Home Mimbar Ide Hilangnya Ruh Estetika di Kota Enrekang

Hilangnya Ruh Estetika di Kota Enrekang

0

Oleh: Suherman*

Tepatnya pada taggal 18 Agustus 2019, warga masyarakat Kota Enrekang berkumpul di salah satu pusat keramaian kota yaitu di Lapangan Batili, Enrekang. Ratusan orang hadir pada kegiatan yang diselenggarakan pada malam hari itu memberi kesan ramai salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Enrekang, yang tidak lain merupakan rangkaian dari kegiatan peringatan HUT RI yang ke 74. Adapun kegiatan yang dimaksud, diberi label oleh Panitia Pelaksana sebagai kegiatan Ramah Tamah. Pada dasarnya, kegiatan ini memang setiap tahun digelar di Kota Enrekang, dan bahkan boleh dikata sudah menjadi agenda wajib dalam rangka perayaan HUT RI khusunya di tingkat Kabupaten Enrekang.

Dalam kegiatan Ramah Tamah tersebut, Lapangan Batili yang menjadi lokasi kegiatan dikelilingi oleh tenda-tenda (stand/booth) dari berbagai instansi pemerintahan yang ada di Kabupaten Enrekang. Sesuai label kegiatan, memang kegiatan tersebut disamping sebagai rangkaian perayaan HUT RI yang ke 74, juga sekaligus merupakan ajang silaturahmi baik antar instansi pemerintahan, maupun warga masyarakat Kabupaten Enrekang secara keseluruhan.

Sisi lain yang menarik dari kegiatan Ramah Tamah yang berlangsung sekitar 5 jam itu, di mana para anggota PASKIBRAKA Kabupaten Enrekang pun hadir lengkap dengan kostumnya, dan kemudian melakukan atraksi berupa yel-yel yang sontak mengundang perhatian seluruh komponen masyarakat yang hadir. Kemudian yang tak kalah menarik lagi, di mana sitiap instansi menyuguhkan berbagai macam menu makanan dan minuman kepada pengunjung secara gratis di standnya masing-masing. Pengunjung tinggal memilih stand instansi yang mana dan kuliner apa yang ingin dicicipi, sekalli lagi semuanya gratis.

Akan tetapi, terlepas dari keramaian dan keharmonisan yang tercipta pada malam hari itu, terdapat pula suatu fenomena yang menurut hemat penulis urgen namun kurang dan bahkan hampir tidak sama sekali diperhatikan, khususnya oleh panitia sebagai penyelenggara kegiatan. Fenomena yang dimaksud adalah “nuansa estetika” dari kegiatan Ramah Tamah yang berlangsung cukup meriah itu. Padahal jika boleh dikatakan bahwa, segala sesuatu akan menjadi hambar tanpa nuansa estetika, tasteless. Meminjam pribahasa klasik, “bagaikan sayur tanpa garam”.

Hilangnya nuansa estetika dalam kegiatan tersebut dapat dilihat dari suasananya yang terlalu kaku, dan yang paling penting di sini adalah, dalam susunan atau schedule acaranya hapir dan bahkan boleh dikata tidak ada sama sekali agenda yang mengandung unsur Kesenian. Yang ada hanya sambutan-sambutan, penyebutan nama-nama pemenang lomba, yang juga sudah kehilangan kesakralannya karena hanya disebutkan saja tanpa menyerahkan secara langsung piala kepada pemenag seperti bisanaya, dan beberapa lagi di antaranya yang semuanya termasuk dalam kategori “formal”. Padahal, perlu diketahui bahwa tanpa seni atau kesenian, estetika pun tidak akan muncul ke permukaan, karena seni dan estetika selalu berjalan beriringan dan tidak dapa dipisahkan satu sama lain. Bahkan, menurut salah satu pemikir estetika, Martin Heidegger, estetika merupakan Ruh dari Seni itu sendiri.

Sebenanrya mungkin sedikit naif jika dikatakan bahwa dalam kegiatan pada malam hari itu tidak ada sama sekali unsur kesenian. Pasalnya, setelah agenda formal selesai, beberapa musisi yang tergabung dalam kelompok atau group band asal Rutan kelas II B Enrekang, yaitu REF Company, juga diundang dan diberi kesempatan untuk tampil menghibur ratusan orang yang memenuhi lapangan batili. Akan tetapi, justru di sinilah letak permasalahannya yang paling kongkrit, karena seolah-olah music hanya dianggap sebagai pelengkap acara yang tidak begitu penting. Betapa tidak, panggung yang dijadikan tempat pertunjukan music tersebut, dalam hal ini panggung (tribun) lapangan batili, pada malam itu sangat tidak mendukung, tidak kondusif, dan terpenting adalah tidak adanya pencahayaan (lighting), sehingga para pemain music yang tampil tidak kelihatan di atas panggung. Di samping itu, soundsystem yang digunakan sangat terbatas (dan juga sedikit mengalami kerusakan) sehingga suara music yang keluar dari soundsystem sangat ‘tidak enak’ didengar. Hal tersebut pun sekaligus membuat para pemain music menjadi tidak mood untuk tampil, padahal menurut salah satu anggota REF Company, mereka telah mempersiapkan jauh hari sebelumnya agar maksimal saat tampil. Singkatnya, panggung pertunjukan musik pada malam itu sangat tidak estetik dan juga tidak etis.

Sekiranya, fenomena tersebut merepresentasikan atau semacam simbol bahwa “estetika” semakin dikesampingkan dan dianggap tidak penting khususnya di Kota Enrekang (sering disingkat Erkot atau Enrekang Kota) yang tidak lain merupakan pusat kota Kabupaten Enrekang. Dan dengan demikian, ketika hal tersebut berlarut-larut maka tidak menutup kemungkinan bahwa kedepannya Enrekang (Massenrempulu), khususnya Kota Enrekang, semakin mengalami dekadensi estetik yang pada gilirannya akan menciptakan kebudayaan yang, katakanlah ”miskin Estetika”. Semoga asumsi ini tidak betul-betul terjadi, cukup sampai di coretan singkat ini saja, karena fenomena semacam ini sungguh memperihatinkan, menyedihkan dan mengerikan. Salam Estetis.

*)Penulis adalah Dosen STKIP Muhammadiyah Enrekang

Facebook Comments