MataKita.co, Makassar — Tim dosen dan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) menerapkan teknologi germinasi dan fermentasi terkontrol untuk meningkatkan mutu kopi Robusta di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan bersama CV Kawali Coffee Farm itu menyasar persoalan mutu kopi Robusta asalan. Kualitas bahan baku yang rendah, antara lain akibat penggunaan ceri kopi yang dipanen sebelum matang optimal, dapat memengaruhi cita rasa sekaligus nilai ekonomi produk.
Ketua tim pengabdian Unhas, Dr. Februadi Bastian, mengatakan program tersebut diarahkan pada dua kebutuhan utama mitra. Pertama, meningkatkan mutu green bean kopi Robusta asalan melalui teknik germinasi. Kedua, mengembangkan signature coffee melalui teknologi fermentasi terkontrol menggunakan bakteri asam laktat (BAL).
Program tersebut merupakan bagian dari hibah Pengabdian kepada Masyarakat, Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Memanfaatkan Proses Biologis
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah germinasi atau perkecambahan biji kopi. Teknik ini memanfaatkan aktivitas biologis di dalam biji untuk membantu membentuk karakter cita rasa kopi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Februadi, proses perkecambahan dapat mengaktifkan sejumlah enzim dalam biji kopi. Aktivitas tersebut berpotensi menghasilkan senyawa yang mendukung cita rasa sekaligus mendegradasi senyawa yang berkontribusi terhadap flavor defect atau cacat cita rasa.
Bagi Kawali Coffee Farm, pendekatan tersebut menjadi alternatif untuk memperbaiki kualitas kopi Robusta asalan yang selama ini menghadapi keterbatasan dari sisi mutu bahan baku.
Selain germinasi, tim Unhas memperkenalkan fermentasi terkontrol menggunakan BAL. Teknologi tersebut digunakan untuk mengembangkan karakter sensori kopi yang lebih khas dan diharapkan menjadi dasar pengembangan produk unggulan Kawali Coffee Farm.
“Dengan memperkenalkan metode fermentasi, kami ingin Kawali Coffee Farm memiliki produk signature sebagai produk khasnya sehingga dapat meningkatkan daya saing dan memperkuat positioning merek di pasar kopi,” kata Februadi.
Menurut dia, penerapan teknologi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan mutu flavor green bean kopi Robusta asalan sehingga memberikan nilai ekonomi lebih tinggi bagi kopi yang berasal dari Kindang.
Membangun Identitas Produk
Ketua Kawali Coffee Farm Andi Abdillah Suardi menyambut penerapan teknologi tersebut. Menurut dia, pengetahuan mengenai germinasi dan fermentasi memberikan alternatif bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas produk.
“Berkat materi teknik germinasi dan fermentasi yang diberikan, kami telah memiliki gambaran dan rencana untuk menghasilkan kopi unggulan yang berkualitas dan juga mendapat jalan keluar untuk memperbaiki mutu kopi Robusta asalan,” ujar Abdillah.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bagaimana pengetahuan dari perguruan tinggi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi pelaku usaha kopi di tingkat lokal.
Peningkatan nilai kopi tidak hanya bergantung pada volume produksi, tetapi juga pada kemampuan menjaga mutu, menciptakan karakter rasa, serta membangun identitas produk yang memiliki nilai tambah di pasar.
Melalui teknologi pascapanen, kopi Robusta lokal diharapkan tidak berhenti dipasarkan sebagai komoditas bahan baku. Produk tersebut dapat dikembangkan menjadi kopi dengan karakter khusus dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Dorong Nilai Tambah Kopi Lokal
Program pemberdayaan itu juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Peningkatan kualitas dan nilai tambah kopi diharapkan memperkuat potensi ekonomi masyarakat dan rantai nilai komoditas kopi. Sementara peningkatan kapasitas pelaku usaha dapat membuka peluang pengembangan produk dan pasar baru.
Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada 20 Juni 2026 di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba. Selain Februadi sebagai ketua, tim dosen terdiri dari Dr.rer.nat. Zainal dan Rahmat Nurul Prima Nugraha.
Program tersebut juga melibatkan tujuh mahasiswa Unhas, yakni Irham Rasyid, Harum Bunga Cinta, Nurhanifauziah Wijaya, Insani Lathifah, Shabrina Rafidah Harun, Andi Arnan, dan Febrio Rynaldo Tanwar.
Kolaborasi perguruan tinggi dan pelaku usaha ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem kopi Kindang sekaligus meningkatkan daya saing dan nilai ekonomi kopi Robusta lokal.








































