Beranda Mimbar Ide Katalisator Pemuda: Integrasi Isu Lingkungan, Ekonomi Sirkular, dan Industri Kreatif.

Katalisator Pemuda: Integrasi Isu Lingkungan, Ekonomi Sirkular, dan Industri Kreatif.

0

Oleh: Mochammad Yaza Azhari Britain*

Transformasi sosial dan pembangunan berkelanjutan membutuhkan intervensi strategis, terutama dari generasi muda sebagai agen perubahan. Seruan dan inisiasi dari Partai Bulan Bintang (PBB) untuk memobilisasi pemikiran kritis pemuda dalam merespons isu lingkungan, ekonomi, dan industri kreatif merupakan sebuah diskursus yang relevan.

Namun, agar diskursus ini dapat diimplementasikan, diperlukan pendekatan saintifik dan terukur berbasis data. Analisis ini menggunakan tinjauan literatur, data statistik, dan kajian akademis dengan fokus pada wilayah Sulawesi Selatan sebagai landasan empiris untuk merumuskan paradigma pembangunan yang berkelanjutan.

Berikut adalah tiga pilar utama yang membutuhkan pemikiran kritis dan aksi nyata dari generasi muda:

1. Degradasi Lingkungan dan Urgensi Mitigasi Ekologis

Isu lingkungan tidak lagi berada pada ranah yang tidak sesuai dengan pokoknya (peripheral), melainkan telah menjadi episentrum ketahanan nasional. Pola eksploitasi lingkungan yang tidak terkendali, seperti deforestasi dan pengelolaan limbah yang buruk, berdampak langsung pada stabilitas ekosistem dan kesehatan masyarakat.

Fakta dan Data Terukur: Berdasarkan berbagai literatur dan kajian lingkungan di Universitas Hasanuddin, kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang di Kota Makassar secara konsisten menerima lebih dari 1.000 ton sampah per hari dan telah mengalami overcapacity. Di sisi lain, degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang dan Walanae sering kali menjadi variabel utama penyebab banjir dan longsor di wilayah Sulawesi Selatan.

Dampak Multidimensi: Kegagalan mengelola sanitasi dan limbah tidak hanya merusak lanskap fisik, tetapi juga memicu patogen yang berdampak pada kesehatan publik (seperti peningkatan kasus demam berdarah dan gangguan pernapasan).

Peran Pemuda: Pemuda dituntut untuk beralih dari sekadar “peduli” menjadi inisiator advokasi kebijakan lingkungan (environmental policy advocacy). Diperlukan dorongan literasi ekologis untuk menekan laju deforestasi dan mengawasi regulasi pengelolaan limbah industri secara ketat.

2. Transisi Menuju Ekonomi Sirkular: Paradigma Closed-Loop System

Ekonomi sirkular merupakan antitesis dari model ekonomi linear (ambil, produksi, buang). Konsep ini berpusat pada efisiensi material, pemanjangan siklus hidup produk, dan minimasi residu melalui prinsip Reduce, Reuse, Recycle, dan Recover.

Studi Komparasi dan Kesenjangan Kebijakan: Negara-negara seperti Swedia (berhasil mengonversi residu menjadi energi listrik/ Waste-to-Energy), Jerman, dan Taiwan telah mengadopsi regulasi manajemen siklus tertutup (closed-loop management). Di Indonesia, transisi ini masih terhambat oleh kurangnya infrastruktur pemilahan di tingkat hulu dan regulasi ketatanegaraan yang belum mewajibkan standardisasi daur ulang industri secara menyeluruh.

Konteks Sulawesi Selatan: Literasi ekonomi sirkular di Sulawesi Selatan mulai menunjukkan embrio positif melalui sistem “Bank Sampah” yang masif di Kota Makassar (seperti Bank Sampah Pusat). Kajian ekonomi lokal menunjukkan bahwa integrasi pemulung, bank sampah sektoral, dan industri daur ulang mampu mereduksi volume sampah ke TPA hingga 10-15%, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi (PDRB) bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Peran Pemuda: Generasi muda perlu mendorong inovasi teknologi pengelolaan limbah dan mendesak pemerintah agar mengadopsi model sirkular ke dalam regulasi daerah (Perda), sehingga sampah tidak lagi dilihat sebagai limbah, melainkan sebagai komoditas atau bahan baku sekunder (secondary raw material).

3. Kapital Manusia dalam Industri Kreatif yang Berkelanjutan

Industri kreatif adalah sektor fundamental yang digerakkan oleh kapital manusia (human capital)—berkaitan erat dengan keterampilan, kreativitas, dan bakat intelektual.

Sinergi Ekologi dan Kreativitas: Industri kreatif saat ini tidak bisa lagi berdiri sendiri. Terdapat tren eco-preneurship, di mana produk-produk kreatif (kuliner, fesyen, kriya, teknologi).

Untuk itu, mari kita Bersama – sama menuangkan sebuah ide yang menjadi pergerakan Bersama untuk menciptakan ruang bagi generasi muda dalam pergerakan yang positif dalam wadah DPW PBB Sul-sel. Maju, bergerak dan menang!

*)Penulis Adalah Ketua DPW PBB Sulsel

Facebook Comments Box