Home Mimbar Ide Dugaanku Binatang Bervirus, Karena Itu Aku Ada

Dugaanku Binatang Bervirus, Karena Itu Aku Ada

0

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Dari pemberitaan media menyebutkan jumlah korban meninggal akibat terjangkit virus Corona melanda Wuhan meningkat sebanyak 81 orang pada Senin, 27 Januari 2020. Angka keseluruhan kasus yang ditetapkan meningkat sekitar 30 persen terhadap lebih dari 2.700 pasien, kira-kira separuh dari penduduk Wuhan, ibukota Provinsi Hubei Cina sebagaimana dikutip oleh Channel News Asia (CNA). Dalam perkembangan mutakhir, angka korban yang meninggal dan pasien diperkirakan meningkat ditunjukkan dengan 106 orang telah meninggal. Jumlah pasien pun ikut meningkat, dari 2.762 orang di hari Senin kemarin menjadi 4500 per Selasa pagi ini, 28 Januari 2020 (Tempo.Co, 28/01/2020). Kemungkinan korban akan bertambah seiring dengan penyebaran virus telah melintasi pusat penyebaran virus Corona, keluar dari teritorial Wuan.

Suatu paradoks pencegahan dan perlindungan terhadap orang tua, remaja dan anak-anak dari virus Corona. Sementara itu, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah untuk membentuk tim pemburu binatang yang terjangkit virus. Penanganan karantina terhadap seseorang dan kelompok orang sebagai cara dan strategi pengurungan raksasa untuk mencegah penyebaran virus di tengah permukiman dan tempat lainnya.

Dalam hubungannya dengan peristiwa tersebut, saya tidak membicarakan tentang asal-usul dan faktor-faktor penyebab kemunculannya. Pada kesempatan ini, saya juga tidak akan berusaha untuk membahas nuansa silogistik dan hipotesis yang berhubungan secara khusus tentang tema “Binatang” tertentu yang ditengarai sebagai pemicu penyebaran virus Corona.

Mungkin, pembicaraan kita tentang versi pemikiran mengenai binatang paling tidak muncul dari sudut pandang Cartesian, sekalipun tidak dapat dihindari adanya kemungkinan bagi sebagian orang tidak tertarik untuk membahasnya. Titik ini akan menguatkan titik tolak pemikiran modern yang dianggap paling heterogen dibandingkan dengan mekanisme mesin-hewan, termasuk dari sudut pandang cogito Cartesian. Mengingat bahwa secara kodrati kita hanya berhasrat pada suatu yang menurut pikiran kita memiliki ruang terbuka untuk dijejaki, tentunya apabila kita menduga bahwa semua kemungkinan yang ada di luar diri seseorang pun tetap berada di luar jangkauan kemampuan kita. Kita tidak akan menggebu-gebu untuk menerobos batas-batas yang telah sekian lama memenjara pikiran dan hasrat jika meraihnya. Seseorang atau semua orang akan menahan hasrat menyerupai mata kucing dan menangguhkan mimpi untuk memiliki tubuh yang terbuat dari bahan yang tidak gampang lekang oleh panas dan lapuk oleh hujan seperti kaca-kristal. Atau seseorang mengkhayalkan untuk membandingkan gigitan yang melumpuhkan seperti ular, taring dan kecepatan berlari seperti macan tutul, memiliki sayap untuk terbang dan cengkeraman kuku seperti burung elang.

Dalam usaha yang tidak menggebu-gebu, kita menemukan kekaburan sudut pandang dan kesimpang-siuran dalil-dalil tanpa secara teliti. Bukan pikiran muncul atas dasar dugaan-dugaan yang kosong, penalaran yang tidak pasti dan jelas, melainkan melalui diagnosis sesuai dengan sintesis obyektif dan diametris membuat kita tidak dapat menarik benang merah dan konsistensi yang cukup meyakinkan. Kita tidak mengambil sisa batu bata atau tidak menyimpan puing dari rumah tua untuk membangunnya kembali menjadi rumah baru. Kita tidak memiliki dasar yang kuat untuk menyimpulkan hasil pengamatan dan meraup sebanyak-banyaknya keuntungan dari berbagai macam pengalaman serta-merta sebagai bahan masukan untuk pembentukan gagasan dan pikiran yang lebih baru dan berbeda dari hal-hal sebelumnya. Salah satu cara berpikir untuk ditempuh, apapun yang terjadi, yaitu tidak berhentu di suatu tempat. Jika perlu, kita mengambil cara untuk memutar haluan menuju arah yang beragam dan beracak. Kita tidak mengambil satu arah untuk melintasi batas-batas yang ditetapkan oleh dalil-dalil yang tidak jelas dan pasti. Paling penting, kita menelusuri gurun pasir yang berbeda dengan jarak dan luas tidak sebanding dengan pengamatan dan pengalaman yang akhirnya kita dapat menemukan hutan dan gua, tempat sejati dari perjalanan panjang dalam kehidupan dan pemikiran kita.

Berpandangan sederhana secair dengan hasrat untuk memutuskan, bahwa kita perlu relasi berbolak-balik antara jalan ternal dan jurang yang sangat curam, hutan belantara dan gurun pasir yang melepuhkan kulit, dibandingkan menemukan tempat yang menina-bobokkan pikiran kita.

Bahkan, kita tidak membutuhkan hipotesis, meskipun kita belum dapat melihat yang paling mungkin di antara beberapa pendapat untuk membebaskan dari dugaan-dugaan yang dangkal. Kita akan terus-menerus melintasi batas-batas dunia di saat ada atau tidak ditetapkan oleh alam, kecuali dengan pikiran dan hasrat kita keluar dari ‘benteng pembatas’ bernama dalil-dalil yang lemah dan dugaan-dugaan yang dangkal mengurung kita. Kita juga mencoba keluar dari kaidah-kaidah metode penalaran yang kaku dan tidaak jarang menjauhkan kita dari petualangan untuk melintasi batas-batas teritorial, tempat dimana kita dapat berlapang dada menerima perbedaan.

Itulah sebabnya mengapa Descartes dapat membedakan definisi manusia sebagai binatang rasional yang penentuannya sebagai Cogito sekaligus penanda konsep perbedaan apakah mereka binatang rasional atau hanya semata-mata binatang. Penanda konsep yang terakhir dari keduanya selayaknya tidak dapat dibedakan kepemilikan tubuh, kulit dan kata benda lainnya. Manusia dan binatang terhimpit dalam konstelasi ‘hutan beton’ yang terekayasa secara teknis perkotaan dan ‘hutan belantara’ ada secara alamiah.

Mereka tidak hanya membentuk topologi umum dan antropologi seluruh dunia, tetapi juga pembentukan kehidupan bersama. Suatu cara manusia sekarang ini untuk memposisikan dirinya dalam menghadapi apa yang disebut kehidupan manusia dan kehidupan binatang. Virus Corona bukan hanya hasrat untuk melindungi kehidupan keduanya dari ancaman ancaman kepunahan.

Pencegahan dan perlindungan dari ancaman virus Corona yang bersumber dari binatang berarti penyelamatan masa depan kemanusiaan secara keseluruhan dalam kehidupan. Sebutlah binatang, virus, manusia, dan dunia merupakan seakan-akan menjadi bagian dari permasalahan yang terulang. Pada satu sisi, upaya pencegahan dan perlindungan secara kolektif dan individual atas penyebaran virus maut yang menelan banyak korban untuk kelangsungan akan kehidupan manusia yang tersosialkan. Sisi lain, kehidupan binatang tetap saja tidak tersosialkan. Binatang jinak apalagi ganas dan bervirus selamanya tidak tersosialkan.

