena yang ia lihat hanya semacam bentuk luarnya saja.

Kegagalan itu mereka rayakan dengan pesta kebodohan. Tanpa rasa malu meminta gadis itu untuk tidak membaca tulisan-tulisan keras, supaya hatinya mereka menjadi kasar dan lemah. Karena kelemahan itu, mudah bagi mereka merenggut sisa akalnya.

Mereka ingin hati gadis itu mereka tipu dengan kedok, bisa membuatnya terombang ambing oleh fantasi hasrat, supaya niat jahat mereka untuk memperbudak pikirannya berjalan sempurna.

Mereka menyuruh gadis-gadis itu untuk pergi dari nasehat, kemudian menawarkan obat bius untuk melucuti pikirannya sehingga dengan kata-kata, mereka kecohkan pikirannya.

Pemalas ini adalah nabi-nabi palsu pembawa kebijaksaan semu. Melontarkan kata-kata yang mereka sendiri tidak mengetahui maknanya, memaksa kebodohannya untuk diakui oleh orang.

Aku malas sebenarnya mencaci-maki mereka, hanya menambah kegilaan kita. Saya melihat sifat kebinatangan dikepalanya.

Tetapi pikiran para pengamal kebencian dan kekolotan itu tidak bisa menembus masuk pada kehidupan “Gadis-Gadis Malam” yang revolusioner. Perlawanannya teratur pada indoktrinasi sang pemuja hasrat itu.

Gadis-gadis malam menolak menjadi lemah hanya karena doktrin para penganjur nikah dan pengajar hasrat. Mereka tidak hanya hidup untuk hal semurah itu, mereka hidup untuk menjadi manusia.

Bagi para gadis itu, hidup bukan sekedar sandiwara percintaan yang kadang menyumbang derita abadi bagi perasaan manusia. Ada pertemuan ada perpisahan, tetapi bukan menjadi bahan diskusi dan kajian, itu kaidah dan hukum alam yg hidup.

Berapa banyak ratapan akibat hasrat gila yang mendorong manusia berlaku tidak normal.? Memuji segala kegilaan itu untuk memperlihatkan bahwa dirinya adalah pecinta.

Cinta, kata Gibran , adalah penderitaan abadi manusia yang menyumbang duka dan nestapa. Lalu kenapa orang selalu memilihnya? Lalu mengorbankan diri atas kata itu?

Adalah Majnun orang yang memilih menderita karena cinta. Kecintaannya kepada Layla membuat isI langit dan bumi tidak ada artinya bagi Majnun. Sementara Layla memilih Majnun hingga ia mati tersiksa karena kepedihan cinta yang tidak direstui. Masalah mereka adalah tradisi.

Gadis-gadis malam, menolak menjadi Layla, menolak menderita karena tradisi, menolak menjadi perempuan yang dikerangkeng oleh indoktrinasi semu mereka.

Wahai para penutur katakata bijak-sana, sini- malam ini, orang-orang telah melihat itikad burukmu, yang ingin memaksa orang lain menjadi sepertimu, lalu memaksa mereka mempecundagi dirinya untuk tujuan mengamalkan kepalsuan dari katakatamu.

Gadis-gadis malam itu telah berbicara kepadaku dengan berani, kepalsuan selama ini yang kalian bangun akan punah bersama dengan kemajuan pikiran. Mereka sudah muak dengan indoktrinasi, penyesatan berpikir dari kalian.

Karena itu, Aku tertarik dengan diskusi malam ini karena aku membayangkan ada oposisi yang keras terhadap para pemalsu sejarah itu. Itu memaksa kakiku melangkah pergi kepada kerumunan para gadis malam itu.

Mata mereka terlihat tajam menyoroti kedatanganku, beberapa diantara mereka sedang menikmati pembicaraan malam itu.

Hampir jam 10 aku ke sana, dua jam sebelum tengah malam. Topik pembicaraannya masih berapi-api, dan seterusnya menggelorakan semangat sesama mereka.

Diskusi di tutup setelah jam 12 lewat, karena pembahasannya begitu sangat luar biasa, antusias peserta diskusi mendengarkan topik pembicaraan itu sungguh mengagumkan. Mereka tidak beranjak sedikit pun sampai acara benar-benar telah selesai.

Di tengah orang-orang menganggap malam sebagai aib, justru mereka mengajak kaum perempuan berpikir. Ketika tradisi mengekang aktivitas malam, justru mereka mengadakan kegiatan malam.

Malam itu larut dalam pembahasan yang revolusioner. Gadis-Gadis anggun dan jelita itu meyakinkan kepada diri mereka dan kepada sesamanya, perempuan adalah bunga revolusi, selalu mekar meski musim gugur tiba.

Keterkungkungan cara berpikir, dan indoktrinasi adalah bahaya yang paling mengerikkan bagi eksistensi perempuan. Di dalam indoktrinasi mereka diminta untuk menjadi kasar dan lemah, pikirannya hanya untuk memuaskan hasrat penafsu besar dan membuat laris kata-kata kolot penganjur nikah muda.

Antara realitas dan tujuan akan melahirkan kontradiksi-kontradiksi, kalau saja kata2 kolot itu menjadi ide semua orang. Pemaksaan mereka terhadap orang lain atas Nafsu, hasrat, dan fantasi diri mereka, merupakan bentuk terburuk dari cara penganju2 itu.

Aku tak habis pikir, tiba-tiba nasehat gila itu ditolak secara mentah-mentah oleh para Gadis Malam itu. Mereka tidak melawan agama, tetapi mereka melawan kepecundangan pikiran.

Para gadis itu melakukan oposisi terhadap kepecundangan dari kata2 “bijak” Itu. Membuktikan bahwa indoktrinasi para penjual kata2 itu tidak ada artinya.

Penjual obat kuat sudah mulai lesu, pembuat ramuan tradisional hasrat kini kehilangan muka. Kepada siapa lagi mereka menjual obat dan jamu mereka kalau sudah ditolak oleh para gadis jelita ini.

Malam itu aku melihat secara seksama mulut dan tingkah para pembicara di depan, ada yang paling unggul dalam menyusun satu oposisi teoritik terhadap kelemahan indoktrinasi selama ini. Aku menemukan pikirannya sedang gamang, ia gelisah dan mengatakan gadis revolusioner secara berulang-ulang.

Aku mengaguminnya malam itu, dan seterusnya. Melawan indoktrinasi tidak bisa dengan pemberontakan langsung, ia harus diruntuhkan dengan pikiran. Dan pikiran gadis malam itu benar-benar meruntuhkannya.

Aku puas dengan pendapat empat pembicara itu, dan yang membanggakan adalah pendapatnya Ailah, dan dia benar-benar telah menganjurkan pikirannya untuk melakukan oposisi terhadap kebiasaan buruk para pendahulu mereka.

Itulah kenapa aku mengatakan malam itu, bahwa akhir dari kepalsuan adalah ketika di lawan secara teratur dengan pikiran.

Makassar, 16 Juli 2019

*) Penulis adalah Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Facebook Comments