Home Kampus Hadirkan Bupati, HIPERMAWA PNUP Dorong Sejarah dan Kebudayaan Wajo Menjadi Mata Pelajaran

Hadirkan Bupati, HIPERMAWA PNUP Dorong Sejarah dan Kebudayaan Wajo Menjadi Mata Pelajaran

0

MataKita.co, Wajo – Himpunan Pelajar dan mahasiswa Wajo (HIPERMAWA) Koperti PNUP kembali melaksanakan Kemah Budaya di Kabupaten Wajo untuk ketiga kalinya, Dengan tema “Budaya Wajo adalah Budaya Kita, dengan Budaya Kita Berkarya” yang bertempat di Kawasan Rumah Adat Atakkae, kecamatan Tempe kab. Wajo.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13 hingga 16 Januari 2020. Adapun peserta kegiatan para siswa(i) tingkat SMA sederajat utusan sekolah yang ada di Kabupaten Wajo.

Berbeda dengan kemah budaya sebelumnya, kali ini HIPERMAWA PNUP menyelipkan seminar kebudayaan sebagai salah satu agenda kegiatan. Seminar ini diikuti oleh kepala sekolah, guru sejarah dan siswa.

Ketua Umum HIPERMAWA Koperti PNUP, Muhammad Ansar saat dikonfirmasi via whats app kepada Matakita.co mengatakan kegiatan ini merupakan medium bagi seluruh stake holder untuk melihat kembali bagaimana eksistensi sejarah dan kebudayaan lokal di kalangan generasi muda. Khususnya di lingkungan sekolah. Menurutnya, sejarah dan kebudayaan lokal tidak banyak mendapatkan tempat di lingkungan pendidikan.

“kegiatan ini sebenarnya berangkat dari keresahan teman-teman HIPERMAWA. Kami melihat ketidak – tahuan anak muda terhadap kebudayaan lokal adalah efek dari tidak diajarkannya budaya lokal dalam lingkungan pendidikan. Kurikulum sejarah yang ada selama ini lebih banyak memuat konten sejarah Jawa. Beruntung, sejarah dan kebudayaan Wajo dimasukkan dalam kurikulum pengkaderan hipermawa. Sehingga mahasiswa Wajo yang bergabung di dalamnya, setidaknya bisa mengetahui sejarah dan kebudayaan Wajo walau hanya secuil”, papar Ansar.

Mahasiswa PNUP ini melanjutkan bahwa kurikulum pendidikan memuat satu mata pelajaran muatan lokal. Menurutnya muatan lokal perlu diisi dengan konten kebudayaan dan sejarah Wajo. Namun hal tersebut dapat dicapai jika ditopang oleh kebijakan atau regulasi.

“selama ini ada mata pelajaran muatan lokal. Hanya saja kontennya biasanya berisi tentang pertanian, pembuatan kompos, dll. Muatan lokal ini akan lebih baik lagi jika diisi dengan konten sejarah dan budaya Wajo. Di sini, kita membutuhkan regulasi dari pemerintah daerah sebagai payung hukum dari hal tersebut”, lanjutnya.

Kegiatan ini menghadirkan 3 narasumber dari berbagai latar belakang. Turut hadir sebagai narasumber Dr. H. Amran Mahmud, S. Sos, M. Si selaku Bupati Wajo. Dr. Muhlis Hadrawi, S.S,M.Hum selaku akademisi Universitas Hasanuddin dan Andi Rahmat Munawar, S. Sos, M. Si dari kalangan praktisi.

Bupati Wajo, Dr.Amran Mahmud, S. Sos, M. Si dalam paparannya menyampaikan harapannya, agar kegiatan ini dapat melahirkan gagasan yang bisa menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk merumuskan blue print terkait pengembangan sejarah dan kebudayaan Wajo.

“kami berharap kegiatan ini dapat melahirkan gagasan-gagasan yang dapat kita tindak lanjuti bersama. Setelah tadi berkomunikasi dengan kedua narasumber, bapak Muhlis dan Andi Rahmat, kita berharap kegiatan menjadi awal untuk menyiapkan dokumen yang dapat menjadi blue print pengembangan sejarah dan kebudayaan Wajo”, ungkap bupati Wajo.

Seminar Kebudayaan ini menghasilkan 5 rekomendasi kebijakan. Salah satunya mendorong pemerintah daerah untuk merumuskan perda agar setiap sekolah memasukkan sejarah dan kebudayaan Wajo dalam kurikulum muatan lokal dan mengintegrasikan kebudayaan lokal Wajo dalam setiap mata pelajaran.

Facebook Comments