Beranda Mimbar Ide Degradasi Lingkungan, Degradasi Moral

Degradasi Lingkungan, Degradasi Moral

0
Engki

Oleh: Engki Fatiawan*

Hari lingkungan hidup sedunia atau World Environment Day  kembali diperingati pada tanggal 5 Mei 2022.  Pada peringatan kali ini mengangkat tema “Only One Earth” yang merupakan sebuah bentuk kesadaran manusia bahwa hanya ada satu bumi di alam semesta ini. Bumi tempat hidup manusia dan makhluk hidup lainnya sampai saat ini belum bisa tergantikan sebagai tempat yang dapat memberikan kehidupan, kenyamanan, ketenangan, kesejahteran bagi manusia serta tempat melanggar hukum-hukum alam, saling menindas, saling membohongi, korupsi, dan perbuatan-perbuatan kotor manusia yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Sementara itu, KLHK menggunakan tema hari lingkungan sedunia yaitu “Satu Bumi untuk Masa Depan.” Tema tersebut juga merupakan kesdaran bahwa tidak ada lagi tempat lain kecuali bumi yang bisa tempati di masa depan. Ini juga merupakan suatu bentuk optimisme dalam menata dan memperbaiki kembali lingkungan yang telah rusak.

Dalam sejarah perjalanan hidup manusia dari berburu makanan, menetap dengan bertani untuk mendapatkan makanan sampai pada saat ini dengan peradaban manusia yang sangat maju yang menurut banyak orang semua ada digenggaman dengan kecerdasan artificial intelegence yang ada. Tentunya pada perubahan peradaban yang ada kemudian memunculkan kemajuan dari yang sebelumnya dan secara bersamaan adapula yang mengalami kemunduran. Semakin banyak gaya yang diberikan untuk maju maka ada yang di sisi lain gayanya semakin jauh kebelakang.

Sisi lingkungan merupakan sisi yang mengalami kemunduran. Kemunduran tersebut bukan hanya sebatas opini tetapi merupakan sebauh fakta yang kita semua merasakannya. Bagi yang tinggal di kota-kota besar pada penduduk banjir biasanya menjadi langganan tiap tahunnya. Kekeringan di musim kemarau pun akan terjadi di sebagaian wilayah. Perubahan iklim yang secara drastis yang tidak dapat diprediksi, yang dimana semua itu terjadi saat ini.

Hal tersebut di atas terjadi karena hukum alam dilanggar dengan merusak sistem yang sudah Tuhan ciptakan sebelumnya. Semua yang ada di alam semesta ini berjalan dengan prinsip kausalitas, setiap ada akibat pasti ada penyebab yang mendahuluinya. Dalam Al-Qur’an surah al-Fath ayat 23 menyatakan “sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah.” Sistem alam semesta adalah sunnatullah, dan setiap ada perubahan maka sistem tersbut akan berusaha untuk tetap pada sistemnya walaupun ada dampak yang ditimbulkan.

Degrdasi lingkungan tidak lepas dari perbuatan manusai itu sendiri karena untuk kemajuan peradaban yang lebih memudahkan, efisien, dan kenyamanan lainnya. Hal itu tidak ditolak dan tidak pula dilarang karena berguna bagi manusia. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah ketika itu dilakukan secara eksploitasi yang dapat merusak lingkungan fisik, sosial, dan budaya.

Pada perencanaan suatu wilayah terkadang hanya memberatkan timbangan pada bagian ekonomi yang katanya untuk kesejahteraan. Memang betul dengan ekonomi yang baik kesejahteraan juga tinggi, sejahtera untuk sekelompok orang-orang mereka bukan semua orang. Padahal seharusnya ekonomi, lingkungan fisik, dan sosial budaya berjalan seimbang sehingga tidak ada yang dirugikan.

Perbuatan rakus, eksploitasi, dan berbuat kerusakan di muka bumi sepertinya bukan hanya umat saat ini, melainkan umat-umat terdahulu pun berbuat kerusakan. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,(Ar-Rum: 41). Dan kemungkinan manusia ini sebagai makhluk cenderung berbuat kerusakan serta bertumpah darah di muka bumi.

Degradasi lingkungan dan degradasi moral adalah dua kemunduran yang terjadi saat ini. Ketika Immanuel Kant menyatakan moralitas adalah hal keyakinan sikap bathin, dan Robert J. Havighurst, moral adalah tata nilai kecenderungan pada kebaikan. Maka degradasi moral adalah kemunduran dari bebruat kebaikan atau dapat dikatakan sebagai yang berbuat kerusakan.

Degradasi moral dapat dikatakan sebagai pendorong terjadinya kerusakan yang terjadi di muka bumi. Olehnya itu, untuk memperbaiki kerusakan lingkungan maka terlebih dahulu yang diperbaiki adalah moral manusia. Pertama yang harus dikonservasi yaitu pola pikirnya. Mindset orang-orang saat ini harus diprogram dan disadarkan kembali bahwa tanah dan lingkungan adalah bagian dari kehidupan manusia.

*) Penulis adalah Mahasiswa Departemen Ilmu Tanah Unhas dan Ketua Umum Pikom IMM Pertanian Unhas

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT