Beranda Berdikari Konsep Milenial Enterpreuner Ala Forum Pemuda Milenial

Konsep Milenial Enterpreuner Ala Forum Pemuda Milenial

0
Muh Ikhasul Amal

Oleh : Muh Ikhasul Amal*

Berbanggalah kalian para genarasi milenial. Utamanya yang lahir antara tahun 1990 sampai tahun 2000an, karena tanggung jawab bangsa dan negara ini ada di pundak kalian. Kalian para calon pemimpin negara masa depan. Dan, selamat bertumbuh di era industri dan era disrupsi 4.0 di Indonesia yang digaungkan Bapak Presiden Ir. Joko Widodo.

Ets…  Era disrupsi 4.0 merupakan era yang menuntut masyarakat harus terbiasa dengan digitalisasi di dalam kehidupannya. Hal ini dapat terlihat dari aktifitasnya yang bergeser dari offline ke online. Lihat saja transportasi, jual beli, kuliner dan lain sebagainya. Persaingan usaha tidak perlu menggunakan  metode lama, metode konvensial saling tatap muka, kini semua bisa diakses melalui gawai. Begitulah era disrupsi, yang tidak dapat menyesuaikan, menyingkirlah atau tersingkir.

Advertisement

Bagi saya,  era disrupsi ini sangat perlu disikapi oleh generasi milenial agar tidak menjadi  beban baginya. Terjebak fatamorgana digitalisasi, hanyut dalam pasar kemajuan dunia maya, tak mampu berbuat sama sekali. Masalah selanjutnya, masih banyak generasi milenial yang gagap digital, media sosial hanya menjadi sampah digital, berdebat pada hal hal yang tidak substansi.

“Pemuda jangan hanya sebagai penuntut dan penggerutu perubahan, jadilah pemuda yang ikut dalam bagian perubahan itu,” tulis Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo dengan sangat bijak.

Pepatah hingga slogan yang menyanjung  dahsyatnya pemuda; pemuda agen perubahan, pemuda agen pembaharuan, dan pelopor perubahan, berseliwerang di mana-mana. hanya saja, generasi melienial masih tak bergeming.

Keresahan Generasi Milenial

Saat memasuki usia produktif kerja, generasi milenial kerap merasa resah lantaran minimnya lapangan pekerjaan. Terutama saat  pandemi Covid 19 mempengaruhi sektor perekonomian. PHK besar-besaran, perusahaan tutup, aturan pembatasan aktifitas dikeluarkan,berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat.

Nah… Saat ingin memulai suatu usaha sendiri, kebanyakan di antara mereka terbentur atau terkendala pada akses permodalan. Usia yang dianggap masih labil serta belum matang, menjadi alasan perbankan tidak berani untuk memberikannya modal usaha. Terlebih, generasi milenial ini belum memiliki jaminan harta maupun benda berharga sebagai jaminan untuk mengakses produk perbankan. Di sisi lain, bantuan pemerintah terhadap pengembangan kreatifitas generasi mileial masih jauh panggang dari api.

Akhirnya, ketidakmampuan generasi ini menjawab tantangan, melahirkan keresahan hingga krisis identitas kebudayaan. Mereka terjebak dalam arus modernisasi yang dibawa oleh fenomena globalisasi disertai digitalisasi.

Ibarat buih di tengah lautan, generasi milenial terombang ambing antara kebudayaannya dan kebudayaan yang dibawah oleh digital. Tak heran lahir lah Generasi Tik Tok , yang menyampah di dunia maya. Tak ada gerak produktifitas yang menjadikannya lebih berdaya.

Sangat terasa, digitalisasi menekan kebudayaan. Dan, masih saja pelaku dan pemerhati budaya diisi dengan golongan tua. Generasi Milenial enggan mengambil peran dalam pelestarian kebudayaan lantaran terjebak pada keresahan-keresahan yang telah saya sebutkan sebelumnya. Mereka memilih berdiam diri bahkan bungkam terhadap kebudayaan. Parahnya, mereka masih menganggap hal tersebut bukan urusannya.

Sikap ‘bodoh amat’ dan kurangnya kepedulian, ternyata bukan hanya pada persoalan kebudayaan. Tetapi, kepedulian terhadap lingkungan, beserta banyak lagi  daftar masalah dari generasi milenial ini.

Generasi Milenial bak generasi yang resah dan galau.

Hadirnya Forum Pemuda Milenial

Menanggapi keresahan dan kegalauan itu, pada tanggal 21 Februari 2021, sekelompok pemuda di Kabupaten Maros membentuk organisasi kepemudaan bernama Forum Pemuda Milenial.

Alasannya jelas, titik berdirinya dari kegelisahan dan cita cita membangun semangat generasi milenial yang nyaris tersingkir, mengalami krisis kebudayaan, dan dekadensi moral. Dari itulah, mereka mengusung filsafah bugis sebagai jargon kelembagaan; sipakatau, sipakalebbi, sipakatau (saling memanusiakan, saling menghargai, saling mengingatkan).