Kita akan kembali ke seluruh jalur yang belum dan sedang dibuat lebih banyak lagi. Khusus, tatkala Aku mencoba untuk membicarakan pada diriku sendiri, bagaimana menjelaskan apa yang terjadi di saat ketakukan orang-orang sebagai akibat dari penyebaran virus membuatnya tidak mampu berpikir dengan terarah. Kita akan mengambil langkah penyesuaian diri tepat di tengah-tengah salinan pernyataan dalam diriku, bahwa “Binatang seperti Aku”. Ia dapat merasakan sakit dan tersiksa dalam ancaman virus mematikan yang tidak diketahui dari mana datangnya gagasan seperti demikian. Gagasan datang secara tiba-tiba, dimana ia tidak bergantung pada relasi antara penghubung dan nilai silogistik seperti dalam premis: “Aku Manusia-Binatang, Maka Aku Ada”. Manusia mengikuti dirinya sendiri. Dia dapat mengatakan, “Aku adalah”, “Aku mengikuti diriku sendiri”. Dalam kondisi yang tidak terduga, kadangkala kita tidak mampu untuk mengatakan, “Aku mengikuti diriku sendiri”. Akibatnya, ia akan menggambarkan suatu sebanyak tiga kali atau berkali-kali ritme seperti babakan dan gerakan tidak terhitung apakah tiga, kurang atau lebih dari suatu nilai silogistik tidak lebih sebagai perpindahan binatang dan binatang rasional tanpa hasil dan tanpa kata tunggal.

Seseorang boleh bertanya pada dirinya sendiri, hanya untuk melihat dirinya, siapa Aku yang mengikuti diriku sendiri pada saat ketahuan telanjang dalam tatapan diriku, seperti tatapan mata kucing atau tatapan mata kelelawar di malam hari di akhir keheningan. Aku mengalami kesulitan untuk memutar-mutar atau mengedipkan mata lebih lama di saat bertatapan dengan mata kucing atau mata kelelawar, karena Aku tidak habis berpikir, bahwa Akulah kembali menjadi Bintang Rasional di tengah bangsa binatang yang menyebarkan virus rasa malu pada diriku. Untuk hal ini, tidak jarang orang mencoba menyadari dirinya sendiri yang telanjang di saat binatang alami yang perlu untuk dirnya menjadi telanjang. Binatang sesungguhnya tidak telanjang. Manusialah yang telanjang di saat dia terlanjur telah mendeklarasikan dirinya sebagai Binatang Rasional melebihi rasa malu binatang seperti kucing dan sesuatu yang tidak terpikirkan dari pikiran.

Para binatang tidak akan telanjang karena sifat alamiahnya telanjang. Pada prinsipnya, tidak ada binatang untuk bermimpi membangun sarangnya seperti gedung pencakar langit, tidak ada binatang dapat berpikir untuk mencapai planet Mars dan bertamasya hingga ke luar angkasa. Ia tidak memiliki hasrat untuk memakai busana untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin dan sengatan terik matahari. Dari apa yang disebut kepemilikan pria dan wanita, pakaian yang sesuai untuk pria dan wanita sebagai Binatang Rasional-Manusia Konsumen. Sedangkan binatang tidak, kecuali merasakan dirinya mendapat ancaman dari luar, itupun juga bukan dari pikiran.

Berpakaian sendiri muncul disaat telah terlepas dari seluruh sosok yang lain, bukan apa yang dipantas bagi manusia. Bahkan, saat orang tidak lagi membicarakan binatang, ia sesungguhnya membicarakan dirinya sendiri telah keluar dari kekuatan pidato, nalar, logos, tawa, berkabung, sejarah, mengubur, mengais, sahut, dan sebagainya. Manusia tidak merasa terkungkung, tetapi sekaligus tidak melatih dirinya berpikir bebas mengenai fantasi, hasrat dan kesenangan. Mereka pada pada akhirnya menggelincirkan dirinya dalam daftar korban yang terjangkit virus Corona atau virus berbahaya apapun namanya tidak pantas menyalahkan binatang, kecuali menyalahkan dirinya sendiri.

