Home Mimbar Ide Indonesia Raya dalam Bioskop

Indonesia Raya dalam Bioskop

52
0
SHARE

Oleh : Haidir Fitra Siagian*

Kami begitu bersemangat menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya saat itu. Tak ada komando tak ada diligent. Seratus lebih pelajar Indonesia tumpah ruah di depan panggung kehormatan Dewan Gemilang Kampus Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor Darul Ehsan. Tanpa perintah, berlangsung sepontan saja, sembilan tahun silam, Oktober 2011.

Pertama kali kami menyanyikan lagu ciptaan WR Supratman tersebut. Begitu kompak begitu sahdu. Setelah selesai lagu tersebut, disusul dengan lagu-lagu perjuangan Indonesia dan lagu wajib lainnya. Ada lagu Satu Nusa Satu Bangsa, Rayuan Pulau Kelapa, Nyiur Melambai, Padamu Negeri dan seterusnya. Saya sendiri merinding saat itu, berdiri bulu romaku, ikut menyanyi lagu-lagu Indonesia sepuas-puasnya meski tanpa iringan musik.

Kami pelajar Indonesia dari Sulawesi Selatan ikut larut dalam kegiatan ini. Semunya ikut menyanyi dengan riang gembira. Saya ingin menyebut beberapa diantaranya yang masih saya ingat adalah ustadz Dasad Latif, Muhlis Hadrawi, Wahyuni Ismail, Supiana Supiana, dan lain-lain.

Saat itu kami pelajar Indonesia, baru saja dinobatkan sebagai juara umum Pesta Juadah Antar Bangsa atau lomba makanan Internasional di Universiti Kebangsaan Malaysia. Dengan menyajikan makanan khas Indonesia, termasuk makanan khas Bugis Makassar Mandar, yakni coto, barongko dan pisang ijo, kami mengalahkan peserta dari pelajar-pelajar negara-negara lain dari kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika dan Eropa.

Biasanya jika lomba internasional resmi, ada menyanyikan lagu kebangsaan bagi negara yang juara. Kali ini tidak, karena lomba ini memang sifatnya lebih kepada silaturahmi saja. Walaupun demikian, begitu Indonesia ditetapkan sebagai juara umum, secara spontan kami menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Orang lain dan panitia heran, kami tak peduli.

Kami sangat bangga membawa harum nama Indonesia di kancah internasional. Kami pun sangat gembira saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sudah jarang kami menyanyikannya. Begitu ada kesempatan, langsung tanpa komando nyanyi bersama. Terasa kerinduan kepada Indonesia saat itu karena berada di negeri orang.

Untuk kedua kalinya kami menyanyikan lagu Indonesia Raya di Malaysia adalah pada bulan Juli 2014. Bertempat di Perdana Cancelori, atau persis di ruangan Rektorat Universiti Kebangsaan Malaysia. Saat itu ada Pak SYL selaku Gubernur Sulawesi Selatan, membawakan syarahan perdana atau kuliah di depan sivitas akademika UKM, pengurus PPI UKM, pelajar-pelajar Indonesia dari berbagai provinsi termasuk dari Sulsel.

Sebelum membawakan kuliah umum, terlebih dahulu menyanyikan lagu kebangsaan kedua negara, Malaysia dan Indonesia. Saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan, saya melihat teman-teman dari Indonesia menyanyikannya dengan antusias dan penuh semangat. Ada herotisme tersendiri saat menyanyikannya. Saya sendiri sampai merinding lagi, saat menyanyikan itu. Demikian pula dengan yang lain. Ada Bang Naj M. Rasul, Bang Aji Tono, dan lain.

Baca Juga  Begini Pesan Danny Pomanto Untuk Seluruh Jajaran Pemkot Makassar Jelang Cuti

Pada hari ini terdapat imbauan dari pemerintah untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya di bioskop-bioskop. Sejatinya saya sangat senang dengan imbauan tersebut. Namun baru satu hari dikeluarkan imbauan tersebut, sudah ditarik kembali. Entah apa alasannya. Menurut saya ini kurang tepat. Ada inkonsistensi dalam hal ini. Ini kedua kalinya imbauan menteri dicabut. Dulu awal periode, ada imbauan atau larangan dari menteri agar instansi pemerintah jangan mengadakan acara di hotel, agar menghemat anggaran negara. Lalu hal itu dicabut kembali. Saya kecewa karenanya.

Kembali kepada tema di atas. Seharusnya imbauan tersebut jangan dicabut. Jika ada kekeliruan atau kesalahan ketik, misalnya, diperbaikilah. Jika ada aturan yang dilanggar, revisilah aturan tersebut agar membolehkannya. Jangan dicabut.

Menurut saya justru harus diperluas. Jangan hanya di bioskop saja. Bahkan bila perlu di tempat-tempat umum lainnya. Namanya juga imbauan, tentu tidak menjadi satu kewajiban. Jika dilaksanakan menjadi OK, jika tidak dipatuhi tentu tak perlu dianggap tidak cinta NKRI.

Saya memandang esensi suatu lagu. Lagu penting untuk menghibur diri. Juga menambah semangat dan kepercayaan diri. Justru sejatinya lagu adalah menambah semangat dan kecintaan kepada satu objek. Dengan menyanyikan sebuah lagu, memberi arti penting kepada yang menyanyikan dan bagi yang mendengarkannya.

Jika tujuan awal imbauan menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam bioskop itu adalah untuk meneguhkan kecintaan kepada negara, menyatukan perbedaan politik, menegaskan sikap kepada NKRI, saya setuju. Karena dengan menyajikan lagu kebangsaan ini di bioskop dan pada saatnya diperluas ke tempat lain, dapat mengingatkan kita semua kepada tujuan dan cita-cita para pendahu kita saat memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.

Kemerdekaan yang diperjuangkan bersama oleh semua elemen yang ada. Dipertahankan bersama. Diisi bersama. Dijaga bersama. Dinikmati bersama. Tanpa ada yang menonjolkan ego satu pihak apalagi jika harus menganggap pihak lain adalah salah.***
Wallahu’alam.

Bakung Samata Gowa
02 Februari 2019

*) penulis adalah dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar

Facebook Comments