Home Mimbar Ide JAGALAH RUMAH KITA

JAGALAH RUMAH KITA

125
0
SHARE
Anis Matta

Oleh : Fahri Hamzah

Jagalah PKS karena partai ini dibuat dengan niat dan cita-cita baik. Jika ada yang ingin merusaknya janganlah kita salah satu dari mereka.

Sekarang memang di tangan orang yg tidak sadar bahwa cara mereka memimpin membuat partai ini merosot tajam

Sedari awal, sejak Majelis Syuro (8-10 Agustus 2015) yang menolak permintaan seluruh wilayah agar AM dipilih kembali jadi presiden partai memang ganjil.

Hatiku bergumam waktu itu, “ini awal yg buruk”. Perasaanku ini aku jaga.

Aku dan seluruh kader mendampingi AM dalam kerja menyelamatkan partai dari badai hampir 24 jam sejak dilantik 1 Februari 2013 sampai Pileg 9 April 2014 dan Pilpres 9 Juli 2014 bahkan hingga sengketa MK selesai. Beliau pemimpin luar biasa.

Kehadiran Kepemimpinan AM berkesan sekali. Kader merasa dituntun “keluar dari sumur”, memakai frasa yang beliau pakai untuk menggambarkan badai dan ujian yg kami hadapi. Luar biasa, PKS selamat dan suara bertambah 300.000-an. NTB dapil saya menyumbang 1/3.

Sejak 11 Agustus 2015 pengurus baru diumumkan semua menjadi terasa aneh.

AM yang menjadi inti penyelamatan partai itu hilang dari kepengurusan. Dalam pelantikan 9 September 2015 banyak yang ikut hilang. Saya seperti melihat pimpinan yg sedang berbalik.

Sejak awal mereka ingin memasang wajah ramah. Dan wajah kami yang baru pulang berperang mungkin dianggap kasar, ganas dan merusak suasana dan keinginan para pejabat baru nahkoda baru ini. Aku dinasehati memakai kopiah dan lebih santun.

Aku tahu banyak apa yang terjadi. Tapi biarlah, Mahkamah sejarah akan mengisahkan kebenaran. Dakwah bukan milik manusia.

Partai dakwah punya cara dan partai ini akan membuka kebenarannya sendiri. Tapi saya hanya mengirim isyarat bahwa sejak awal ada yang salah.

Pemimpin dan yang dipimpin mestilah berjodoh. Barulah ada sakinah mawaddah wa rohmah. Jika ia tidak berjodoh maka pasti gelisah dan dalam perjalanan pastilah terjadi prahara.

Jangankan melahirkan anak dan keluarga malah lahir pengkhianatan, dusta dan pemberontakan.

Umur peradaban Ummat manusia cukup untuk kita mengerti umur dari kekuasaan. Barang siapa yang menabur angin akan menuai badai.

Barang siapa yang berkhianat akan berhadapan dengan pembangkangan. Jika cinta di buang kita akan tegang.

Teriakan kader #HuuuuMSI adalah puncak dari perasaan gundah kader oleh tingkah pemimpin yang siang malam mengirim kisah kering tentang kematian jiwa dan hilangnya cinta dalam politik. Partai ini menjadi semakin tak berbeda. Tak ada lagi yang bisa membuat bangga.

Kalau AM dulu menghadapi badai dengan membuat dua rute; keluar dari sumur dan dari sumur menuju Istana.

Mengambil kisah nabi Yusuf As. Ini seperti AlBanna, yang dalam keterpurukan dunia Islam awal abad-20 beliau bicara Ustadziatul alam, soko guru dunia lahir.

Hari ini, harusnya PKS bicara tentang kematian ide para pemimpin Indonesia dan krisis besar yang menghadang dunia akibat pemimpin yang tidak lagi memiliki vIsi kemanusiaan dan peradaban. Indonesia harusnya mengirim jawaban.

Kemarin di acara Rakernas KA KAMMI 2018, AM bicara tentang rute Indonesia memimpin peradaban dunia, bangga kami mendengarnya.

Tapi kemarin pimpinan PKS bicara rute menjadi calon isteri raja di antara 18 calon isterinya. Malu kami mendengarnya.

Inilah era pemimpin yang tak berjodoh dengan rakyat dan kadernya. Serasa kehadirannya menjadi beban.

Kata2 mereka tak tersimpan dalam kosa kata kami. Malu kami mendengarnya. Tidak ada rasa, tak ada kerinduan menanti kata2nya dan wibawanya telah hilang.

Yang dirindukan belum datang,
Yang dirindukan dihalang-halang…
Yang tak dirindukan merajalela,
Yang tak dirindukan menjemukan…
Bersabarlah ya Ikhwan….
Berdoalah agar Allah mengirimkan jawaban bagi kita semua….

Amin ya Rabb…

Twitter @Fahrihamzah 17/2/2018

Facebook Comments