Home Mimbar Ide Budaya Lokal dan Generasi Melek Teknologi

Budaya Lokal dan Generasi Melek Teknologi

0
ADVERTISEMENT

Oleh: Engki Fatiawan*

Kemajuan teknologi menjadi momentum lahirnya era globalisasi. Era dimana semua hal yang sebelumnya disembunyikan, dikeramatkan, dan disakralkan, di era ini dapat dengan mudah untuk ditemukan. Era ini identik dengan generasi yang disebut-sebut era milenial. Generasi yang lahir seiring dengan perkembangan teknologi termasuk teknologi informasi.

Generasi milenial adalah generasi yang melek dengan teknologi modern. Generasi milenial merupakan generasi yang diasuh oleh teknologi mulai dari buaian sampai ke liang lahat. Tak bisa dipungkiri dalam kesehariannya interaksi dengan teknologi modern, sistem informasi, sosmed (Facebook, Instagram dan sebagainya) tak bisa dipisahkan, sama halnya muda mudi yang baru dilanda asmara, tak ingin berpisah karena bisa saja jadi gila.

Era globalisasi telah membuka ruang-ruang antar negara sehingga tak bisa dipungkiri terjadinya pertukaran budaya. Budaya-budaya yang dari luar dapat dengan mudah masuk kedalam suatu negara dan bercampur dengan budaya lokal dan bisa saja menggeser budaya lokal yang ada dalam suatu wilayah tersebut. Hal ini dapat dengan mudah terjadi karena informasi serta tidak adanya batasan ruang yang dapat menghalangi jalan masuknya.

Dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemajuan teknologi ini telah terbukti menggeser bahkan menghilangkan budaya lokal. Hal-hal baru yang lebih mudah, praktis, dan efisien menjadi daya tarik masyarakat awam. Suatu hal yang belum nampak sebelumnya diperadakan dengan sejuta kegemilangan. Sebagai salah satu contoh yaitu kemajuan teknologi pertanian modern yang Setiawan katakan adalah kemajuan semu dalam industri pertanian karena telah sukses membawa generasi muda jauh dari budaya agraris.

Advertisement

Pergeseran budaya ini yang kemudian merubah cara hidup generasi milenial dari generasi sebelumnya. Menurut Rahayu dkk (2018) ciri khas milenial yang kreatif dan inovatif, namun sisi negatifnya materialistis, konsumtif, dan cenderung lebih mengagungkan budaya bangsa lain dari pada budaya sendiri dengan model kehidupan yang bebas, hedonis, individualistis, serta pragmatis. Dan hasilnya budaya lokal hilang dan dilupakan dengan dalih ketinggalan zaman.

Nusantara sebagai wilayah yang penuh keberagaman pada dasarnya memiliki budaya-budaya yang tak kalah hebatnya dengan budaya bangsa lain. Salah satunya adalah Majapahit yang peradabannya pernah bersinar dan diakui dunia. Begitupun dengan Sriwijaya, Gowa, dan sebagainya. Jika ditilik kembali mereka pernah berjaya peradabannya, filsafatnya, sistem politiknya, seni musiknya, mandiri pangannya, tanpa membutuhkan campur tangan asing dan aseng.

Namun, kesemua itu hanyalah menjadi sebuah cerita yang bisa saja generasi sekarang hanya menganggapnya sebagai dongeng belaka. Antara generasi milenial dan budaya lokal hanyalah sebatas pengetahuan bukan untuk mengilmui. Sebab mereka bangga dengan budaya luar dan minder dengan budaya lokal.

Sebagai kesimpulan bahwa generasi milenial ini adalah generasi yang dilahirkan oleh generasi sebelumnya berarti jika generasi saat ini terjadi berbagai macam kesalahan dan kemunduran, ini tidak terlepas dari pola asuh generasi sebelumnya. Maka dari itu, bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila perlu kembali menguatkan nilai-nilai Pancasila, perlu penguatan budaya dan penguatan agama. Keberagaman budaya di Indonesia bukan untuk diseragamkan. Biarkanlah keberagaman itu menjadi pelangi yang memberikan daya tarik tersendiri untuk bangsa ini.

*)Penulis adalah Sekretaris Umum Pikom IMM FMIPA dan Pertanian Unhas

Facebook Comments
ADVERTISEMENT