Home HISTORIA Kepemimpinan Andi Selle (1)*

Kepemimpinan Andi Selle (1)*

0

Oleh : Sainal A**

72 Tahun perjalanan Bangsa Indonesia, sebagai Negara yang berdaulat. Usia yang cukup matang untuk menata kehidupan yang lebih baik. Namun, kondisi tersebut tidaklah berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan rakyatnya.

Satu persoalan mendasar yang selalu menjadi perhatian publik, yakni Bangsa Indonesia krisis kepemimpinan. Olehnya, tidaklah salah ketika kita sedikit merefleksi ketokohan para pendahulu bangsa baik tokoh nasional maupun tokoh lokal.

Pasca Indonesia merdeka, begitu banyak tokoh nasional seperti Soekarno, Hatta, Syahrir atau tokoh nasional lainnya yang selalu menarik perhatian untuk dikaji buah pemikirannya. Namun, tidak kala pentingnya ialah tokoh lokal yang juga menarik untuk dibedah pemikiran-pemikirannya.

Salah satu daerah yang menarik untuk diperhatikan ialah Sulawesi Selatan. Pasalnya, di daerah ini bermunculan tokoh lokal yang memiliki pemikiran serta  jiwa kepemimpinan mumpuni. Termasuk mereka yang hidup pada masa sebelum kemerdekaan atau mereka yang hidup pada masa kemerdekaan. Sebut saja, Abdul Qahhar Muzakkar, Usman Balo, Andi Sose serta tokoh se-zamannya seperti Andi Selle.

Refleksi ketokohan ditengah krisis kepemimpinan, menjadi suatu kebaruan ataupun dijadikan panutan dalam pengambilan keputusan demi kemajuan bangsa. Salah satu pemikiran tokoh yang dimaksud ialah Sosok Andi Selle. Tokoh satu ini, jarang diperhatikan khalayak publik. Olehnya, tulisan ini hadir untuk mengisi sedikit ruang kosong tersebut.

Sebelum lebih jauh membahas sosok Andi Selle. Penulis ingin menghadirkan sedikit sebuah pegangan hidup tokoh Bugis (toddopuli). Ada empat yang sering dijadikan prinsip setiap tokoh Bugis dalam kepemimpinannya. Pertama, alempureng (kejujuran). Kedua, amaccangeng (kepintaran/kecerdasan). Ketiga, agettengeng (ketegasan), warani (berani/keberanian).

Ke-empat prinsip hidup tersebut menjadi salah satu alat dalam melihat tingkatan kepemimpinan tokoh Bugis dari masa ke masa. Hal tersebut menjadi spirit atau ruh tersendiri para tokoh lokal Bugis dalam kepemimpinannya.

Keberhasilan yang diperoleh para tokoh yang disebutkan diatas, termasuk Andi Selle tidaklah diperoleh secara instan. Tapi melalui proses yang panjang dengan berbagai dinamika yang menyertainya.

Andi Selle dilahirkan di Pinrang pada tahun 1925 oleh seorang ibu yang bernama Andi Kalason dan ayahnya bernama Andi Nanrang (Harvey, 1989). Kehidupan Andi Selle dimasa kecil mengalami gemblengan yang cukup beragam menjadikan dirinya mengalami proses pendewasaan diri secara cepat. Belajar diberbagai tempat, termasuk pendidikan formal ataupun non formal menjadikannya sebagai sosok pemimpin yang dapat diandalkan masyarakat. Pendidikan formal yang pernah diikuti Andi Selle yakni Sekolah dasar di daerah asalnya Pinrang dan ‘sekolah normal’ Islam di daerah Mandar (Harvey, 1989).

Kepemimpinan Andi Selle mendapat kepercayaan oleh masyarakat pertama kali terlihat ketika ia dipercayakan menadi kepala Kampung Alitta Pinrang (1941-1954). Kedudukannya sebagai Kepala Kampung, ia mempunyai pengaruh yang cukup kuat khusunya dikalangan masyarakat Alitta. Hal tersebut didukung oleh ketokohan bapaknya yang dikenal sebagai pejuang yang tidak gentar melawan segala penindasan dari penjajah Belanda (Kila, 1995).

