Home Mimbar Ide Selamat jalan KH Maimoen Zubair

Selamat jalan KH Maimoen Zubair

0

Oleh : Noor Anni*

Kabar tak terduga datang dari K.H Maimoen Zubair. Selasa, 6 agustus 2019 ulama karismatik itu kembali ke pangkuan sang khalik. Kiyai yang juga Mustasyar Pengurus Besar Nadhlatul Ulama dan Ketua Majelis Syariah PPP menghembuskan nafas terakhir pada usia 90 tahun. Di rumah sakit An Noor Al Fatihah, Makkah pukul 04.17 waktu setempat.

Saya belum pernah melihat rupa kiyai secara langsung. Hanya saja, wajahnya wara wiri di televisi. Kutipan-kutipan agamanya pun terpampang di media sosial.

Iklim politik belakangan ini menyeret sosoknya. Mengingat kiyai sebagai ulama sepuh negeri. Membuat ia jadi incaran para politikus. Untuk mendengar petuah. Juga meminta restunya.

Apalagi jabatan kiyai pada gabungan partai – partai Islam yaitu PPP. Salah satu partai bersinar dalam jajaran koalisi Jokowi – kiyai Ma’ruf amin. Sebelum ex ketua PPP memakai rompi oranye. Kabar yang membuat kiyai kecewa. Kekecewaannya menjadi sasaran empuk pewarta.

Walhasil, perasaan kiyai yang tak betul-betul bisa kita fahami. Bukan hanya sebagai sosok yang lama bergumul di organisasi islam. Tapi lebih utama sebagai alim ulama. Hanya menjadi headline di salah satu media online.

Walaupun masih berada dalam lingkup politik. Tapi tugas beliau sekedar memberi fatwa keagamaan. Jika diperlukan kiyai juga akan memberikan nasehat atau arahan tentang persoalan kebangsaan, difokuskan pada ajaran agama islam.

Kekecewaan kiyai tak akan kita temukan lagi. Rasa itu telah terkubur bersama jasadnya di Makkah. Diantara gemuruh suara talbiyah jama’ah haji. Di sekitar ruh-ruh syuhada. Ruh yang senantiasa hidup. Sebagaimana dikabarkan seseorang, bahwa kehidupan memiliki dimensi yang berbeda.

Seperti kisah nabi Khidir AS dan Ainul Hayat. Seperti Nabi Isa AS yang diselamatkan Allah kelangit. Seperti ahli kubur yang tak henti-hentinya kita kirimkan salam ketika ziarah. Ini semua petanda, bahwa tak ada yang benar-benar pergi.

Namun, kabar ini tetap meninggalkan perih. Duka itu bagai awan hitam menyelimuti bangsa. Buktinya di lini masa FB, orang-orang  menyampaikan berbagai ekspresi kehilangan. Paling dekat saya rasakan di grup whatssupp. Tak hentinya anggota grup mengirim video kiyai. Saat kiyai mencium hajar aswad. Ada juga ceramah tentang keistimewaan wafat dihari selasa. Suara kalem kiyai di video itu, sontak membuat bulu kuduk saya merinding semalam. Ketika saya menyadari beliau meninggal pada hari selasa. Dinegeri sarat keberkahan.

Akhirnya saya beranikan diri menulis tentang kiyai. Bukan mengenai kehidupan masa lalunya. Sebab saya sungguh tak tahu. Pun tiap keputusan berkaitan dengan amanah yang diembannya. Saya fikir, itu cukup jadi penilaian pribadi saja. Mengkaji nasehat-nasehat sederhana miliknya,  urung saya lakukan. Di satu sisi saya menyadari awamnya saya, sementara disisi lain kesederhanaan bahasa kiyai adalah muara dari ketinggian ilmunya. Tapi yang sedikit bisa saya fahami dari kiyai yaitu gagasan mengenai toleransi.

“Harus toleransi. Toleransi artinya jangan perbedaan agama membuat kekisruhan. Agamamu, agamamu, agamaku, agamaku. Oleh karena itu harus mempunyai peradaban. Yang bertentangan nda usah disatukan, nda usah dibuat ramai-ramai”, pesan kiyai, saya kutip dari media.

Saya berusaha memahami ruh pesan ini, sebagai gerak dalam mempertahakan ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama islam), ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia), dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama bangsa).

Gagasan yang mengingatkan saya pada sosok nabiullah Muhammad SAW. Teguh pada agama Allah, sangat lembut pada sesama manusia tanpa pandang bulu. Bahkan nabi, tak mencederai hak-hak ahlu dzimmah sebagai minoritas yang bernaung di kekhalifaan.

Salah satu contoh, kisah kebaikan nabi pada seorang pengemis buta beragama yahudi. Orang itu tiap hari berteriak mencela nabi. Sementara ia tak tahu bahwa orang yang selalu mengunjungi dan menyuapi makanan dimulutnya dengan penuh kasih adalah nabi.

Kiyai mengambil hikmah dari kisah-kisah semacam itu. Melanjutkan tongkat estafet nabi dengan memperlihatkan wajah islam sebenarnya. Yaitu rahmat bagi seluruh alam.

Kiyai yang selalu berada ditengah kubu bersilangan dalam islam. Merupakan ikhtiarnya mempererat ukhuwah islamiyah. Agar tak berkembang faham-faham atheisme dan faham lain yang berpotensi mendangkalkan agama islam.

Ceramah-ceramahnya yang berbahasa santun, tanpa menyinggung umat agama berbeda. Tak lain, untuk menjaga ukhuwah insaniyah. Kiyai ingin merangkul tanpa kekerasan.

Keberpihakannya pada pancasila, saya artikan sebagai upaya mencegah dan menentang disintegrasi yang merusak keutuhan bangsa. Hasil ijtihadnya, agar indonesia layaknya negeri saba, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Kiyai sosok yang langka. Menghadirkan harmoni, melalui perkawinan agama dan kebangsaan. Sepak terjangnya dalam pendidikan islam. Sejak kecil menuntut ilmu nonformal di pesantren, lalu melanjutkan pendidikan agama ke kampung nabi, Makkah.

Ilmu yang diperoleh lalu diamalkan ke santri-santri di pesantren miliknya. Pondok pesantren Al Anwar di tanah kelahirannya, Rembang, Jawa Tengah. Serta keterlibatan kiyai dalam panggung politik sebagai mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat juga Majelis Permusyaratan Rakyat. Sungguh, semesta benar-benar kehilangan.

*) Penulis adalah politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan pengurus KNPI Maros

Facebook Comments