Beranda Mimbar Ide MENGAPA HARUS “MAKAN GRATIS”?

MENGAPA HARUS “MAKAN GRATIS”?

0

Oleh : Muhammad Suardi Husain

(Catatan seorang rakyat untuk bangsanya

Agustus 2026)

—————————————————

Tulisan ini bukan untuk melawan pemerintah.

Bukan pula untuk menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Saya adalah rakyat yang tentu berharap pemerintah berhasil menjalankan setiap amanahnya dan membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik.

Justru karena itulah saya merasa perlu menyampaikan pandangan ini.

Bukan sebagai penolakan.

Tetapi sebagai sumbangsih.

Sudah cukup lama pertanyaan ini saya simpan.

Dan mungkin momentum bulan kemerdekaan adalah waktu yang tepat untuk menyampaikannya.

Saya hanya ingin mengajak kita semua berhenti sejenak dan berpikir.

Mengapa harus disebut “Makan Gratis”?

Bukankah makanan itu sebenarnya tidak gratis?

Yang membayar adalah negara.

Dan uang negara pada akhirnya adalah uang rakyat.

Ketika sebuah program menggunakan anggaran negara dalam jumlah yang sangat besar, mengapa harus menggunakan kata “gratis”?

Bagi saya, persoalannya bukan sekadar sebuah kata.

Kata gratis dalam kehidupan sehari-hari sering melekat pada sesuatu yang diberikan cuma-cuma, promosi, atau sesuatu yang tidak perlu dihargai setinggi sesuatu yang kita beli dengan uang sendiri.

Karena itu saya bertanya:

Mengapa sebuah program yang katanya ditujukan untuk membangun kualitas generasi bangsa justru diberi label “gratis”?

Mengapa bukan nama yang sejak awal menunjukkan nilai dan tujuan besarnya?

Misalnya:

Program Gizi Anak Indonesia. 

Program Nutrisi Generasi Indonesia.

Program Investasi Gizi Anak.

Bukankah terasa berbeda?

Karena bagi saya, anak Indonesia bukan objek pemberian.

Mereka adalah manusia yang sedang dipersiapkan untuk menjadi generasi penerus bangsa.

——————————————

LALU, APA SEBENARNYA YANG SEDANG KITA INVESTASIKAN? 

Satu porsi makanan dimakan.

Habis.

Dalam hitungan jam.

Besok harus disediakan lagi.

Lusa lagi.

Dan seterusnya.

Saya tidak mengatakan makanan bergizi tidak penting.

Tentu sangat penting.

Yang saya pertanyakan adalah:

Apakah ratusan triliun rupiah merupakan cara paling tepat dan paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut? 

Apakah sudah ada data yang menunjukkan seberapa besar MBG meningkatkan status gizi anak?

Apakah ada data yang menunjukkan dampaknya terhadap kesehatan? 

Apakah ada penelitian yang membuktikan peningkatan prestasi belajar siswa setelah mendapatkan makanan bergizi tersebut?

Dan yang tidak kalah penting:

Dari seluruh anggaran yang sangat besar itu, berapa yang benar-benar menjadi makanan yang dimakan anak, dan berapa yang menjadi biaya pengelolaan, distribusi, administrasi, tenaga kerja, dan seluruh ekosistem program? 

Kalau kita menyebutnya investasi, maka kita juga berhak bertanya:

Apa hasil investasi itu dalam jangka panjang?

——————————————

SEMAKIN BESAR ANGGARANNYA, SEMAKIN BESAR TANGGUNG JAWABNYA 

Ada satu hal lain yang menurut saya tidak boleh diabaikan.

Program dengan anggaran yang sangat besar membutuhkan transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan yang luar biasa kuat.

Bukan untuk mencurigai siapa pun.

Tetapi karena semakin besar uang rakyat yang dikelola, semakin besar pula tuntutan untuk memastikan setiap rupiah benar-benar sampai pada tujuan.

Jangan sampai besarnya anggaran justru membuka ruang bagi

penyalahgunaan yang pada akhirnya merugikan rakyat dan anak-anak yang seharusnya menerima manfaat. 

Karena uang yang kita bicarakan bukan uang tanpa pemilik. 

Itu uang rakyat.

Dan setiap rupiahnya harus dapat dipertanggungjawabkan.

——————————————

KITA JUGA TIDAK BOLEH MENUTUP MATA 

Dalam pelaksanaan MBG, telah muncul sejumlah laporan mengenai gangguan kesehatan dan dugaan keracunan yang dialami penerima manfaat.

Ini tentu bukan alasan untuk menolak program.

Tetapi justru menjadi alasan untuk bertanya:

Apakah sistem pengadaan, pengolahan, distribusi, pengawasan, dan standar keamanan pangannya sudah benar-benar mampu menjamin kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak kita?

Kalau sebuah program menggunakan anggaran luar biasa besar dan menyangkut jutaan anak, maka standar keberhasilannya tentu tidak boleh berhenti pada:

“Anak sudah makan.”

Standarnya harus jauh lebih tinggi:

Anak sehat.

Anak bergizi.