Sekali lagi, binatang itu tidak telanjang karena ia telanjang. Muncul ketidakhadiran telanjang dalam dunia atau dalam hasrat dan fantasi. Karena itu, binatang tidak merasakan ketelanjangan dirinya sendiri. Manusia berada antara telanjang dan ketidakhadiran telanjang, antara keduanya silih berganti menandai konsep Binatang Rasional dan binatang. Bukan hanya perasaan minder dan pengalaman, tetapi juga kesadaran dan ketidaksadaran ternyata keluar dari ketelanjangan. Karena manusia membuka dirinya untuk telanjang di saat tidak ada yang telanjang dari binatang yang tidak merasa atau melihat dirinya telanjang. Karena itu, manusia juga tidak melihat dirinya telanjang tatkala dia tidak berpikir dan berhasrat bahwa dirinya betul-betul telanjang. Sejauh ini, manusia tidak akan menjadi sebaliknya hanya dengan menujukkan bahwa busananya berasal dari produksi benda-benda. Apa yang dipikirkan setidaknya menguap, justeru bukan setidaknya itulah yang dipikirkan. Sehingga, kita perlu memikirkan rasa malu, karena binatang saja tidak ada yang telanjang darinya. Selebihnya apa-apa lagi yang perlu kita pertahankan untuk memikirkan benda-benda dari seseorang yang berupaya berlindung di belakang produksi teknik. Mungkin, di sinilah akhir dari subyek yang sama. Rangkaian penyakit menular, virus dan peristiwa maupun selingan yang menyertainya, dimana pelajaran berharga datang dari binatang kadangkala mengajari kita untuk memahami alam atau kehidupan seperti mengais dan cara mengubur sesuatu.

Manusia bukan hanya satu-satunya yang menemukan busana dan membuat teknologi maju, tetapi juga mencoba merefleksikan pergerakan binatang yang mengisyratkan dan menyediakan jenis teknologi sebelumnya yang diperbarui manusia termasuk menutupi seksnya. Binatang juga terdiri dari jenis jantan dan betina, demikian pula manusia akan menjadi menjadi kelahiran lelaki dari telanjang menuju telanjang berikutnya. Binatang tidak pernah mengalami proses demikian. Ada saatnya manusia memiliki rasa malu, ada saat mengubur rasa malu. Binatang apapun nama dan jenisnya tidak akan pernah merasa atau berpikir untuk mengalami fase bayi, remaja hingga dewasa. Binatang dalam ketelanjangan tidak sedikit memberi pelajaran berharga bagi kita seperti merasa menang sendiri, kesederhanaan atau berpenampilan apa adanya dan ketelanjangan apa yang diucapkan dan dipikirkan dari dalam diri kita. Tidak ada yang asing dari dalam diri manusia tatkala melihat binatang seiring pengetahuan tentang usaha untuk menata kehidupan bersama.

Pengetahuan tentang binatang tidak menjadi memalukan jika seseorang dapat menampilkan dirinya dengan apa adanya atau ketelanjangan, karena terdapat keterbatasan kita. Manusia dapat menerima pelajaran dari binatang termasuk munculnya virus Corona yang menandakan peristiwa kerakusan berlangsung mengancam kehidupan bersama, Manusia dan binatang. Begitu rakusnya binantang tidak jauh berbeda dengan rakusnya manusia dalam hal menikmati makanan. Manusia dan seleranya runtuh dihadapan rahasianya sendiri. Mengikuti selera rasional manusia tidak akan menutupi rasa malu di saat berlebih-lebihan dalam kepemilikian manusia. Virus Corona memberi pelajaran akibat kerakusan kita membuat kehidupan bersama dapat terancam. Kerakusan berarti menyelebungi perasaan telanjang manusia. Sifat rakus dari manusia akibat kemampuannya ada dalam telanjang yang berlawanan dengan ketidakmampuan manusia untuk telanjang karena dia memiliki perasaan telanjang, yaitu rasa malu atau kesopanan. Kita dapat membayangkan seorang atau kelompok orang melahap setiap jenis makanan dari binatang melata atau reptil hanya karena selera atau penasaran untuk menikmatinya. Tetapi, Manusia Rasional tidak dibentuk oleh jenis manusia dalam ketelanjangan sejauh dia tidak telanjang. Kita tidak dapat menemukan perbedaan sejauh kita mempertentangkan telanjang atau ketelanjangan Manusia dan binatang dari satu arah dan konsep tunggal. Kita tidak menyesal adanya perbedaan antara keduanya dalam pengetahuan.

