Oleh : Najamuddin
(Intelektual Muda Muhammadiyah Parigi)
Di Sicini, pesta panen bukan sekadar agenda tahunan. Ia seperti denyut nadi yang diam-diam menjaga kehidupan kampung tetap bernyawa. Saya tumbuh di sini bukan sebagai pengunjung yang datang membawa rasa kagum sesaat, tapi sebagai anak kampung yang sejak kecil hidup dalam ritme sawah, lumpur, dan musim yang tak pernah ingkar janji. Saya menyaksikan sendiri bagaimana kebudayaan tidak hanya diwariskan, tetapi dijalani, dihirup, dan kadang-kadang… perlahan dilupakan.
Dari masa kecil hingga hari ini, saya melihat pasang surut itu dengan mata kepala sendiri. Dulu, kebudayaan terasa seperti tanah yang kita pijak kokoh, dekat, dan tidak perlu dipertanyakan. Namun sejak masyarakat mulai mengenal alat komunikasi, sejak dunia luar masuk melalui layar kecil di genggaman, sejak media sosial menjadi ruang baru untuk mencari pengakuan, sesuatu mulai bergeser. Tidak langsung runtuh, tapi retak. Tidak terlihat kasar, tapi terasa asing.
Anak-anak muda yang seharusnya berdiri di dalam koridor kebudayaan justru mulai berjalan keluar darinya kadang tanpa sadar, kadang dengan bangga. Ada kegelisahan yang sulit dijelaskan, bagaimana sesuatu yang dulu begituu sakral kini diperlakukan seperti pilihan opsional. Bukan karena mereka tidak mampu memahami, tapi karena mereka tidak lagi merasa memiliki.
Di titik itulah, pesta panen di Sicini menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia berubah menjadi ruang refleksi tempat di mana saya melihat benturan antara masa lalu yang penuh makna dan masa kini yang serba cepat. Bukan untuk menolak perubahan, tapi untuk bertanya: sampai di mana kita rela kehilangan diri sendiri?
Sayup-sayup terdengar suara ani-ani dari balik pematang sawah, bersahutan dengan desir angin yang mengembus perlahan. Pagi itu, Ibu memetik padi muda yang kelak ditumbuk dalam pesta panen sebuah ritus yang bukan sekadar kegiatan agraris, melainkan ruang pembelajaran kultural yang hidup.
Pesta panen, atau angngalle pare lolo, yang rutin digelar antara Juli hingga Agustus, merupakan manifestasi dari apa yang dalam kajian antropologi disebut sebagai cultural reproduction proses pewarisan nilai, norma, dan pengetahuan lintas generasi. Sejak pagi, warga kampung berbondong ke sawah: perempuan memetik, laki-laki mengikat dan memikul. Pembagian peran ini bukan sekadar teknis, tetapi merupakan bentuk pendidikan sosial berbasis praktik, sebagaimana dijelaskan dalam teori experiential learning oleh David Kolb bahwa manusia belajar melalui pengalaman langsung.
Proses mengikat padi, atau anynyikko’, menjadi semacam kurikulum tak tertulis bagi anak bujang. Keterampilan ini bukan hanya soal teknik, tetapi juga simbol kesiapan sosial menuju fase dewasa. Dalam perspektif pendidikan tradisional, ini adalah bentuk hidden curriculum nilai-nilai yang tidak diajarkan secara formal, tetapi tertanam melalui kebiasaan dan praktik kolektif.
Padi yang diikat, parebbasse’, lalu diangkut melalui proses a’lembara’, menjadi simbol kerja keras dan solidaritas. Di sini, gotong royong bukan slogan, tetapi habitus meminjam istilah Pierre Bourdieu yakni pola tindakan yang terbentuk secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat.
Di rumah, padi ditumbuk bersama. Aktivitas ini menghadirkan ruang komunal yang sarat makna: kerja bersama, berbagi, dan rasa syukur. Dalam perspektif Emile Durkheim, momen ini dapat dilihat sebagai bentuk collective effervescence ledakan energi sosial yang memperkuat kohesi dan solidaritas kelompok.