Anak tumbuh baik.

Anak belajar lebih baik.

Dan pada akhirnya menjadi manusia Indonesia yang berkualitas.

——————————————

LALU, APA ALTERNATIFNYA? 

Saya mencoba membayangkan:

Bagaimana jika sebagian besar sumber daya sebesar itu juga digunakan untuk membangun ekosistem sekolah yang sehat, nyaman, dan produktif?

Bangunan sekolah diperbaiki.

Laboratorium dilengkapi.

Perpustakaan dibangun.

Lapangan sekolah diperbaiki.

Sanitasi dibenahi.

Fasilitas belajar ditingkatkan.

Teknologi pendidikan diperkuat.

Guru diberikan penghargaan dan kesejahteraan yang lebih baik.

Tenaga kebersihan sekolah diberikan penghasilan yang layak.

Dan ada satu hal lagi yang menurut saya sangat menarik:

——————————————

Bangun dan sediakan KANTIN SEHAT di setiap sekolah.

Kantin yang bersih.

Kantin yang sehat.

Kantin yang menyediakan makanan bergizi dengan standar yang jelas. 

Bukan hanya siswa yang makan di sana.

Guru, tenaga kependidikan, dan seluruh orang yang bekerja di lingkungan sekolah juga dapat makan di kantin sehat tersebut.

Dengan begitu, negara bukan hanya menyediakan makanan.

Negara sedang membangun budaya makan sehat di lingkungan sekolah.

——————————————

KANTIN SEHAT BISA MENJADI EKOSISTEM EKONOMI 

Bayangkan jika setiap sekolah memiliki kantin sehat yang dikelola dengan standar yang baik.

Ada orang yang memasak.

Ada tenaga pelayanan.

Ada tenaga kebersihan.

Ada pemasok bahan makanan.

Ada petani yang memasok beras dan sayuran.

Ada peternak yang memasok telur dan daging.

Ada nelayan yang memasok ikan.

Ada UMKM yang menjadi bagian dari rantai pasok.

Ada usaha lokal yang tumbuh.

Artinya, uang negara tidak hanya berubah menjadi makanan yang selesai dimakan dalam hitungan jam.

Sebagian dari uang itu dapat berputar menjadi:

lapangan kerja,

pendapatan petani,

pertumbuhan UMKM,

penguatan ekonomi lokal,

dan ekosistem pangan yang lebih sehat.

Bukankah itu juga sebuah investasi?

Bahkan mungkin investasi yang manfaatnya dapat dirasakan jauh lebih panjang.

——————————————

KONSUMSI ATAU INVESTASI? 

Makanan tentu dibutuhkan.

Tetapi makanan adalah konsumsi yang berulang.

Sementara sekolah yang diperbaiki akan tetap berdiri.

Laboratorium yang dibangun akan terus digunakan.

Perpustakaan akan tetap menjadi tempat belajar.

Lapangan sekolah akan digunakan oleh generasi berikutnya.

Kantin sehat dapat terus menciptakan pekerjaan dan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi.

Guru yang lebih sejahtera dapat mengajar dengan lebih baik.

Dan semua itu bisa memberikan manfaat bertahun-tahun, bahkan lintas generasi.

Itulah yang menurut saya lebih dekat dengan makna investasi.

Bukan berarti makanan bergizi tidak penting.

Justru karena makanan bergizi penting, kita perlu memikirkan cara terbaik dan paling berkelanjutan untuk menyediakannya.

——————————————

SAYA BUKAN MENOLAK 

Saya kembali pada awal tulisan ini.

Saya bukan sedang melawan pemerintah.

Saya bukan sedang menolak MBG.

Saya juga tidak merasa memiliki semua jawaban.

Saya hanya seorang rakyat yang mencoba menyampaikan kegelisahan dan gagasan.

Karena ketika negara menggunakan uang rakyat dalam jumlah yang sangat besar, rakyat juga memiliki hak untuk bertanya.

Bertanya bukan berarti melawan.

Mengkritisi bukan berarti membenci.

Memberi alternatif bukan berarti menolak.

Kadang-kadang, kecintaan kepada bangsa justru membuat kita berani bertanya.

Dan saya memilih bertanya sekarang.

Di bulan ketika kita kembali merayakan kemerdekaan Indonesia.

—————————————— 

PERTANYAAN SAYA SEDERHANA 

Kalau anak-anak Indonesia adalah masa depan bangsa…

Kalau mereka adalah manusia yang kelak akan menjadi guru, dokter, pengusaha, teknisi, petani, pemimpin, ilmuwan, dan berbagai profesi lainnya…

Kalau mereka adalah aset bangsa yang akan menentukan Indonesia puluhan tahun dari sekarang…

Mengapa kita membingkai mereka sebagai penerima “makan gratis”?

Mengapa tidak sejak awal kita mengatakan kepada mereka:

Negara sedang berinvestasi kepada kalian.

Karena pada akhirnya…

ANAK INDONESIA BUKAN OBJEK PEMBERIAN GRATIS. 

MEREKA ADALAH INVESTASI BANGSA.

Facebook Comments Box