Tersebarnya kabar kemerdekaan yang begitu cepat diberbagai daerah, termasuk di Sulawesi merupakan medan perjuangan dalam menguji kepemimpinan Andi Selle. Pembentukan organisasi pejuang merupakan salah satu upaya dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamirkan. Pasca dibentuknya PNI (Pemuda Nasional Indonesia) Parepare, dibentuk pula Pemuda Suppa di Pinrang yang dipimpin langsung oleh Andi Selle. Ia diminta mengkordinir pemuda sejawatnya dalam mempertahankan kemerdekaan. Melalui Datu Suppa Bau Massepe, wilayah Suppa dinyatakan sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia. Olehnya, pemuda Parepare yang tergabung dalam PNI, terjalin hubungan yang erat dengan Pemuda Suppa (Pawiloy, 1989).

Peranan Andi Selle dalam merebut dan atau mempertahankan kemerdekaan menunjukkan hasil positif. Terutama keberhasilannya dalam memimpin menghimpun Pemuda Suppa serta menggalang kekuatan yang lebih besar dalam mempertahankan kedaulatan Negara. Hal tersebut merupakan modal besar bagi Andi Selle dalam berkiprah dalam politik dan militer dalam periode selanjutnya.

Untuk menghadapi kekuatan yang lebih besar, Andi Selle mengerahkan seluruh masyarakat Alitta menuju Suppa demi mempertahankan sangsaka merah putih. Selain itu, dalam menghadapi kekuatan musuh yang terus bertambah, Andi Abdullah Bau Massepe menghimpun kekuatan yang lebih besar dengan membentuk kekuatan yang lebih besar dengan membentuk BPRI (Badan Perjuangan Republik Indonesia) di daerah Parepare. Semenjak dibentuknya, sikap tegas ditunjukkan BPRI Parepare dalam menghadapi sekutu yang diboncengi NICA/Belanda. Andi Abdullah Bau Massepe didukung sepenuhnya oleh pemuda militan yang berada di daerah pedalaman afdeling Parepare. Periode selanjutnya dibentuk pula wadah yang sama yakni BPRI, tetapi kepanjangan BPRI dirubah menjadi Badan Pemberontak Republik Indonesia, sesuai dengan sikap mereka yang lebih tegas dalam melakukan pemberontakan terhadap penjajah Belanda (Pawiloy, 1989).

Penamaan organisasi tersebut dalam proses perkembangannya mengalami perubahan makna, yakni namanya diganti menjadi Badan Penunjang Republik Indonesia dan berpusat di Dolangan. Pusat BPRI yang berkedudukan di Dolangan merupakan bagian dari upaya membentuk benteng pertahanan dalam upaya menghadapi serangan musuh.

BPRI Suppa dibentuk pada pertengahan bulan september 1945 dan dipimpin langsung oleh Datu Suppa Andi Abdullah Bau Massepe, serta mengangkat Andi Selle sebagai wakilnya yang sebelumnya pernah menjadi koordinator Pemuda Suppa. Bersama mereka, beberapa orang diantaranya juga tergabung dalam organisasi tersebut yakni Andi Arsyad, La Bangnga, Ambo Siraje, Ambo Nonci, Pettana Rajeng (Kila, 1996).

Upaya mempertahankan kemerdekaan yang terus menggema, mendapat dukungan yang lebih besar dari Pemuda Suppa dan sekitarnya. Selain itu, dukungan juga diberikan oleh mereka yang berada di luar wilayah Suppa. Bukti dukungan yakni dibentuknya berbagai organisasi kelasykaran di daerah-daerah, yakni dibentuknya PNI (Pemuda Nasional Indonesia) Pinrang yang dipimpin langsung oleh Andi Pawelloi Datu Lanrisang. Sementara itu,  pertengahan September 1945 dibentuk pula Lasykar PPMP (Pemuda Pemberontak Republik Indonesia) Dipimpin oleh Andi Saping (Pawilloy, 1989).  Dukungan lain datang dari Kadi Sawitto Andi Abdullah bersama dengan pasukannya yang bernama ‘Serigala Hitam’ yang dipimpin oleh Haji Kantori.

Tidak hanya itu, dukungan terus mengalir. Kala itu dukungan juga datang dari pemuda dan tokoh masyarakat dari Lembang Pimpinan Andi Cambo, dibantu oleh Nyompa Puang Maddika mendatang pusat BPRI Suppa. Semua tokoh pemuda dan tokoh masyarakat tersebut menyatakan diri bergabung dalam BPRI Suppa. Dukungan tersebut menjadikan jangkauan wilayah BPRI Suppa lebih luas yakni hampir meliputi seluruh wilayah Pinrang (Kila, 1996)(Bersambung)

*) Artikel ini merupakan bagian dari hasil penelitian penulis dalam menyelesaikan studi pada Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Makassar.

**) Penulis adalah Alumni Pendidikan Sejarah PIPS Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Makassar

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here