Beranda Mimbar Ide Beragama dengan Ilmu

Beragama dengan Ilmu

0
Trisman Fajar

Oleh : Trisman Fajar*

Pernah suatu hari, saya bertemu seorang teman yang berkuliah pada salah satu universitas ternama yang kental dengan religiusitasnya di Sulawesi Selatan. Namanya Maisah (bukan nama sebenarnya). Menjalani perkuliahan semester lima pada Jurusan Ilmu Bahasa Arab. Saya mengenalnya sebagai pria yang humble, serta taat dalam beragama.

Saat itu, saya bertanya kepada Maisah, “Mais, kan kamu sudah belajar Ilmu Agama?”

Advertisement

“Terus?” tanyanya balik dengan mimik datar, sambil sibuk memainkan gawai miliknya.

“Ada pertanyaanku ini,” kataku mencoba memancingnya.

“Apa itu?” balasnya dengan mengubah posisi duduknya lebih condong menghadapku.

“Kalau ada orang atheis yang mengutip ayat kitab suci, lalu berdebat denganmu menggunakan logika, apa yang kamu lakukan?”

“Saya mengabaikannya, sepemahamanku menalar kitab suci itu tak bisa menggunakan logika,” jawabnya.

“Kalau begitu, siapa yang akan menyadarkan mereka, jika dirimu saja enggan meladeninya?”

    Mendengar pertanyaanku, Maisah memandangku dengan raut wajah datar tanpa menjawab sedikitpun.Saya lalu mencairkan suasana dengan membahas siaran pertandingan bola yang baru saja berlangsung. Kami berpisah tanpa menemukan jawaban yang saya harapkan.

Saat di rumah, perbincangan bersama Maisah mengganggu pikiranku. Jika stigma yang ditanamkan di kampus, bahwa agama dan logika itu berlawanan. Maka bagi saya, pernyataan Karl Marx yang berbunyi “agama adalah candu,” itu benar adanya.

Aristoteles, bagi saya adalah bapak filsafat. Dia telah menegaskan bahwa logika itu adalah fondasi paling dasar dalam filsafat. Itu artinya, berpikir membutuhkan logika. Sebab, berfilsafat artinya berpikir. Sedangkan berpikir bukan hanya soal berfilsafat; bisa sains, bisa juga agama. Setidaknya begitu penjelasan Aristoteles. Sekiranya ikut dalam perbincang kami, mungkin saja ia telah menjewer telinga Maisah.

Berbicara tentang berpikir, jelas tak akan lepas dari peran akal, karna akal merupakan instrumen paling penting dalam berpikir. Lantas, apa sebenarnya akal itu? KBBI menyebutkan bahwa akal adalah daya pikir manusia yang mengantarnya mampu memahami persoalan. Daya pikir itu adakalanya ada dengan sendirinya atau hasil dari pendidikan dan pengalaman.

Mundiri menjelaskan dalam bukunya yang berjudul “Logika,” perbedaan antara pengetahuan dan ilmu, Mundiri mengatakan bahwa pengetahuan sudah puas dengan “menangkap tanpa ragu” kenyataan sesuatu,sedangkan ilmu menghendaki penjelasan lebih lanjut dari sekedar apa yang dituntut oleh pengetahuan.

Misalnya, Khaerul mengetahui bahwa buah kelapa akan jatuh ke bawah, dan dia akan membantah jika ada yang mengatakan bahwa buah kelapa itu jatuh ke atas. Yang demikian itu adalah sebuah pengetahuan baginya. manakala ia mengetahui bahwa ada gaya gravitasi yang mengakibatkan buah kelapa itu jatuh ke bawah, maka hal itu sudah menjadi ilmu baginya.Nah, peran akal ini ada pada transisi dari pengetahuan menjadi sebuah ilmu. Akal ini ada dengan sendirinya, pada orang waras setelah memasuki usia tamyiz.

Beberapa kitab suci menyebutkan, orang orang berakal ditinggikan kedudukannya. Dalam Islam, disebutkan dalam surah Al-Mujadalah (58) yang artinya ”Wahai orang orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt akan mengankat (derajat ) orang orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt maha tahu atas apa yang kamu kerjakan.” Atau dalam Injil, tepatnya di Amsal 2:11, “Kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau.”

Maka, sudah jelas bahwa Tuhan mengistimewakan orang orang yang memiliki ilmu, lantas mengapa mengilmui agama itu dilarang?

Orang-orang yang enggan melibatkan akal dalam beragama akan mengantarkannya pada fanatisme. Fanatisme ialah keyakinan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran.

Disini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa fanatisme terhadap agama itu buruk, tapi saya mengatakan bahwa fanatisme akan menjadi buruk ketika itu menghilangkan rasa humanis pada manusia. Seperti apa yang dikatakan oleh Quraish Shihab pada salah satu channel youtube yang muncul di beranda  saya beberapa hari lalu, beliau mengatakan “fanatik itu buruk bukan karena keterikatan seseorang kepada agamanya, tetapi Ketika fanatiknya orang itu membuatnya berlaku tidak adil kepada orang lain”. Maksudku yahh, sah sah saja jika mencintai agama masing-masing lebih dari apapun, tapi jika itu membuat aspek humanis dalam dirimu hilang, maka yang jadi pertanyaan kemudian “kau beragama untuk apa?”

Indonesia sendiri sebagai bangsa beragama, tak lepas dari sejarah sejarah berdarah yang mengatasnamakan agama dan etnis. Contohnya; tragedi Poso (1998-2001) yang pecah antara agama ini dan agama itu, konflik Aceh Singkil (2015), dan belum lagi peristiwa peristiwa pengeboman yang mengatas namakan agama tertentu.

Pernah suatu waktu saya berkunjung ke rumah pamanku dari keluarga ibuku. Sedikit informasi, ibuku adalah seorang mualaf, dan pamanku adalah seorang pemuka agama (pendeta) di daerahnya.

Sore itu kami sedikit berbasa basi sambil ngopi di depan rumah beliau. Membuka percakapan, beliau bertanya

“Jar, kamu kan ikut organisasi keagamaan di kampusmu?” tanyanya.

“Iya,” jawabku singkat dengan nada sedikit penasaran.

“Organisasi kamu itu bukan organisasi-organisasi radikal kan?” tanyanya kembali sembari menatapku dengan tajam.

“Tentu bukan om,” jawabku dengan nada yang meyakinkan.

Jujur, saat itu saya sedikit terkejut dengan pertanyaan pamanku, wajah islam di mata masyarakat sekarang memang sudah seperti apa? pikirku. Atau hanya pamanku yang berpikir seperti itu.

 Tapi dengan maraknya kasus pengeboman yang mengatas namakan islam dengan dalih berjihad, saya hanya bisa memaknai peristiwa itu bahwa  hanya segelintir orang yang tak betul betul paham akan islam itu sendiri dan hanya bermodalkan sedikit kutipan dari ayat dari Al-Quran, lantas membenarkan terror yang mereka lakukan.

Jadi pertanyaan sekarang adalah, apakah fenomena fanatisme ini bisa di perbaiki, sedangkan krisis seperti ini sudah terjadi dalam waktu yang berkepanjangan?

* Penulis akrab disapa Fajar, mahasiswa teknik sipil Universitas Muslim Indonesia yang mulai berkuliah tahun 2019

Facebook Comments
ADVERTISEMENT