Taruhlah misalnya, seekor kucing menatap kita telanjang atau tidak telanjang. Apakah kita akan biasa-biasa saja atau ada rasa malu seperti binatang bergigi tajam atau binatang buas yang tidak lagi memiliki perasaan telanjang? Sebaliknya, seperti apakah seseorang yang memiliki rasa telanjang atau ketelanjangan? Jadi, siapakah Aku? Apakah Aku dan kucing atau binatang lainnya dianggap belum ditemukan perbedaan terutama dari organ pencernaan dalam tubuh dan insting. Pada siapa yang perlu diajukan pertanyaan jika bukan di luar diri kita? Mungkinkah dari kucing, kelelawar, ular, dan bahkan tikus itu sendiri?

Kembali pada kucing, binatang jinak di sekitar lingkungan kita tidak berarti akan terbebas dari terjangkitnya virus berbahaya yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Lain halnya, tatkala binatang menatapku. Apa yang Aku pikirkan dan hasrati dalam keadaan demikian adanya. Kucing melihatku telanjang karena rasa malu atau sopan betul-betul kucing kecil, kucing sungguhan. Kucing yang diharapkan bersama manusia tidak terjangkit virus Corona. Kucing itu yang berbicara pada kita dengan bahasanya sendiri, yaitu kucing yang Aku bicarakan, bukan dari permasalahan siapa yang jinak atau tidak sejenis kucing Asiatik dan dari benua lainnya. Kucing atau kelinci yang banyak digemari orang bukanlah sebagai akibat dari anti-Cartesian, melainkan melebihi pikiran bahkan bermain dengan Manusia Rasional. Nanti kita tidak akan memerhatikan mutasi antara tikus dan ular, kelelawar dan kodok melawan mutasi antara Descartes dan Spinoza, Husserls dan Derrida. Hal ini, mungkin dianggap terlalu berlebih-lebihan dalam membandingkan antara filsuf besar dan binatang begitu jelas, sekalipun tanpa dua konfigurasi dan tanpa menerima begitu saja sebagian dari keseluruhan atau sebaliknya. Kita tidak membuat lucu manusia hanya karena kemiripannya dengan binatang seperti “tidur”, “lapar”, “makan”, “kenyang”, “berkelahi”, dan sebagainya. Dalam perbedaan ditandai Manusia melalui ‘dugaan’, imajinasi, mimpi, fantasi, hasrat, dan nalar untuk menelusuri dirinya dan pada binatang dibalik pelajaran darinya.

Setelah Anda dapat berbicara dengan seekor binatang, pada kucing piaraan sebagai binatang sungguhan. Tetapi, kucing tidak berbicara sesuai dengan pikiran apalagi perasaan kita. Mustahil hal demikian terjadi, sekalipun ia seekor burung beo. Ada hal lain yang dianggap penting, yaitu tingkat respon binatang cukup membuat kita menduga-duga dan mengimajinasi apa maksud dari bahasa binatang yang sulit dimengerti. Binatang tidak merasakan apa dampak dan penyebah dari munculnya virus Corona atau virus berbahaya lainnya. Kita tidak sekedar mengikuti, untuk apa Aku mengikuti yang Aku sendiri tidak ketahui apa-apa yang tidak dirasakan binatang. Aku tidak sejauh yang dipikirkan Aku sendiri selama ada rasa telanjang. Aku sejauh dari Aku bersama dan saling melihat telanjang dengan binatang.

Jadi, kita mengetahui bahwa binatang ada sebelum kita sebagai manusia, di sana di depanku, Aku yang menduga tidak mengikutinya. Karena itu, sejak itulah sebelum kita dan disamping ada kucing bersama Aku. Dari tempat yang aman dari virus binatang, kucing tidak melompat secara liar, tetapi ada di sana-sebelum kita tanpa ragu dan kita mungkin melupakannya yang berakhir pada kucing yang menatapku. Ia merupakan sudut pandang mengenai Aku. Sudut pandang yang berbeda mengenai Aku sekaligus binatang. Tidak ada sesuatu yang telah memberikanku lebih dari berpikir melalui makanan atau busana, dibandingkan kucing di depan pintu tetanggaku. Ada sesuatu ditatapnya yang tidak sama sebelumnya dari kucing di saat Aku melihat diriku sendiri telanjang dari arah rumah lainnya.

