Home Mimbar Ide Gaji Buzzer

Gaji Buzzer

0
Furqan Jurdi
ADVERTISEMENT

Oleh : Furqan Jurdi*

Sungguh beruntung jadi pemuja kekuasaan di Negara ini. Cukup memuja penguasa, kemudian Menghina dan memfitnah orang-orang yang mengkritik rezim, dapat gaji.

Tidak tanggung-tanggung, mereka dibayar pake uang Rakyat, pake uang pajak, pake uang sumber daya alam dll. Uang APBN itu lho.

ADVERTISEMENT

Rakyat diperas dengan iuran yang mencekik, harga tarif listrik yang tinggi, bayar tol yang mahal dan beribu jenis harga mahal lainnya. Di negara ini Rakyat dipalak, Buzzer dibayar.

Fungsi Buzzer adalah memprovokasi, membuat gaduh dan membully suara rakyat yang mengkritik penguasa. Mereka diternak dalam satu ruang bersama kekuasaan.

Kata Haris Azhar “Uang Rakyat digunakan buat bungkam rakyat”… Pantesan Buzzer cerewet, karena dapat gaji. Ironisnya dari APBN. Ngerik sekali.

Selain digaji, Buzzer juga kebal hukum. bebas menghina siapa saja, memfitnah ulama dan umat Islam. Dilapor berulang kali,  tapi sia-sia.

Ada beberapa nama yang dilaporkan karena menghina suku, menghina ulama, menghina Islam, namun Buzzer milik penguasa, mereka kebal hukum.

Sungguh merdeka jadi Buzzer di Negara ini. Cukup bisa memuji dan memuja kekuasaan, dan menghina oposisi, memfitnah orang kritis, sudah digaji negara.

Beda nasib buzzer (pemuja kekuasaan) dengan pengkritik kekuasaan. Mereka kurang beruntung!. Mereka tidak bisa pura-pura, mereka jujur, tidak bisa berpura-pura akting layaknya buzzer.

Suara lantang mereka memekakkan telinga rezim. Rezim yang berkuping tipis, tak senang dengan kritikan mereka.

Tak tanggung-tanggung. Buzzer tinggal buat frame di media; makar dan ujaran kebencian. Pidana menanti!

Secepat kilat laporan masuk, proses marathon, langsung diadili, penjara tempatnya. Tidak ada yang lolos dari jeratan.

Negara ini negara para Buzzer. Kebenaran hanya bergantung pada suara Buzzer. Suara kritis dihajar, kejujuran difitnah, dan kebenaran dimusuhi.

Sungguh ironis! Tidak ada narasi, tidak ada argumentasi, semua berujung pada laporan. Kalau ada suara tajam dari rakyat, langsung dijemput dengan mobil patroli, dibuat frame di medsos, kalau itu: ujaran kebencian, makar terhadap pemerintah yang sah, anti pancasila, musuh NKRI.

Semua yang mengkritik rezim, lapor aparat penegak itu!

Tidak tanggung-tanggung, kalau ia ulama dan aktivis Islam, dituduh: Wahabbi, Teroris, Isis, musuh Pancasila, penganut Khilafah, Islam Radikal, dan seterusnya. Dan seterusnya mereka dianggap musuh Pancasila, anti Bhineka dan ingin mengganti NKRI.

Itulah narasi Buzzer di media sosial untuk membungkam suara kritis. Fitnah buzzer ini telah membuat gaduh seisi negeri.

Patroli aparat di medsos untuk mencari celah mengkriminalisasi siapa yang direkomendasikan Buzzer untuk ditangkap.

Semua dihina, semua difitnah. Kalau kita catat nama-nama yang dihina, mungkin tidak cukup satu artikel. Buzzer kata Rizal Ramli, “Sampah Peradaban”.

Selain menghina, buzzer juga bekerja untuk mencuri akun-akun milik oposisi. Hanya sebagian kecil yang lolos dari pencurian akun ini.

Sungguh sukses negeri ini membina Buzzer. Kesuksesan sudah dapat kita lihat. Akal-akal rasional disingkirkan, suara-suara kritis dimusuhi, sementara akal bulus dibina dan suara pemuja dijaga.

Struktur Buzzer jelas, ada Kakak pembina hingga akun cabong yang merangkak. Semua dibina untuk memfitnah. Bagai negara, ia punya struktur dan kerja yang rapi. Tentu dengan gaji yang fantastis. Dari APBN!

Inilah negara yang memusuhi akal sehat dan membina akal bulus. Inilah negara yang memusuhi kecerdasan dengan merawat kedunguan.

Negara dikelola secara amatiran, para pembantu penguasa hanya disarankan merawat Buzzer (kedunguan) untuk melindungi diri dari nasehat (akal sehat).

Inilah zaman kegelapan ilmu pengetahuan, orde kedunguan, dan krisisnya kebebasan. Demokrasi hanya boleh dibicarakan di dalam kamar kekuasaan, tidak boleh dibicarakan di mimbar akademis, apalagi disampaikan di jalanan.

Ruang publik kita pengap dengan kata-kata Buzzer, kalau tidak menghujat, memfitnah, membully dan berbagai bentuk kejahatan di media sosial adalah ulah Buzzer.

Kita berada diambang krisis. Krisis narasi, krisis akal sehat, krisis pencerahan, krisis intelektual. Kalau sudah demikian bangsa ini akan tertinggal jauh dari Bangsa-Bangsa lain.

Dan kita sedang mundur 3 abad kebelakang!

Sekian
Wassalam.

*) Penulis adalah Ketua Pemuda Madani dan Ketua Lembaga Dakwah DPP IMM

Facebook Comments
ADVERTISEMENT