Home Mimbar Ide Khianat Sang Mandataris Rakyat, Refleksi Aksi Menolak Disahkannya UU Ciptaker

Khianat Sang Mandataris Rakyat, Refleksi Aksi Menolak Disahkannya UU Ciptaker

0
Advertisement

Oleh Immawan Muzakkir

MataKita.CO – Kondisi bangsa yang carut marut akibat pandemi covid-19 berhasil merubah sejumlah sendi kehidupan manusia menjadi serba terbatas. Pemerintah pun mengambil kebijakan dengan membatasi segala sendi kehidupan mulai ekonomi, pendidikan, dan bidang lainnya. Hal itu berdampak pada semakin sulitnya kondisi ekonomi masyarakat kelas menengah dan bawah yang rentan.

Masyarakat membutuhkan solusi real untuk keluar dari ketidakpastian tersebut dimana pemerintah berkewajiban menghadirkan jawaban dari permasalahan yang ada. Lebih dari sekedar membatasi berbagai sendi kehidupan melalui sejumlah regulasi yang dikeluarkan.

Tepat pada tanggal 5 Oktober 2020, DPR RI bersama pemerintah resmi mengesahkan Undang-undang Cipta Kerja yang dinilai problematik oleh sejumlah pakar dan akademisi. Undang-undang tersebut membahas upah tenaga kerja dan masa kerja yang tidak memihak pada pekerja. Selain itu, perizinan penggunaan tenaga kerja asing juga diberi kelonggaran sehingga sejumlah pihak menilai bahwa aturan tersebut hanya menguntungkan kaum pemodal-kapitalis. Akibatnya, mahasiswa dan masyarakat di sejumlah daerah termasuk ibukota jakarta melakukan aksi demontrasi sebagai bentuk penolakan atas disahkannya UU Ciptaker.

Sebagai mandataris rakyat, Pemerintah dan DPR harusnya membuka mata, memahami psikologis dan kekecewaan mereka terhadap disahkannya undang-undang tersebut. Mereka adalah rakyat pekerja, petani, nelayan, pekerja harian, dan kelompok marginal yang sering diabaikan dan menjadi korban dari kebijakan penyelenggaraan negara. Para wakil rakyat telah mengingkari dan merugikan rakyat meski kerapkali mengatasnamakan rakyat dalam setiap keputusan dan kebijakannya.

Ketika para elite politik dan pejabat negeri sudah kehilangan kesadaran etik dan nurani autentik sehingga aspirasi publik dianggap tidak punya arti, maka yang tumbuh hanyalah arogansi kekuasaan yang menindas.

Penulis adalah Ketua Umum Pimpinan Cabang IMM Kabupaten Sidrap

Facebook Comments
ADVERTISEMENT