Jika Aku telah mulai mengatakan “bukan yang lain dari keseluruhan, kecuali kucing yang tidak terjangkit virus” menyebutnya tetap sebagai ‘binatang’ seperti lainnya. Kucing meresponku di saat Aku memanggilnya. Apa itu kata binatang. Memang, binatang adalah sebuah kata, yaitu sebuah panggilan yang manusia telah membentuknya. Namanya telah diberikannya hak sendiri dan mengurus dirinya sendri untuk melangsungkan kehidupan lain atau bersama-sama dengan Aku sejauh ia tetapi dipanggil binatang, bukan Binatang Rasional.

Kira-kira kita tidak mengetahui berapa abad lamanya kita berbicara tentang binatang jauh sebelum mutasi binatang dan penyakit menular yang dibawanya menyebar melintasi teritorialnya dapat dilihat dari binatang itu sendiri. Mengenai persilangan hidup dan binatang, biologi dan zoologi, kehidupan dan kematian, tubuh dan teknologi. Karena itu, Aku akan membicarakan satu hal atau lebih mengenai binatang yang melampaui rasa sakitnya, perburuan, penjinakan, dan dari sana kita akan melihat binatang kecil atau ukuran biasa dieksploitasi seperti anjing yang bertugas untuk melacak orang-orang jahat atau penjaga rumah dan tempat lainny. Kuda dijinakkan untuk alat transportasi tradisional, sebagai kendaraan balapan di arena pacuan kuda, padahal semuanya juga tanpa berpikir mengikuti dirinya sendiri untuk berada dalam kehidupan binatang.

Terus ada pertanyaan yang tidak akan diketahui apakah binatang menjelma secara tiba-tiba dalam diri manusia atau sama sekali jauh sebelumnya berbeda. Kita membicarakan logos atau nalar dinisbahkan pada manusia, tetapi ada saatnya dia melenyapkan nalarnya sendiri. Terus, tidak ada cara lain dari maksud pertanyaan yang ditujukan padaku, bahwa lucu jika dikatakan batas antara Manusia hanya sebatas huruf besar M dan Binatang dengan huruf besar A. Keduanya tidak memiliki satu keterkaitan dengan lainnya, jika bukan ‘sintesis diametris’, misalnya M sama dengan A atau M tidak sama dengan A. Bukan hanya melebihi mekanisme, melainkan melebihi dialektika. Manusia adalah spesies hidup, begitu pula binatang. Dari masing-masing keduanya memiliki biografinya sendiri. Aku, Manusia juga dapat berarti Binatang Rasional, dihilangkan kata Rasional berarti memungkinkan berada pada ‘non Manusia’ atau ‘akhir dari Manusia’. Aku-kita-bersama dalam Manusia-binatang. Aku juga tidak pernah mempercayai atas kesinambungan homogenis antara apa yang disebut manusia itu sendiri dan apa yang ia disebut binatang.

Menyangkut ‘Aku’ tidak begitu saja menurutkan dari apa-apa disepakati dalam cara yang berbeda dengan penggalan kalimat yang disebut “Aku adalah”, “Binatang adalah” yang digiring dalam konsep manusia tentang binatang. Mengapa tidak dibalik saja menjadi konsep binatang tentang manusia? Cartesian merupakan sudut pandang filsafat khas nampaknya mulai melupakan dirinya untuk mempertanyakan sedikit lebih santai dari sebelumnya. Kita dapat membandingkan denotasi dan turuan akan berlangsung antara ‘Aku menulis’ dan ‘kucing lapar’, ‘Anda mengetik di depan komputer’ dan ‘tikus sang suhu berbicara dengan muridnya dalam sinema’ yang bukan binatang sungguhan.

*) Penulis adalah ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments