Oleh: Fajlurrahman Jurdi*
Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Saya baru sempat menulis. Sederhananya, saya baru “sembuh”, sehingga baru bisa menulis tentang guru saya, mendiang Almarhum Prof Marwati, perempuan bersahaja, yang sifat ke-ibu-annya lebih dominan, sensitif perasaannya, baik hatinya, lembut tuturnya, mengayomi sikapnya, dan senyum ramahnya yang selalu merekah.
Minggu lalu, ia pergi untuk selamanya, tanpa tanda, tanpa signal, dan tanpa pemberitahuan. Begitulah cara kerja takdir, ia datang dan pergi, menjemput dan mengantar, ia hilang tak berjejak, meskipun yang ia jemput meninggalkan sejuta kenangan, rindu yang bikin sesak, serta cerita yang kadang tiada habis. Bagi orang-orang terdekat, kepergian seseorang menyimpan luka yang butuh waktu untuk sembuh, sebab memori akan terus diputar ulang seiring dengan berjalannya waktu.
“Akhirnya kita bisa sekolah dek”, katanya dengan wajah sumringah sekita dua tahun lalu. Seperti ada kegelisahan yang panjang, beliau “meneror” saya untuk terus sekolah. Setiap kali bertemu, berpapasan, atau dalam hal apa saja, pertanyaan pertama yang keluar adalah, “jadi bagaimana mi?, kapan mi lanjut ki kodong”. Katanya dengan nada serius meskipun sambil tertawa ringan.
Setelah melihat nama saya terdaftar, bahagianya luar biasa. Siapa mi jadi promotor ta nanti”, katanya. “Tapi siapapun itu, yang penting sudah sekolah mi ki, semoga saya menjadi salah satu tim, meskipun tim penguji, katanya dengan penuh harap. “Saya mengikut keputusan pimpinan saja Prof”, sahut saya.
Prof Wati, begitu biasa disapa, lahir pada tanggal 24 Agustus 1964, merupakan guru besar hukum Tata Negara Fakultas Hukum Unhas. Mantan Ketua Departemen HTN, dan terakhir sebelum wafat, merupakan ketua Prodi S3 Ilmu Hukum Fakultas Unhas.
Beberapa bulan lalu, suaminya meninggal tiba-tiba. Bagi civitas akademika Fakultas Hukum, kepergian suaminya adalah merupakan patah yang luar biasa bagi Prof. Mereka telah hidup bersama puluhan tahun, dan mendiang suami beliau adalah suami siaga, seluruh kebutuhan Prof Wati diurus oleh suaminya. Antar-jemput, kemanapun beliau pergi, suaminya selalu mendampingi. Maka saat suaminya pergi, saya merasakan, akan panjang luka yang ditanggung Prof.
Saat jenazah suaminya di rumah duka, saya datang agak pagi, masuk ke dalam, mengambil tempat pas disamping Prof Wati. Belum banyak orang yang datang, sehingga saya sempat ngobrol berdua meskipun gak lama. “Gak adami ayahnya Abim pak Fajlur”, katanya dengan isak yang dalam. “Sabar ki Prof, insya Allah beliau husnul Khatimah”, kata saya menguatkan.
Saya menyaksikan, tatapan beliau kosong, kehilangan yang luar biasa. Bagaimana tidak, hidup dengan cinta yang penuh, dari laki-laki yang mentasbihkan seluruh hidupnya untuk perempuan yang ia cintai, menjaga dengan segenap hati, mengusahakan segala yang ia bisa, untuk merawat cinta yang tiada tara itu. Prof Wati memperoleh cinta yang mewah dari lelaki yang luar biasa, dan lelaki itu sedang terbujur kaku di depannya.
Beberapa kali saya menemukan orang-orang yang terluka gak bisa menangis, bukan karena gak ada yang tidak bisa ditangisi, tetapi perihnya luka yang dia alami, menyebabkan air mata berhenti menetes. Saat itu, orang seperti ini kelihatan tenang dari luar, tetapi dari dalam, ia rapuh, se-rapuh bangunan kertas yang di terpa angin sepoi. Hancur, berantakan, dan acakan.
Setelah meninggal suaminya, kami masih sering ngobrol. Dia tipe senior yang egaliter, gak punya batas. Caranya, tuturnya, sifatnya, dan kerendahan hatinya, adalah permata yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Prof Wati, menjadi guru, kakak, kolega sekaligus ibu yang menghubungkan relasi intelektual yang luar biasa.
Arini Nur Annisa, keponakannya yang dia harapkan menjadi pewaris pemikirannya, yang juga dosen muda di Fakultas Hukum, menjadi teman menulisnya. Arini tipe pembelajar yang baik, berdua dengan Prof Wati, ia telah menulis beberapa buku. Dan Prof Wati bahagia sekali, saat buku terakhirnya terbit di Prenada Media. “Hukum Pelayanan Publik”. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Mas Helmi, karena berkali-kali menampung beberapa penulis muda di Fakultas Hukum. Sebagai penerbit mayor, mereka berani membesarkan penulis muda.
Minggu lalu, saya tiba di Fakultas, duduk di ruang departemen HTN, sambil menghempaskan tas tua yang isinya gak pernah berubah. Macbook tua yang hampir penuh, cas HP dan kadang air mineral. Itulah “penduduk” yang menetap di dalam tas, bertahun-tahun, hingga sobek di bagian bawahnya. Di bagian belakang ruangan, mahasiswa masuk, namanya Budi, sambil senyum yang ia paksakan. Saya membuka sepatu, menarik kursi, duduk tenang sambil memikirkan, Warkop mana lagi setelah ini. Sebagai warga café dan Warkop di sepanjang Tamalanrea, saya menikmati menulis dan duduk termenung di Café. Dan beberapa café ini tau persis apa yang ingin saya minum. Kopi panas, atau es kopi gula aren.
“Bagaimana kabar Budi”, Tanya saya memecah kesunyian. “Baik pak, jawabnya datar”. Mana Bu Eka dan Pak Zulfan atau bu Feny, Tanya saya. Mereka bertiga adalah tiga serangkai yang tak bisa dipisahkan, warga tetap yang menguasai seluruh sudut ruangan, dari depan sampai belakang. “Ke Rumah sakit pak, Prof Wati Jatuh kayaknya”, jawabnya. “Waduh, RS Mana?”, Tanya saya. “RS Wahidin Pak”, jawab budi.
Untuk memastikan, saya telpon Bu Eka, Sekretaris departemen yang sudah disana. “Dimana Prof”, Tanya saya. “Di RS Unhas”, katanya. Saya Telpon Juga Pak Zulfan, jawaban yang sama saya dapatkan.
“Budi, ayo temani saya ke RS Unhas, kita jalan kaki saja”, kata saya.
Akhirnya kami sampai di RS. Disana sudah ada pimpinan Fakultas, tendik dan juga Plt. Rektor UNM, Prof Farida yang juga sekaligus sebagai Wakil Rektor Unhas. Tak selang beberapa lama kami tiba, rombongan dari Fakultas Hukum pulang, karena saat itu, belum bisa ditemui karena beliau belum sadar. Setelah rombongan pergi, saya ngobrol sama Arini. Ternyata Prof Wati datang periksa dirinya di RS, dan saat pemeriksaan itu beliau tak sadarkan diri.
Saat kami berbincang, tim dokter keluar, lalu menjelaskan kondisinya; “Saturasinya sudah naik ke 95 atau 96, katanya. Tadi Saturasinya sekitar 40an”, katanya. Saya mengobrol tidak terlalu dengan Arini, karena beliau belum bisa dijenguk, akhirnya saya dan Budi pamit pulang. Nanti sore rencana datang lagi, semoga Prof sudah bisa dijenguk.
Balik ke Fakultas, kami melaksanakan kegiatan seperti biasa. Saya habis duhur, keluar cari kopi, hingga sore, dan menjemput Adelard di sekolah. Rutinitas harian sepanjang pekan, antar jemput, ngajar, ngopi. Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya gak megang HP, karena keadaan yang macet. Sampai di rumah, ternyata sudah beredar berita duka. “Inaalillahi wainna ilaihi raajiun, telah wafat Prof. Dr. Marwati., SH., M.Si. Hampir semua group, ucapan duka itu sudah viral. Hampir semua teman memasang pula di story WA-nya.
Saya menarik nafas, duduk bersandar di sofa, lalu tanpa diundang air mata saya menetes. “Prof Wati menyusul suaminya”, gumam saya dalam hati.
Prof Wati meninggalkan civitas akademika Fakultas Hukum, tanpa tanda. Tapi cerita Arini di rumah duka, almarhumah menunjukan tanda-tanda beberapa hari sebelumnya, meskipun tidak ditangkap sebagai tanda. Misalnya, selalu mengulang kalimat kepada Arini, “tidak ada yang kuharap melanjutkan saya itu selain kita?”. Atau kalimat “Cepat urus sekolahmu, nanti tidak ada ka itu”, atau kalimat serupa yang bisa saya tangkap dari cerita Arini. Atau malam sebelum beliau jatuh, Arini menceritakan beliau sulit tidur dan menelpon keponakannya itu tengah malam dan “curhat” karena gak bisa tidur.
Saya sudah membayangkan sejak kepergian suaminya, Prof Wati akan melewati hari-hari yang berat, sebab ikatan batin antara keduanya terlalu kuat untuk dipisahkan secara tiba-tiba. Dan efeknya “separuh jiwa” nya yang pergi dengan jejak luka yang tak sederhana.
Prof. Wati, selamat jalan. Selamat memetik buah yang engkau tanam, ilmu yang engkau tabur, merupakan amal jariyah yang tak akan pernah berhenti mengirimkan kebaikan kepadamu. Tak ada yang abadi, semua akan pergi, jika sudah waktunya tiba. Manusia akan bergilir, kaya-miskin, lahir-mati, luka-bahagia, tua-muda, atau sederet pasangan kata yang relate dengan kehidupan kita, adalah tanda, betapa Allah akan memutar kehidupan ini seperti roda. Mereka yang terlebih dahulu pergi menghadap sang pencipta, adalah mereka yang sudah selesai menunaikan tugas kekhalifahannya. Prof Wati sudah selesai dengan tugas itu, karena itu Allah menjemputnya. Selamat bertamasya di taman-taman Surga yang Tuhan janjikan, menanti kami yang datang belakangan Prof.
*) Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin







































