Home Mimbar Ide Apatisme Lokal?

Apatisme Lokal?

0
Keterangan gambar : 1. Peta peralihan udang windu ke vannamei. 2. Udang windu yang mati pada sebuah tambak di Pinrang pada pertengahan tahun 2017.

Oleh : Idham Malik*

Apa yang dapat mengangkat kita lebih tinggi daripada jargon? daripada perasan frasa? Seperti yang tampak dari “Kebangkitan Udang Windu Sulsel”.

Jargon ini sempat menghipnotis, sedikit mencakar, membuai kita seperti saat duduk duduk di bale bale, terhempas angin di bawah pohon kelapa.

Bagaimana tidak, diadakanlah pertemuan – pertemuan, diskusi – diskusi, survei – survei, yang dilaksanakan secara teknokratis. Melihat secara presisi akar persoalan udang windu, mulai dari permasalahan induk udang, perbenihan, pembesaran, hingga pasar. Ditambah lagi tekanan pada agenda agenda rehabilitasi lingkungan pesisir, dan menyoalkan sampah plastik.

Dinas – dinas mulai semangat, akademisi akademisi semarak, peneliti mulai menunggu – nunggu. Namun, dari itu semua, petambak gurem, pekerja tambak, hanya mengangguk – ngangguk.

Di lapangan, memang banyak yang merespon, tapi lebih banyak lagi yang santai. Bahkan, sebagian petambak sudah menerima kekalahan ini sebagaimana takdir. Kemenangan hanyalah nostalgia, bagaimana mereka dahulu dapat beternak uang dari udang, menyulap sekejap udang jadi motor, jadi mobil, jadi paket jalan – jalan ke tanah suci.

Kekalahan yang awet ini justru menjadi modal petambak untuk mengumbar duka. Menjadi alasan untuk berleyeh – leyeh, hingga mengubah tradisi kerja lebih sebagai ritual kemalasan. bayangkan, petambak hanya ketawa ketiwi saat mengungkapkan bahwa produksi udang sangat rendah, bahkan di sebuah kawasan rata – rata di bawah 20% daya hidup udang (Survival Rate)-nya.

Fenomena rendahnya produksi ini pun tak dibarengi dengan refleksi yang mendalam. Tampaknya, begitu lemah upaya dari petambak itu sendiri, dalam artian suatu unit kerja, mulai dari pemilik lahan, pengendali operasional lahan, pekerja lahan untuk mempelajari apa sebab – sebab produksi rendah, dan melakukan perbaikan – perbaikan berdasarkan analisa objektif mereka.

Lantas, masing – masing pihak mengambil gayanya masing – masing dalam situasi tersebut. Pemilik lahan sudah senang betul dengan akumulasi hasil produksi dari puluhan hektar lahan yang dia punya, meski dengan produksi perunit yang rendah. Pemilik lahan pun menganggap hal itu sebagai bunga – bunga kehidupan, lantaran rendahnya modal yang dia keluarkan, serta rendahnya bagi hasil yang dia serahkan ke pekerja tambak.

Sedangkan pekerja tambak, bekerja seadanya saja, sehari hanya melakukan pemantauan terhadap tambak sekitar 1 – 3 jam. Kadang – kadang hanya celingak celinguk, lalu pulang. acuh tak acuh, aroma kebosanan, menyerahkan sepenuhnya pada bos menjadi cerminan pekerja tambak tradisional. Lalu, apa yang kita harapkan dengan mentalitas seperti ini? Apakah 4.0 ataukah 5.0 dapat mengatasi hal ini?

Dalam kondisi seperti ini pun, kurang berlangsung komunikasi secara dialektik antara pemilik lahan, pengatur operasi, dan pekerja, mengenai perencanaan kerja yang baik. Sehingga terdapat pengambilan keputusan yang segar untuk pengentasan masalah dalam lingkup unit tambak. Yang terlihat adalah sebuah automata, sistem buta yang berlangsung bertahun – tahun.

Memang, apatisme ini hanya berlaku di sebagian lokasi, di lokasi lain masih terdapat semangat restorasi, perubahan, yang didukung oleh gerakan pekerja yang giat melakukan ujicoba – ujicoba, berupa praktek – praktek pengembangan pakan alami, pengembangan pupuk alami, probiotik yang dapat dikultur massal oleh petambak. Namun, hal – hal tersebut masih dalam proses pengembangan di antara grasah grusuh petambak yang begitu menginginkan hasil optimal, serta praktek eksploitasi lahan yang intens lantaran dikejar tenggat waktu sewa dan tekanan biaya hidup. Ujicoba tersebut pun harus berangkat dari kesadaran kritis masyarakat petambak itu sendiri. Nah, proses menuju kesadaran kritis ini membutuhkan waktu, sedangkan di lapangan, biasanya pendorong kesadaran kritis (fasilititator), karena satu dan lain hal, berhenti di tengah jalan.

Di samping itu, nostalgia itu, merasuk lebih dalam ke jantung birokrasi perikanan. Kenangan – kenangan windu begitu berkesan. Lantaran tak dapat lepas dari pesonanya, maka mesin birokrasi kita dengan cergap meyerap udang vannamei untuk sesegera mungkin menggantikan posisi udang windu. Vannamei menjadi bayangan windu itu sendiri. Sementara udang windu yang masih bertahan di tambak – tambak tradisional dibiarkan membusuk dari tradisinya sendiri.

Apa yang telah kita lakukan itu, praktek budidaya udang secara intensif hingga supra intensif, menjadi akar penyebab kerusakan lahan budidaya, menurunnya daya dukung lingkungan. Lantas, kita, tanpa solidaritas dan kepedulian, yang hanya dipersatukan oleh kenanganan, mengulang lagi apa yang menjadi penyebab merosotnya windu.

Lalu apa? kita berlindung di balik teknologi tinggi, kita jongkok – jongkok di ketiak rekayasa. Dengan adagium, siapa yang menguasai teknologi, siapa yang fasih dalam hal rekayasa, dialah yang dapat menaklukkan udang.

Lalu? seperti apakah kita, melalui jargon “Mengembalikan kejayaan udang windu” ini dapat bangkit. Apakah kembali dengan menggantungkan harapan pada teknologi? sedangkan pengelolaan udang windu saat ini lebih 90% adalah model pengelolaan tradisional. Dengan segala apatismenya. Dimana kita tenggelam dan berenang bersama kenangan atas kehebatannya di masa lalu.

*) Penulis adalah penggiat lingkungan dan aktivis muda Muhammadiyah

Facebook Comments