Dengan semangat falsafah ini, membuat Forum Pemuda Milenial optimis dapat menyelesaikan persoalan sosial yang dihadapi generasi milenial. Gerakan yang dirancangnya sangat jelas; pendidikan, budaya, sosial, dan lingkungan.

“Potensi pemuda dan pemudi  serta mewujudkan pemuda dan pemudi menjadi insan berkarakter, berintegritas yang berlandaskan tuhan yang Maha Esa,” begitu niat suci para pengurus Gerakan Pemuda Milenial.

Tugas selanjutnya bagi lembaga ini, tentunya kemampuannya merangkul dan menyadarkan generasi milenial mengenai masalah-masalah yang terjadi. Tentunya, jehadirannya diharap menjadi klinik keresahan dan kegalauan agar generasi milenia dapat sadar bahwa mereka adalah generasi perubahan, generasi pembaharuan, generasi pemimpin negara, yang dipundaknya bertengger semangat burung garuda.

Juga berkomitmen mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Bagi Forum Pemuda Milenial semua harus bergerak mewujudkan itu, sebab visi tanpa eksekusi adalah halusinasi.

Jika masih hanya resah dan galau, masih mending. Ketimbang sudah sakau dan berhalusinasi. Bangkit bro…

Enterpreneur Generasi Milenial

Sejak kelahirannya, Gerakan Pemuda Milenial berkomitmen membangun kemandirian pemuda, salahsatunya adalah kepercayaan diri membangun usaha. Jika membaca data, peluang dan kesempatan masih terbuka lebar, rasio kewirausahaan Indonesia dinilai masih sangat kecil jika dibandingkan dengan negara lain di dunia.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Arif Rahman Hakim, dalam catatannya menyebutkan, Rasio Kewirausahaan Indonesia saat ini hanya berkisar 3,47 persen. Berdasarkan data Global Entrepreneurship Index 2019, Indonesia masuk peringkat 74 dari 137 negara. Nilai Indeks Indonesia setara seperti  negara berkembang di Asia Tenggara, Vietnam.

Hingga tahun 2024, Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan Rasio Kewirausahaan Indonesia pada  angka 3,94 persen.Pemerintah juga telah mengesahkan dan menetapkan UU Cipta Kerja yang akan fokus melahirkan wirausaha baru. Dari target yang ingin dicapai, rasio kewirausahaan di Indonesia pada 2021 masih berkisar 3,55 persen.

Mewujudkan hapan itu, Forum Pemuda Milenial harus mengambil peran dalam memediasi semangat generasi milenial merintis usaha di sektor makanan dan minuman, jasa, teknologi, industri kreatif, dan lainnya.

Mengangkat Gagasan, menggali bakat dan potensi adalah langkah  awal yang dapat generasi milenial mulai untuk wirausaha. Dengan mengandalkan kemampuan, keberanian, serta memanfaatkan kesempatan yang ada. Generasi milenial dapat bersaing di dunia kewirausahaan.

Saya mengambil contoh salah satu startup yang ada di makassar, yaitu Mall Sampah yang didirikan oleh dua mahasiswa Universitas Muslim Indonesia Adisaifullah Putra dan Muhammad Faris, tahun 2015 lalu. Tahun 2017, resmi menjadi Perseroan Terbatas (PT).  Mall sampah sendiri hadir untuk menciptakan dampak lingkungan, ekonomi, sosial, dan kesehatan.

Dari sini, kita semua dapat belajar; gagasan yang diremehkan, kadang berdampak besar. Mall sampah sangat mecerminkan cara pandang pendirinya menanggapi perubahan serta era baru. Dengan berbasis startup, mall sampah kini telah memiliki 3.000.000an pengepul dan pemulung lokal yang tersebar di seluruh indonesia.  Memiliki infrastruktur, berjejaring, dan terus berkembang. Dengan memanfaatkan digitalisasi Mall sampah kini dapat eksis dalam mengembangkan visi serta misinya.

Belajar dari Mallsampah, generasi milenial mesti ambil bagian, dengan mengangkat potensi dan gagasan terhadap perkembangan globalisasi dan digitalisasi. Misalnya, mengatasi kekurangan referensi kebudayaan dengan mengusung platform digital “budayapedia” gudangbudaya”. Platform atau aplikasi ini menyediakan makanan khas tradisional, kerajinan tangan, serta tulisan-tulisan kebudayaan yang dikelola oleh anak muda.

Sehingga mereka dapat membaca dan tertarik dengan budayanya, serta menggunakan produk kerajinan kebudayaan serta mencicipi makanan khasnya melalui sistem delivery.

Generasi Milenial dapat mengatasi masalah yang membelenggu selama ini, sehingga tidak ada lagi generasi milenial yang resah dan galau.

“Millennial take all”.

*) Penulis adalah Ketua Umum Forum Pemuda Milenial

Facebook Comments
ADVERTISEMENT