Setiap tahapan pengolahan pare lolo mencerminkan pengetahuan lokal yang presisi: dari pemilihan umur padi hingga teknik sangrai. Ini adalah bentuk indigenous knowledge system, yang seringkali diabaikan oleh modernitas, padahal memiliki logika dan rasionalitasnya sendiri. Pengetahuan ini tidak lahir dari buku, tetapi dari waktu dari kesabaran generasi yang mengamati, mencoba, gagal, lalu memperbaiki.
Hiburan paddekko yang mengiringi pesta panen bukan sekadar tontonan. Ia adalah ekspresi estetika yang mengandung struktur ritmis dan makna simbolik. Bagi yang awam, mungkin tampak kacau. Tapi di balik itu, ada harmoni yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang hidup dalam kebudayaan tersebut. Ini sejalan dengan teori Clifford Geertz tentang budaya sebagai “web of meaning” jaringan makna yang harus ditafsirkan, bukan dihakimi.
Permainan barutu yang dimainkan perempuan memperkuat dimensi partisipasi kolektif. Ia bukan hanya hiburan, tetapi juga bentuk representasi peran perempuan dalam produksi budaya. Bahkan dalam konteks pernikahan, barutu hadir sebagai simbol transformasi dari padi menjadi tepung, dari individu menjadi bagian dari institusi keluarga.
Namun modernisasi datang dengan logika efisiensi yang dingin. Mesin menggantikan tangan, uang menggantikan ketulusan. Gotong royong perlahan tergeser oleh transaksi. Dalam perspektif teori modernisasi, ini adalah konsekuensi dari pergeseran masyarakat tradisional menuju masyarakat rasional-instrumental. Tapi di titik ini, yang hilang bukan sekadar metode kerja melainkan makna.
Motor ojek gabah menggantikan bahu manusia. Cepat, praktis, dan… sepi. Tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi peluh bersama. Yang tersisa hanyalah angka. Bahkan dalam beberapa momen, saya melihat anak-anak muda lebih sibuk merekam daripada merasakan seolah pengalaman harus divalidasi oleh layar sebelum diakui sebagai kenyataan.
Di sinilah kegelisahan itu kembali menemukan bentuknya. Ketika budaya tidak lagi menjadi ruang hidup, tetapi sekadar konten. Ketika tradisi direduksi menjadi estetika tanpa makna. Kita mungkin masih memiliki bentuknya, tapi perlahan kehilangan ruhnya.
Meski demikian, upaya menghidupkan kembali pesta panen di dataran tinggi Gowa menunjukkan bahwa budaya tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu untuk diingat kembali. Melalui revitalisasi ini, generasi muda diperkenalkan kembali pada identitas mereka bukan lewat ceramah, tetapi melalui pengalaman. Ini adalah bentuk culturally responsive pedagogy, di mana pendidikan berakar pada konteks budaya lokal.
Mungkin gotong royong tanpa pamrih tidak akan kembali utuh seperti dulu. Tapi dengan merayakan pesta panen, masyarakat sedang membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan. Mereka sedang mengajarkan bahwa nilai tidak selalu bisa diukur dengan uang, dan bahwa kebersamaan adalah energi yang tak lekang oleh zaman.
Paddekko, pare lolo, dan barutu bukan sekadar tradisi. Mereka adalah teks hidup yang jika dibaca dengan benar, mengajarkan kita tentang manusia, tentang syukur, dan tentang cara menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Dan bagi saya, sebagai anak kampung yang tumbuh bersama semua itu, menjaga tradisi bukan soal romantisme masa lalu tetapi soal keberanian untuk tidak kehilangan arah di tengah dunia yang terlalu cepat berubah.








































